Breaking News

Belajar dari Kasus Sultan, Heru Budi: Warga Wajib Lapor Jika Lihat Kabel Optik Semrawut di Jakarta

Korban kabel optik melintang di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Sultan Rifat Alfatih. (Istimewa/ YouTube Kompas TV)


WELFARE.id-Kabel optik yang menjuntai atau semrawut di jalan raya adalah pemandangan umum di Jakarta. Bukan hanya tak sedap dipandang mata, tapi juga telah memakan banyak korban.

Terbaru, adalah kisah pilu Sultan Rifat Alfatih (20), mahasiswa Universitas Brawijaya yang terjerat kabel fiber optik yang melintang di tengah Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Januari 2023. Kasusnya kini menjadi perhatian publik.

Akibat kecelakaan itu, Sultan kesulitan berkomunikasi bahkan tidak bisa berbicara selama hampir 7 bulan ini. Keluarga Sultan berencana melaporkan perusahaan pemilik kabel optik setelah laporan sebelumnya sempat ditolak. 


Kronologi Versi Keluarga Sultan


Insiden yang dialami Sultan itu terjadi di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, 5 Januari 2023. Ketika itu Sultan tengah menghabiskan waktu libur semesternya dengan kembali ke kediamannya di Bintaro.

Sultan bersama beberapa teman SMA-nya kemudian mengemudikan kendaraan roda dua ke arah Jalan TB Simatupang sekitar pukul 22.00 WIB. Keduanya lalu belok kiri ke Jalan Pangeran Antasari.

Setelah Sultan menyusuri Jalan Pangeran Antasari sejauh 1 kilometer, tiba-tiba ada mobil SUV berhenti di depan motornya karena ada kabel fiber optik yang melintang di tengah jalan.

Namun sopir SUV yang bergerak perlahan untuk melewati kabel menjuntai diduga salah perhitungan. Hal itu karena sopir diduga tak menyadari kabel itu menyangkut di bagian atap mobil.

Akibatya, kaber fiber optik yang terbuat dari serat baja itu tidak langsung terputus saat tertarik beberapa meter. Sebaliknya, kabel itu justru berbalik ke arah belakang dan mengenai leher Sultan.

Sultan yang tak sadarkan diri setelah kecelakaan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati untuk mendapat pertolongan pertama. Akibat kecelakaan itu, Sultan tidak bisa berbicara selama hampir 7 bulan ini. 

Ia juga tak bisa lagi bernapas melalui hidung dan mulut sehingga harus menggunakan alat bantu pernapasan yang dipasang dari leher. Selain itu, Sultan juga tidak bisa makan-minum menggunakan mulut layaknya orang normal. 

Ia harus memakai selang khusus untuk memperoleh asupan nutrisi sehari-hari. "Makan minumnya sampai sekarang cuma disuntikkan dari selang. Jadi hanya makanan cair saja yang bisa masuk seperti susu dan air putih," tutur ayah Sultan, Fatih, kepada wartawan, dikutip Sabtu (5/8/2023).

Akibatnya, kondisi fisik Sultan makin memprihatinkan. Ia pun makin kurus karena hanya minum susu dan air putih yang bisa masuk ke tubuhnya. Dari 69 kilogram, berat badan Sultan kini tinggal 46 kilogram.

Fatih mengaku telah melaporkan kecelakaan yang dialami putranya itu beberapa hari setelah kejadian. Namun laporan itu ditolak karena Fatih tak mengetahui identitas pemilik kabel yang mau dilaporkan.

"H+2 kecelakaan, saya pergi ke kantor polisi untuk melaporkan insiden kecelakaan untuk kebutuhan pengurusan BPJS di rumah sakit. Saya juga melaporkan pemilik kabel karena menimbulkan kecelakaan," ungkap Fatih.

Fatih mengungkap saat itu pihak kepolisian langsung mengeluarkan surat pernyataan peristiwa kecelakaan supaya korban bisa menggunakan fasilitas BPJS. Walau begitu, polisi belum bisa menerima laporan Fatih minta tanggung jawab pemilik kabel. 

