Breaking News

Alasan Geopolitik dan Kemudahan Koordinasi, Maroko Batasi Bantuan Asing untuk Korban Gempa

Korban gempa bumi di Maroko. (Istimewa0

WELFARE.id-Usai diberitakan dihantam gempa dahsyat, seluruh negara di dunia berbondong-bondong menawarkan bantuan untuk Maroko. Tapi, dengan alasan potensi konsekuensi dan kekhawatiran masalah komunikasi dan koordinasi, pemerintah Maroko masih membatasi uluran tangan dari pemerintah negara asing. 

Melansir Reuters, Rabu (13/9/2023), Maroko telah mengumumkan, pihaknya hanya akan menerima bantuan dari empat negara dulu. Yakni Spanyol, Inggris, Qatar dan Uni Emirat Arab. 

Kementerian Dalam Negeri Maroko, melansir BBC, Rabu (13/9/2023) mengatakan, negaranya telah menerima tawaran dari empat negara untuk mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan. Pihak berwenang dengan hati-hati menilai persyaratan yang diperlukan, dengan mempertimbangkan potensi konsekuensi dari kurangnya koordinasi dalam situasi setelah gempa bumi.

"Kurangnya koordinasi dalam kasus-kasus seperti itu akan menjadi kontraproduktif," kata pihak berwenang di sana. Namun, Maroko juga mengungkapkan rasa terima kasih atas inisiatif yang dilakukan oleh berbagai negara. 

Tim pencarian dan penyelamatan dari empat negara tersebut, sudah memasuki Maroko pada Minggu (10/9/2023) untuk bekerja dan berkoordinasi dengan tim gabungan Maroko untuk memberikan pertolongan kepada korban gempa. Tak hanya itu, tim 4 negara itu juga akan membantu pemerintah Maroko untuk mengumpulkan dan menolong korban gempa, baik yang terluka maupun yang sudah tewas.

Pihaknya juga menegaskan, tawaran dukungan dari negara sahabat lainnya dapat diterima berdasarkan potensi kebutuhan di lapangan. Spanyol telah mengirimkan unit pencarian dan penyelamatan dengan anjing pelacak dan Inggris telah mengerahkan tim serupa, namun ada pertanyaan mengapa Maroko lambat menerima tawaran lain. 

Bantuan Prancis bersiaga namun kepala badan amal penyelamat, Secouristes sans Frontieres mengatakan, pekerja bantuannya belum mendapat izin dari pemerintah Maroko. Bahkan, Aljazair, yang telah memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya di Afrika Utara itu dua tahun lalu memastikan hendak mengirim 80 pekerja penyelamat khusus dari pasukan perlindungan sipilnya.  

Ada juga tawaran dari AS, Tunisia, Turki, dan Taiwan. Namun keputusan mengenai bantuan apa yang akan diterima telah terjebak dalam pertanyaan mengenai kedaulatan dan geopolitik.  

Selain itu, ada ketegangan hubungan antara Prancis dan Maroko, misalnya, sebagian akibat tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mendekatkan diri ke Aljazair. Namun pihak berwenang Prancis berusaha mengecilkan anggapan bahwa mereka telah dihina. 

"Kami siap membantu Maroko tanpa pertimbangan apapun. Tapi kembali, ini adalah keputusan kedaulatan Maroko dan terserah pada mereka untuk memutuskan," bijak Menteri Luar Negeri Catherine Colonna.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan 6,8 skala richter yang mengguncang Maroko pada Jumat (8/9/2023) malam waktu setempat dan telah menewaskan lebih dari 2.800 jiwa menurut data terakhir dikutip Rabu (13/9/2023). Peristiwa ini adalah gempa bumi yang paling mematikan di Maroko dalam lebih dari enam dekade terakhir. 

Tim penyelamat gabungan yang berasal dari otoritas setempat serta relawan dari dalam dan luar negeri saat ini berpacu dengan waktu untuk menyematkan para korban. Seperti diberitakan Reuters, gempa itu berpusat di wilayah Pegunungan Atlas Tinggi, sekitar 72 kilometer dari barat daya Marrakech. Tepatnya di provinsi Al Haouz, yang terkenal sebagai tempat wisata dan ekonomi populer di negara itu. TV pemerintah melaporkan jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 2.862 dengan 2.562 orang terluka. (tim redaksi)


#gempabumi

#gempadimaroko

#gempadahsyatdimaroko

#bantuankemanusiaan

#gempabumidahsyat

#korbantewas

#korbanluka

Tidak ada komentar