Breaking News

Berani Tampil Beda, Karya Old Master Bersanding dengan Pop Art, Why Not?

Suasana pameran seni bertema "Juxtapose" yang diusung galeri seni G3N Project di ajang ArtMoments Jakarta 2023. (WELFARE.ID)

Seniman Peter Rhian Gunawan dan Arkiv Vilmansa di depan lukisan karya mereka yang terinspirasi karya maestro lukis Basuki Abdullah di booth G3N Project ArtMoments Jakarta 2023. (WELFARE.ID)


WELFARE.id-Siapa bilang karya old master tak bisa disandingkan dengan pop art? Ternyata karya seni maestro lukis tanah air Basuki Abdullah berjudul "Tegar Kokoh Bagai Batu Karang" (1981) dan "Rajawali" (1980) makin terlihat keren bersanding dengan karya seni pop art yang anak muda banget.

Lukisan Basuki Abdullah yang diusung galeri seni G3N Project dalam pameran seni ArtMoments Jakarta 2023 menggambarkan sosok mitologi, yang sedang naik kuda dan yang satunya lagi mengendarai burung rajawali. Dua karakter kuat dengan penggambaran aksi heroik yang muncul dalam karya sang maestro tampak kontras namun berpadu serasi dengan karakter kartunis yang sekilas tampak lucu, menggemaskan, dengan warna-warni yang mencolok, karya lukis seniman pop art muda Indonesia, Peter Rhian Gunawan dan Arkiv Vilmansa. 

Beberapa tahun terakhir, konsep seni lukis kontemporer aliran pop art tengah naik daun. Pop art merupakan aliran seni yang menggunakan hal-hal populer sebagai konsep atau subjek dalam proses pembuatan karya senimannya. 

Gerakan seni ini sangat mudah dikenali karena cirinya yang sangat khas, dengan warna-warna berani, menggunakan subjek komersial terkenal, memiliki bentuk dan motif yang khas untuk menyindir objek seni tersebut, dan target utama sang seniman tentu saja pasar anak muda. Nah, ini juga yang mau ditawarkan galeri seni G3N Project yang kali pertama berpartisipasi dalam ajang ArtMoments Jakarta yang digelar di Hotel Sheraton Grand Mal Gandaria City 18-20 Agustus 2023 dan sengaja mengangkat tema "Juxtapose".

Dalam arti harfiah, "Juxtapose" adalah upaya menyatukan dua hal berbeda menjadi satu. "Seperti saat ini, kita coba padukan karya old master dengan pop art. Konsep ini mungkin baru pertama kali dilakukan di Indonesia. Kalau di luar negeri mungkin sudah ada ya," klaim Kepala Galeri G3N Project Andry Permadi, saat ditemui disela-sela pameran, Jumat (18/8/2023).

Pihaknya menggandeng Museum of Toys untuk mewujudkan konsep pameran seni yang tak biasa itu. Mereka mengajak dua seniman muda yang sedang naik daun, Peter dan Arkiv untuk melakukan homage atau penghormatan terhadap karya seniman besar tanah air, Basuki Abdullah. 

Peter dan Arkiv melakukan homage masing-masing satu untuk dua karya seni Basuki Abdullah. Peter yang membidani lahirnya karakter Redmiller Blood selama 6 tahun terakhir mengangkat karya homage berjudul "Final Destiny" dan "Soaring in the Sky".

"Saya melihat dua karya Basuki Abdullah ini secara spiritual ingin mengangkat sebuah semangat perjuangan. Maka itu, saya tampilkan sosok Redmiller pada dua karya saya kali ini, yang satu naik kuda dan satunya lagi naik pesawat kardus," ucap Peter.

Dua karya dosen DKV di Universitas Maranatha Bandung itu mau menggambarkan realita anak muda zaman ini, yang mudah insecure, mentalnya sangat rapuh, dan tidak percaya diri karena tekanan sosial di sekitar mereka. Peter tak ragu mengangkat isu besar "mental health" dalam lukisannya.

