Breaking News

Dinamika Jelang Pilpres 2024, Wacana Poros Keempat Kembali Mencuat

Bendera partai. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Wacana poros capres keempat kembali mengemuka. Sebenarnya wacana ini sudah beberapa kali dimunculkan, bahkan sejak tiga bulan lalu, namun kini kembali hangat.

Wacana itu kembali muncul usai pembicaraan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan pimpinan MPR. Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan, dalam pertemuan itu, Jokowi dan pimpinan MPR saling menggoda soal berapa jumlah capres yang akan bersaing di Pilpres 2024.

"Tadi juga kita saling menggoda di antara kami apakah dua pasang, tiga pasang. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa empat pasang katanya," kata Bamsoet di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, usai pertemuan.

"Kata Pak Jokowi," timpal Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani. 

"Kata Presiden," sambung Bamsoet. Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP Partai Golkar Dave Laksono menyebut, kemungkinan poros keempat bisa saja terjadi.

"Ya banyak hal yang bisa saja terjadi," kata Dave, melansir detikcom, Senin (14/8/2023). Namun demikian, Dave menyebut Golkar menunggu langkah yang diambil ketua umum mereka, Airlangga Hartarto.

Pasalnya, Rakernas Golkar yang lalu sudah memandatkan persoalan 2024 kepada Airlangga Hartarto. "Dalam rakernas kemarin kan mandat sudah diberikan kepada ketum. Jadi biar ketum saja yang putuskan dan umumkan," bijaknya.

Ia juga tidak mau berspekulasi terkait kemungkinan bersama dengan PAN membentuk poros baru. Menurutnya, Airlangga Hartarto lah yang bisa memutuskan strategi yang paling tepat.

"Semua kembali ke ketum dan sudah ada strategi yang ketum telah putuskan demi mendapatkan suara maksimal," yakinnya. Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi juga turut merespons terkait mencuatnya wacana poros capres keempat.

Ia menyebut, sebetulnya poros keempat secara teori mungkin diwujudkan oleh PAN dan Golkar. "Poros keempat di pilpres secara teoritis bisa terwujud untuk memenuhi persyaratan Presidential Threshold 20% kursi DPR RI (sesuai pasal 222 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu) jika PAN dan Golkar berkoalisi mengusung pasangan calon sendiri. PAN memperoleh kursi 7,65% dan Golkar 14,78%. Persyaratan formal Undang-Undang sudah terpenuhi," kata Viva, melansir detikcom, Senin (14/8/2023).

Meski begitu, dari segi elektoral, ia menilai wacana itu akan penuh perjuangan. Karena itu lah, ia justru mengajak Golkar untuk sama-sama bersinergi bersama bergabung dengan salah satu koalisi yang sudah ada.

"Dengan demikian tentu akan menambah basis sosial dan kekuatan dukungan sehingga potensi untuk menang pilpres semakin besar," ulasnya. Ia buru-buru menambahkan, secara elektoral, kata dia, tak akan ada harapan.

"Maka bagi PAN saat ini untuk membentuk poros keempat adalah cita-cita perjuangan partai yang heroik tapi secara elektoral sudah tidak ada harapan lagi. Ditunggu dalam waktu dekat ini PAN akan mengumumkan calon presiden di pilpres 2024. Nanti akan diumumkan secara resmi oleh Bang Zulkifli Hasan," janjinya.

Direktur Lembaga Riset Lanskap Politik Indonesia Andi Yusran menengahi soal wacana poros keempat tersebut. Menurutnya, hal sulit terwujud meski Golkar menggandeng PAN sekalipun.

"Karena poros keempat ini tergantung dari istana," kata Andi, melansir rmolid, Senin (14/8/2023). Di sisi lain, ia melihat istana sudah memiliki poros yang bakal didukung di gelanggang Pilpres 2024. 

Sehingga, pembentukan poros keempat hanya akan memecah suara pendukung poros istana. "Poros keempat ini juga secara elektoral juga tidak elektabel," ucap analis politik dari Universitas Nasional itu.

Sementara itu, Pengamat Politik Yusfitriadi menilai, bergabungnya Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) ke koalisi mendukung Prabowo Subianto menggugurkan peluang akan adanya poros keempat di Pilpres 2024. Hal ini juga membuat koalisi Prabowo semakin kuat karena empat partai yang bergabung yakni Gerindra, PKB, PAN, dan Golkar.

"Sehingga sudah bisa dipastikan Prabowo sangat kuat. Sekaligus menggugurkan informasi akan adanya poros koalisi keempat dalam dukungan calon presiden dan wakil presiden," ujar Yusfitriadi dalam keterangannya, dikutip Senin (14/8/2023).

Ia juga menilai masih terbuka kemungkinan koalisi ini akan disusul oleh partai nonparlemen lainnya. Sehingga kondisi ini dinilai semakin menguatkan Prabowo untuk berkontestasi di Pilpres 2024.

"Tinggal menunggu dinamika bacawapres. Apakah penentuan bacawapres akan menggoyang koalisi atau justru akan memperkuat masing-masing koalisi," ujar Founder Visi Nusantara Maju tersebut.

Namun demikian, ia menilai kemungkinan koalisi dapat berubah. Hal ini karena sampai saat ini koalisi partai politik pengusung calon presiden dan wakil presiden masih belum ada yang benar-benar tetap. 

Termasuk koalisi perubahan untuk persatuan (KPP) yang terdiri dari Nasdem, Demokrat, PKS serta Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya besutan Gerindra dan PKB. "Demokrat bisa saja lepas dari koalisi perubahan jika AHY tidak masuk cawapres, begitu pun yang terjadi pada PKB mungkin saja hengkang dari KKIR jika Prabowo mengambil cawapres selain Cak Imin," prediksinya.

Seperti halnya dengan PKB, Yusfitriadi menilai bergabungnya PAN-Golkar di Koalisi Prabowo juga menawarkan proposal cawapres yang sama yakni power sharing. PAN mengusulkan Erick Thohir sebagai cawapresnya maupun Golkar mengusulkan Airlangga Hartarto.

Artinya, kata dia, ketika Prabowo tidak mengakomodasi itu, bukan tidak mungkin mereka tidak berkoalisi dengan prabowo atau mengusulkan pembagian kekuasaan yang lain. "Misalnya komposisi menteri atau support finacial untuk kepentingan kampanye partainya masing-masing," imbuhnya.

Sebatas informasi, sejauh ini koalisi yang sudah terbentuk yaitu Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang diinisiasi Nasdem, Demokrat, dan PKS. Lalu Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang diisi PKB dan Gerindra.

Selanjutnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digawangi Golkar, PAN, dan PPP. Sementara PDI Perjuangan yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres, saat ini belum membentuk koalisi secara resmi.

Namun, PPP yang sejauh ini merupakan anggota KIB justru memutuskan mendukung Ganjar. Karena itu, Golkar dan PAN diisukan akan membentuk poros baru yang akan jadi poros keempat dalam Pemilu 2024 nanti. (tim redaksi)


#wacanaporoskeempat

#partaipolitik

#pemilu2024

#partaigolkar

#PAN

#mengusungcaprescawapres

#wacanaporosbaru

Tidak ada komentar