Breaking News

"Harta Karun" Unggulan RI Ini Hanya Cukup hingga 22 Tahun, Plus 5 Wilayah Ini Siap Dieksplorasi

Aktivitas pertambangan. (Ilustrasi/ net)
 

WELFARE.id-Indonesia termasuk kaya "harta karun" sumber daya alam, termasuk komoditas pertambangan. Selain nikel, ternyata cadangan timah Indonesia termasuk terbesar no 1 di dunia atau sekitar 17% dari total cadangan timah dunia.

Sedangkan untuk produksi, Indonesia merupakan produsen terbesar kedua di dunia, menyumbang 24% produksi timah dunia. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa "harta karun" timah ini bisa bertahan hingga 22 tahun mendatang. 

Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batu Bara, dan Panas Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM Hariyanto mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya timah sebesar 2,5 juta ton dengan cadangan mencapai 2,24 juta ton. "Saya sampaikan sumber daya timah itu 2,5 juta ton, kemudian cadangan 2,24 juta ton," jelasnya, melansir program cnbcindonesia "Mining Zone", dikutip  Rabu (9/8/2023). 

Ia menyebut, produksi timah kini mencapai 84 ribu ton per tahun. Itu artinya, kata dia, cadangan timah bisa bertahan sampai dengan 22 tahun mendatang. "Dengan produksi sekitar 84 ribu ton, maka umur cadangan 22 tahun untuk timah," tambahnya.


5 Wilayah Kaya "Harta Karun"


Tak hanya timah, pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk mendorong investasi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Investasi sendiri mengalami penurunan sejalan dengan peralihan fokus perusahaan migas internasional ke sektor energi baru terbarukan. 

Sejumlah kemudahan pun ditawarkan pemerintah untuk menarik investasi. "Pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui fleksibilitas kontrak (PSC Cost Recovery atau PSC Gross Split), perbaikan syarat dan ketentuan pada putaran penawaran, pemberian insentif seperti tax allowance, fasilitas bea masuk, dan pembebasan pajak, serta menciptakan kemudahan dan penyederhanaan proses perizinan melalui mekanisme permohonan secara online," ujar Menteri ESDM Arifin Tasrif dikutip dari laman Kementerian ESDM, Rabu (9/8/2023).

Arifin juga menyampaikan saat ini Indonesia tengah mengincar eksplorasi cekungan migas, terutama untuk lima wilayah eksplorasi di wilayah timur, antara lain Warim, Timor, Buton, Seram, dan Aru. "Potensi gas alam kita sangat besar, dari Timur hingga Barat Indonesia. Gas bumi akan tetap menjadi bagian signifikan dari bauran energi Indonesia. Pemerintah juga memandang pentingnya gas bumi sebagai energi transisi sebelum beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dalam jangka panjang," bebernya.

Selain itu, ia juga mengatakan pembangunan infrastruktur untuk penyaluran gas bumi sudah memasuki tahap pengembangan, seperti ruas Cirebon-Semarang, yang diharapkan dapat selesai pada 2025. "Kemudian kita akan melanjutkan pembangunan pada ruas Dumai dan Sei Mangke di Sumatera Utara. Maka dari itu, dengan menyelesaikan ruas ini pada 2027 atau 2028, semua ruas dari bagian utara pulau Sumatera sampai timur Pulau Jawa akan tersambung, dan kita siap untuk mengamankan suplai gas dari proyek-proyek mendatang," tuturnya.

Arifin pun menambahkan, bahwa pemanfaatan gas dalam negeri juga sejalan dengan mandat industri hilir. Gas bumi domestik akan mendukung industri pengolahan nasional seperti Proyek Urea dan Amonia di Tangguh yang bersumber dari Genting. Kawasan Industri Batang dan KEK Kendal didukung oleh lapangan gas terdekat dan gas akan diangkut melalui pipa transmisi gas Cirebon-Semarang. (tim redaksi)


#sumberdayaalamindonesia

#sumberdayaalam

#pertambangan

#komoditastambang

#gasalam

#nikel

#timah

#hartakarunRI

Tidak ada komentar