Breaking News

Zona Subduksi Penyebab Tsunami Besar Masih Aktif di Selatan Jawa, Gempa Bantul Jadi Alarm

 

Rumah salah seorang warga di Bantul, Jogja yang mengalami kerusakan. (Istimewa/ Twitter @BymikSudarto)


WELFARE.id-Gempa di Bantul, Jogjakarta dengan magnitudo 6,6 dan dilanjut dengan 44 gempa susulan, tak bisa dianggap sepele. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, gempa bumi yang berpusat di Kabupaten Bantul, Jogja itu, menjadi sebuah alarm pengingat tentang keberadaan zona subduksi yang masih aktif di wilayah Selatan Pulau Jawa.

"Gempa semalam, merupakan alarm yang mengingatkan kita bahwa zona subduksi di selatan Jawa memang masih aktif," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Sabtu (1/7/2023). Daryono memaparkan, zona subduksi aktif itu tidak hanya menimbulkan gempa bumi, tetapi juga tsunami yang menerjang wilayah selatan Pulau Jawa.

Menurutnya, catatan sejarah tsunami di selatan Pulau Jawa telah terjadi sebanyak delapan kali dengan rincian tahun 1818, 1840, 1859, 1904, 1921, 1957, 1994 di Banyuwangi, dan 2006 di Pangandaran. "Ini merupakan catatan penting terkait dengan potensi dan bahaya gempa serta tsunami di selatan Jogja dan selatan Jawa pada umumnya," ungkapnya.

Meskipun, BMKG sudah menegaskan, bahwa gempa semalam tidak berpotensi tsunami. Ia juga menjelaskan, Jogja adalah kawasan sistemik aktif dan kompleks karena memiliki sumber gempa potensial yang bersumber dari darat maupun laut.

Dari laut terdapat zona subduksi yang memiliki potensi gempa bumi berkekuatan mencapai 8,7 magnitudo. Sedangkan, di darat terdapat sesar kompak yang cukup aktif dan berkekuatan hingga mencapai 6,6 magnitudo.

"Kalau kita melihat sejarah sejak tahun 1800 itu zona megathrust di Jogja sudah memicu gempa sebanyak 12 kali. Gempa terakhir pada 2 September 2009 yang berkekuatan 7,8 magnitudo di wilayah selatan," bebernya.

Sebelumnya diberitakan, telah terjadi gempa bumi yang berpusat di wilayah Samudera Hindia sebelah selatan Yogyakarta pada pukul 19.57 WIB. BMKG awalnya mencatat gempa itu berkekuatan 6,6 lalu diubah ke 6,4 magnitudo dan kedalaman 25 kilometer, lalu kekuatannya diperbaharui ke angka 6,0 magnitudo dengan kedalaman 67 kilometer.

Gempa bumi merusak itu memiliki skala intensitas IV hingga II yang terasa oleh warga yang bermukim di Bantul, Klaten, Banjarnegara, hingga Bandung. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan gempa bumi tersebut menyebabkan 93 rumah rusak dengan tingkat ringan hingga sedang yang tersebar di DIY, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

BMKG menyebut, gempa terasa hingga Kulonprogo, Nganjuk, Kebumen, Ponorogo, Kediri, dan Mojokerto. Sejumlah warga di Kediri pun turut mengungkapkan kondisi yang dialami.

Neni (41 tahun) mengungkapkan, dirinya sempat berteriak kepada keluarganya untuk memberitahukan adanya gempa yang dia rasakan. "Gempa sangat kerasa di rumah saya di Pare, Kediri, Jawa Timur. Saya merasa pusing setelah beberapa menit merasakan gempa," ujar Neni, melansir cnbcindonesia, Sabtu (1/7/2023).

Ada juga, Sri Wahyuni (51 tahun) warga Pare, Kediri, Jawa Timur yang juga turut merasakan hal yang sama. "Saya merasakan gempa saat sedang berkumpul dengan keluarga," tutur perempuan yang kerap disapa Nunik itu. (tim redaksi)


#gempabumi

#gempabantul

#gempajogja

#tidakberpotensitsunami

#zonasubduksiaktif

#BMKG

Tidak ada komentar