"Saya ingin mengajak anak muda untuk merefleksikan kembali mengenai jati diri mereka, merefleksikan kembali mengenai apa yang penting dan kurang penting dalam perjalanan hidup mereka. Terutama dalam lingkungan society di mana mereka tinggal.

Bebek-bebek di lukisan "Soaring in the Sky" ini adalah penggambaran bagaimana lingkungan sosial kita, ada orang-orang yang gemar mengkritik dan tidak peduli. Mereka memakai topeng yang berbeda-beda di lingkungan tempat mereka berada agar diterima secara sosial, sampai melupakan jati diri mereka," paparnya penuh filosofi.

Pun demikian dengan karya "Final Destiny". Peter ingin menggambarkan lewat karakter Redmiller Blood yang berambut merah dan bermata absurd seperti tampak tetesan air mata berwarna pelangi. 

Ia ingin, lukisannya itu bisa menggambarkan realita di perkotaan, di mana tuntutan pekerjaan yang tinggi, sistem kapitalis yang mengukur kesuksesan dari standar keberhasilan hidup. Seseorang, lanjutnya, seperti baru dianggap "berhasil" jika bisa hidup dalam dunia warna-warni gemerlap.

"Sayangnya, dalam proses mengejar standar tersebut, banyak anak muda yang rela mengorbankan identitas aslinya dengan menggunakan topeng yang dirasa perlu untuk mencapai pencapaian tersebut.

Akibatnya, banyak anak muda yang kesehatan mentalnya terganggu dikarenakan dia tidak menjadi dirinya sendiri sehingga mengalami kelelahan mental. 

Hal ini terutama terjadi dikarenakan oleh tuntutan pergaulan di mana dia berada," ulas seniman muda yang  sudah berpameran di Shanghai, Hong Kong, New York, Australia, dan Korea Selatan itu dan karya seninya sudah dikoleksi kolektor mancanegara. 

Namun, masih melalui karyanya, Peter mau mengajak anak muda agar kembali ke jati diri mereka. Seberat-beratnya tekanan hidup, baik sosial maupun ekonomi, selama roda kehidupan ini berputar, selalu ada harapan untuk maju dan berkembang.  

Sedangkan Arkiv, lebih menonjolkan karakter domma dalam homage-nya terhadap lukisan Basuki Abdullah kali ini. Ia mengaku terhormat dan tersanjung mendapat kesempatan menginterpretasikan karya old master ke dalam goresan pop art.

"Jujur saya merinding saat diberi amanah untuk "melukis" ulang karya Basuki Abdullah. Beliau adalah legend dalam seni lukis Indonesia. Tapi buat saya ini adalah sebuah kesempatan untuk menampilkan yang berbeda, tanpa kehilangan nilai dan karakter pribadi seniman," ungkapnya ketika ditemui disela-sela pameran.

Arkiv memiliki beberapa karakter dalam karya seninya. Ada domma, mickyv, dan rebbiv. Sebenarnya total ada 12 karakter kartun lucu yang terinspirasi dari sang anak.

Untuk homage kali ini, seniman kontemporer asal Bandung, Jawa Barat itu membuat karakter domma dalam dua karya lukis berjudul "Thunder Strike" dan "Thunder Bird". Dua-duanya melukiskan karakter domma menaiki kuda dan burung, tapi tentu saja dalam penggambaran kartun yang lucu dan tampilan warna-warni pastel.

Ia dikenal dengan lukisannya yang terinspirasi dari karakter kartun yang menekankan bentuk dua dimensi dan garis yang tegas dengan warna-warna yang hidup dan cerah. Karya Arkiv secara visual dipengaruhi oleh seni jalanan, mainan, fashion, alam, dan subkultur dengan kenangan masa kecil sebagai sumber inspirasi. 

Dilatih sebagai seorang arsitek, Arkiv yang kini tengah mempersiapkan kolaborasinya dengan brand terkenal Bathing Ape itu menemukan, bahwa etos kerja dan metodenya menjadi lebih terstruktur dan kritis, namun tetap menjaga ekspresi artistiknya tetap mentah dan membebaskan. 

