Breaking News

Diduga Jadi Sumber Polusi Jakarta, 161 Unit Usaha Diperiksa KLHK Bertahap dalam 5 Pekan

Polusi udara di Jakarta. (Ilustrasi/ net)

WELFARE.id-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan indikasi pelanggaran dari 351 unit usaha di Jabodetabek. Unit usaha tersebut diduga sebagai sumber polusi.

Menteri KLHK Siti Nurbaya Bakar bakal memprioritaskan penanganan pada 161 unit usaha pada tahap awal untuk menekan pencemaran udara di Ibu Kota. "Dalam catatan kami ada 351, termasuk PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel),” ujarnya, dikutip Rabu (6/9/2023).

Pemeriksaan terhadap unit usaha tersebut ditargetkan rampung lima pekan mendatang. Ia mengaku sudah menyampaikan hal tersebut kepada Dirjen Penegakkan Hukum (Gakkum) KLHK Rasio Ridho Sani.

"Yang prioritas ditangani 161. Saya minta Dirjen selesaikan dalam waktu lima pekan dari tanggal 28 (Agustus) kemarin,” ujarnya.

Sejauh ini, Satgas telah memeriksa 18 unit usaha. Sebanyak 11 unit usaha di antaranya telah dikenakan sanksi administrasi. 

Siti menambahkan, pengawasan difokuskan di kawasan dengan kualitas udara konsisten buruk seperti Lubang Buaya. "Kami mengamati Lubang Buaya selalu tidak sehat,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pihaknya mempersiapkan operasi lapangan ke-48, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan PLTD yang independen. "PLTU jelas karena sudah ada laporannya. PLTD sedang kami pelajari bersama pemda se-Jabodetabek. Ini penting agar kami punya pemetaan sumbernya dari mana,” imbuhnya.

Sementara itu, Analyst Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) Katherine Hasan menilai, kebijakan WFH tidak menyentuh akar permasalahan polusi udara. Menurutnya, pengurangan perjalanan secara lokal dengan WFH tak akan menyelesaikan masalah.  

Ia menilai Pemprov seharusnya fokus mengatasi sumber-sumber utama polusi udara di Jakarta. “Akar permasalahan polusi udara di Jakarta tidak bisa direduksi hanya pada satu sumber saja, seperti perjalanan pulang-pergi. Tidak ada penurunan polusi yang terukur selama WFH,” kata Katherine dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (6/9/2023).


Rincian Kualitas Udara Hari Ini


Kualitas udara di Jakarta Timur masuk kategori tidak sehat berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Lubang Buaya pada pukul 07.00-07.58 WIB, Rabu (6/9/2023). Hasil pemantauan pada aplikasi JAKI, di Jakarta, menunjukkan kualitas udara di Jakarta Timur tidak sehat dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 mencapai 110.

Umumnya, kualitas udara dinyatakan baik apabila pantauan ISPU di suatu wilayah kota menunjukkan angka di bawah 50. Dengan tingginya angka PM2,5 itu, maka anggota kelompok masyarakat yang sensitif terhadap kualitas udara berpotensi mengalami efek kesehatan, meskipun masyarakat umum tidak mungkin terpengaruh.

Selain Jakarta Timur, ISPU di wilayah kota Jakarta lainnya terpantau sedang, yakni Jakarta Pusat (99), Jakarta Utara (90), Jakarta Selatan (79).

Hanya Jakarta Barat yang terpantau memiliki kualitas udara yang baik, berdasarkan pemantauan ISPU di lokasi Kebon Jeruk, hari ini. Sementara itu, pada situs pemantauan IQ Air pada Kamis, pukul 07.00 WIB, Jakarta, diklasifikasikan sebagai kota nomor lima dengan pencemaran udara tertinggi di Indonesia.

Adapun indeks kualitas udara (IKU) di Jakarta, Indonesia mencapai 168, dinilai lebih tercemar dibanding Baghdad, Irak, dengan IKU 156. IKU di Jakarta tinggi karena konsentrasi PM2.5 saat ini sudah 17,9 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara WHO, dengan PM2,5 mencapai 89,6µg/m³, 03 mencapai 64.9µg/m³, dan sulfur dioksida (SO2) mencapai 11.2µg/m³.

Data kualitas udara diperoleh berdasarkan pantauan di 20 stasiun pemantau, di antaranya berada di Layar Permai (PIK), Jalan Raya Pejuangan (Kebon Jeruk), dan Jimbaran (Ancol). Sementara itu, pada situs pemantauan IQ Air, hari ini pukul 07.00 WIB, Jakarta, diklasifikasikan sebagai kota nomor tujuh dengan pencemaran udara tertinggi di dunia.

Adapun indeks kualitas udara (IKU) di Jakarta, Indonesia mencapai 152, dinilai lebih tercemar dibanding Chengdu, Tiongkok, dengan IKU 144. IKU di Jakarta tinggi karena konsentrasi PM2.5 saat ini sudah 11,4 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara WHO, dengan PM2,5 mencapai 57µg/m³.

Data kualitas udara diperoleh berdasarkan pantauan di 20 stasiun pemantau, di antaranya berada di Layar Permai (PIK), Jalan Raya Pejuangan (Kebon Jeruk), dan Jimbaran (Ancol). (tim redaksi)


#polusiudarajakarta

#kualitasudara

#WFH

#KLHK

#sumberpolusi

#pencemaranudara

#jakartatimurpalingtercemar

Tidak ada komentar