Breaking News

Tren Baru Perusahaan IPO Buat Bayar Utang, OJK-BEI: Sah-Sah Saja, Asal....

IPO - Initial Public Offering . (Ilustrasi/ net)

WELFARE.id-Akhir-akhir ini, marak emiten menggunakan dana hasil penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) untuk membayar utang. Melihat fenomena tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak melihat hal itu sebagai masalah, karena tidak menyalahi regulasi yang ada.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi mengatakan, dalam hal screening IPO, OJK tetap akan lebih detail melihat going concern dari perusahaan-perusahaan tersebut. "Tentunya ekspansi tersebut tidak hanya bayar utang. Bayar utang tidak ada salahnya, tidak ada ketentuan proceed IPO tidak boleh untuk bayar utang," kata Inarno dalam konferensi pers HUT ke-46 Pasar Modal Indonesia di Jakarta, dikutip Jumat (11/8/2023). 

Menurutnya, dengan adanya pembayaran utang, bisa saja menjadikan kesehatan emiten menjadi lebih baik. Petinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebut hal ini lumrah terjadi dan menjadi salah satu bentuk ekspansi. 

"Selain itu, penggunaan dana hasil IPO sendiri sudah tercantum di prospektus. Apabila perseroan lalai menjalankan itu maka akan terkena sanksi," jelasnya lebih lanjut.

Sebatas informasi, beberapa emiten blak-blakan mengaku, menggunakan dana hasil IPO untuk membayar utang. Di antaranya, PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA) yang mengalokasikan sebesar Rp151,92 miliar untuk pembayaran utang kepada pihak ketiga dan sebesar Rp35,07 miliar untuk membiayai sejumlah proyek pembangunan. 

Sisa dari dana IPO oleh perseroan digunakan untuk modal kerja. Hal yang sama juga dilakukan oleh emiten top, seperti anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang mengalokasikan sebesar 48% dari dana hasil ipo sebesar Rp9,62 triliun untuk membayar utang. 

Rincianya, yakni sebesar USD225 juta kepada MDKA dan kepada ING Bank NV sebesar USD75 juta. Dengan demikian, Merdeka Battery Materials akan menggelontorkan sekitar USD300 juta untuk membayar utang.

Direktur Utama Merdeka Battery Materials Devin Ridwan mengatakan, dengan pembayaran utang ini, perseroan memiliki posisi fundamental equity yang lebih kuat dan akan memberikan fleksibilitas lebih tinggi kepada perseroan untuk bisa mencari, mendapatkan pendanaan baru, atau kepada ekspansi atau pengembangan bisnis ke depan. "Jika dilihat dari total yang didapat ini nanti sebenarnya kalau kita kembali ke tujuan awal, ini untuk pengembangan grup MBM, salah satunya dalam bentuk pembayaran utang tadi,” paparnya.

Bahkan, emiten grup Djarum, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) atau Blibli juga melakukan hal yang sama dengan mengalokasikan Rp5,5 triliun dari dana hasil IPO sebesar Rp8 triliun untuk pembayaran utang kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank BTPN Tbk (BTPN). Sementara itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan, penggunaan dana IPO oleh emiten biasanya diperuntukkan untuk tiga hal, yakni modal kerja, investasi, dan pembayaran utang. 

Menurutnya, pembayaran utang dapat memperbaiki struktur permodalan emiten. "Diharapkan dengan IPO mereka punya room untuk leverage ke perbankan lagi. Jadi menurut saya tidak ada yang salah dengan penggunaan dana untuk bayar utang," sebutnya. 

Menurut Iman, hingga saat ini BEI telah menjalankan tiga inisiatif untuk perlindungan investor. Pertama, adalah implementasi papan pemantauan khusus. 

Kedua, pemberian notasi khusus. Menurutnya, Bursa terus menambahkan notasi khusus kepada emiten yang bermasalah, sehingga investor mengetahui catatan ketika membeli saham karena adanya notasi khusus. 

Ketiga, pencegahan. Pencegahan ini dilakukan Bursa melalui immediate action dan edukasi ke stakeholder pasar modal. (tim redaksi)


#bursaefekindonesia

#BEI

#otoritasjasakeuangan

#OJK

#penawaranumumperdanasaham

#IPO

#initialpublicoffering

#IPOuntukbayarutang

Tidak ada komentar