Didorong oleh rasa ingin tahu dan kecintaannya pada seni visual, Arkiv mengeksplorasi batas-batas cat dan lukisan. Menghasilkan berbagai karya visual yang unik dan beragam, mulai dari lukisan, mainan, cetakan, dan patung. 

Warna, bentuk, garis-garis yang ia kumpulkan terinspirasi dari para jenius kreatif di industri yang paling ia hormati, seperti Takashi Murakami dan Nigo. Baginya, pop art adalah sebuah terobosan bagi dunia seni untuk bisa diterima oleh pasar anak muda. "Semakin kesini saya lihat makin banyak anak muda yang tertarik untuk berinvestasi di karya seni. Itu karena muncul inovasi-inovasi baru dalam karya seni, sehingga menarik hati pasar anak muda, usia 30-40 tahun," bebernya.

Sementara itu, ArtMoments Jakarta tahun ini menampilkan 25 galeri seni nasional dan internasional yang terkemuka. "Dengan hadirnya ArtMoments Jakarta 2023, kami ingin mendorong kemajuan yang signifikan bagi industri seni Tanah Air. Kami berupaya untuk memperluas apresiasi seni serta merangsang dialog budaya yang kaya dengan menyajikan karya-karya berkualitas dari berbagai perspektif. Dengan menjembatani interaksi antara seniman, kolektor, dan para pencinta seni, kami membuka jalan bagi lebih banyak pertumbuhan, dan koneksi dalam lanskap kreatif," ujar Co-Founder dan Fair Director of ArtMoments Jakarta Sendy Widjaja.

Ia mengatakan, setiap tahun, ArtMoments Jakarta menyajikan karya seniman-seniman ternama. Sorotan tahun ini termasuk seniman Jepang Miwa Komatsu (disajikan oleh Whitestone Gallery), Arkiv Vilmansa (disajikan oleh G3N Project x Museum of Toys), seniman kontemporer Indonesia yang dikenal secara internasional Eko Nugroho dan Heri Dono (disajikan oleh The Columns Gallery), Handiwirman (disajikan oleh Gajah Gallery), seniman Indonesia muda Laksamana Ryo (disajikan oleh Gallery Afternoon), dan pelukis abstrak Indonesia Erizal (disajikan oleh Gajah Gallery), serta masih banyak seniman bertalenta cemerlang lainnya. 

Salah satu tamu VIP ArtMoments Jakarta Agustina Monaco mengapresiasi karya seni seniman tanah air. Menurutnya, perkembangan seniman Indonesia itu sangat pesat dan mengagumkan. "Saya sempat lihat salah satu art begitu terpana. Karena penuh dengan konsep, warna, dan nilai jualnya tinggi. Begitu saya intip nama senimannya, kaget banget ternyata seniman indonesia," katanya ketika diwawancara WELFARE.ID, Sabtu (19/8/2023).

Itu artinya, lanjut dia, seniman Indonesia kalibernya sudah bisa bersaing dengan seniman mancanegara. Dia pun dengan mudah menyebutkan nama seniman muda Indonesia yang menurutnya punya potensi di masa depan.

"Kalau dimata saya sih, menurut saya yah, ada nama Peter Rhian Gunawan, Arief Witjaksana yg lukisannya bisa pakai augmented reality, lalu ada Sugiri Willim, dan Adi Gunawan," rincinya. Sementara untuk seniman mancanegara, dia mengaku pengagum Ren zhe di Linda Gallery.

Dirinya berharap, ke depan akan semakin banyak lagi art exhibition untuk membangun awareness dan interest. ArtMoments Jakarta juga menarik minat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno untuk turut hadir dalam perhelatan seni tahunan tersebut, bersama sang istri Nur Asia Uno. (tim redaksi)


#artmomentsjakarta2023

#artmomentsjakarta

#G3Nproject

#peterrhiangunawan

#arkivvilmansa

#senikontemporer

#basukiabdullah

#aliranpopart

#senilukisindonesia

#senimanindonesia

Tidak ada komentar