Alasannya, tidak ada nama atau perusahaan spesifik yang dilaporkan dari pihak Sultan. Singkat cerita, setelah kondisi Sultan membaik 4 bulan kemudian, Fatih mencari tahu sendiri pemilik kabel yang mencelakakan anaknya.

Dia mendatangi kantor kelurahan, kecamatan, hingga wali kota untuk mengetahui perusahaan yang membiarkan kabelnya melintang di tengah jalan raya. Dari penelusuran itu, Fatih mendapat info bahwa pemilik kabel fiber optik itu adalah perusahaan inisial PT BT.

Fatih kemudian menyambangi PT BT untuk meminta pertanggungjawaban. Tak beberapa lama kemudian, perusahaan diduga pemilik kabel fiber optik datang menjenguk Sultan di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. 

Pihak PT BT meminta maaf ke Sultan dan keluarganya. Mereka juga berjanji akan bertanggung jawab, sambil meminta permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan. 

Namun, hal itu ditolak keluarga Sultan. Namun janji perusahaan pemilik kabel optik itu ternyata tak ditepati. 

Pasalnya, hingga saat ini tak ada pertanggungjawaban dari PT BT. "Saya kejar-kejar mereka, tapi mereka malah pakai pengacara. Jadi saya juga akan laporkan, karena menurut saya ini sudah termasuk unsur pidana," tutur Fatih.


Klarifikasi PT BT


PT Bali Towerindo (PT BT) membeberkan kronologi kecelakaan yang menimpa Sultan Rifat Alfatih (20) dari sudut pandang mereka, setelah terjerat kabel serat optik di Jalan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, pada 5 Januari 2023 lalu. Kuasa Hukum Bali Tower, Maqdir Ismail menjelaskan, kronologi itu berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh internal perusahaan.

Dari situ, pihaknya menduga, bahwa kabel serat optik mereka yang berada di atas ketinggian 5,5 meter menjuntai karena tersangkut kendaraan besar. "Perusahaan menduga kejadian yang dialami oleh Sultan disebabkan adanya kendaraan besar," ujar Maqdir, dikutip Sabtu (5/8/2023).

Ia menambahkan, awalnya kendaraan besar yang belum diketahui jenisnya melintas di Jalan Pangeran Antasari mengarah Blok M. Akibat tinggi kendaraan yang lebih dari 5,5 meter, kabel serat optik tersangkut dan tertarik.

Tiang penyangga yang berada di sisi kiri jalan kemudian miring, dan membuat ketinggian kabel merendah. "Pada malam itu, sekitar pukul 23.00 WIB tidak ramai seperti pagi atau siang hari," bebernya.

Tak lama kemudian, lanjut Maqdir, mobil jenis SUV melintas di Jalan Pangeran Antasari. Kabel serat optik yang sudah menjuntai kembali tersangkut sesaat.

Sultan yang berjalan di belakang mobil SUV itu kemudian terjerat kabel optik yang terlepas dari badan kendaraan di depannya. Kendati demikian, Maqdir mengakui bahwa kliennya tidak memiliki bukti penguat mengenai dugaan kronologi kejadian tersebut.


Heru Budi Buka Suara


Kecelakaan yang menimpa Sultan ikut ditanggapi oleh Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. Ia berharap, ke depan tidak ada lagi kabel optik yang semrawut di Ibu Kota.

Apalagi, katanya, jika sampai memakan korban luka atau jiwa. "Saya minta fiber optik (kalau melakukan) galian kabel harus rapi," tegas Heru Budi di Balai Kota DKI Jakarta, dikutip Sabtu (5/8/2023).

Perapihan kabel fiber optik sudah menjadi target Heru Budi sejak jadi Pj Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2022 lalu. Namun jika sebelum periode itu masih ada kabel berantakan, maka jadi tanggung jawab pengawas terdahulu.

Selain itu, Heru juga minta agar warga melapor jika menemui kabel semrawutan. Dengan demikian aduan itu dapat ditindaklanjuti dengan cepat. (tim redaksi)


#korbankabeloptik

#kasussultanrifatalfatih

#kabeloptiksemrawut

#kabeloptiksemrawutmakankorban

#pjgubernurdkijakarta

#herubudi

Tidak ada komentar