Breaking News

Aplikasi E-Commerce Jombingo "Makan Korban", Diperkirakan 1 Juta Orang Kena Tipu!

E-commerce Jombingo. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Ade Safri Simanjuntak mengimbau, korban penipuan aplikasi e-commerce Jombingo untuk membuat laporan polisi. Menurutnya, diperkirakan jumlah korban mencapai 1 juta orang. 

Sementara itu, hanya ada enam laporan yang masuk ke Polda Metro Jaya. "Semakin dekat saat ini kita akan melakukan beberapa penyitaan terkait dokumen elektronik, informasi elektronik yang terkait dengan dugaan tindak pidana yang terjadi. Insya Allah, akan gelar perkara untuk berikan kepastian hukum, salah satunya penetapan tersangka," ungkapnya, dikutip Kamis (24/8/2023).

Kepolisian mengungkap Jombingo merupakan aplikasi jual-beli sistem komisi yang beroperasi di Indonesia sekitar Maret 2022. Adapun, syaratnya member diminta membuat “group buy” dengan mengundang orang lain untuk melakukan pembelian barang.

Caranya dengan mengirim link aplikasi ke orang lain. Dalam hal ini, setiap member yang tergabung dalam group buy akan mendapatkan bonus partisipan yang tercatat pada akun masing-masing member.

Selain itu, aplikasi Jumbingo juga mengharuskan pengguna melakukan top up sejumlah dana sebelum memulai transaksi pembelian barang pada aplikasi. Cara para member untuk melakukan top up pada aplikasi Jombingo yakni dengan transfer uang ke rekening sesuai permintaan pada aplikasi jombingo. 

Kemudian setelah awal tahun 2023 cara top up berubah dengan cara scan barcode ke virtual account.


Kasus Naik ke Penyidikan


Polda Metro Jaya telah menaikkan status kasus dugaan penipuan platform e-commerce Jombingo ke tahap penyidikan. Polisi juga telah memeriksa human resource development (HRD) hingga sales marketing Jombingo.

"HRD, leader sales marketing, kemudian sales marketing-nya itu sudah diperiksa semua," kata Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Ade Safri Simanjuntak, dikutip Kamis (24/8/2023). Ade mengatakan, pihaknya juga melakukan penyitaan, Selasa (22/8/2023) kemarin. 

Namun, ia belum menjelaskan rinci hasil penyitaan tersebut. "Dan hari Selasa kita lakukan lakukan upaya penyitaan," ujarnya.

Ia menambahkan, di Polda Metro Jaya sendiri ada dua laporan polisi terkait perkara yang ada. Salah satu korban berinisial N melaporkan kasus ke Polres Depok. 

Kerugian ditaksir mencapai Rp37,8 juta. Sedangkan korban lainnya berinisial EN melaporkan kasus serupa ke Polda Metro Jaya dengan kerugian Rp4,5 juta.

Ia juga menambahkan, penyidik Subdit II Fismondev telah menyelidiki keberadaan kantor Jombingo di Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Dengan hasil bahwa kantor Jombingo pernah menyewa di kantor tersebut di periode Mei 2022 sampai dengan April 2023, namun saat ini sudah tidak ada aktifitas dan sudah tidak diperpanjang sewanya," ulasnya.

Polisi juga menelusuri kantor Jombingo yang beralamat di Kalibata, Jakarta Selatan. Akan tetapi, hasilnya juga nihil. 

"Kantor Jombingo yang beralamat di Kalibata, Jakarta Selatan, tidak ditemukan kantor tersebut," ungkapnya. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dan melakukan klarifikasi terhadap sejumlah pihak, antara lain berkoordinasi dengan Satgas Penanganan Kegiatan Usaha Tanpa Izin di Sektor Keuangan/Satgas waspada investasi, melakukan koordinasi dengan Kemendag RI, OJK, Kemenkominfo RI, PPATK, serta BKPM. (tim redaksi)


#satgasOJK

#OJK

#jombingo

#korbandugaanpenipuan

#aplikasijualbelidengankomisi

#satgaswaspadainvestasi

#poldametrojaya

#aplikasiecommercejombingo

Tidak ada komentar