Breaking News

Zaman Sudah Berubah Tapi Tidak dengan Sejarah, Seniman Heri Dono Melawan Lupa Lewat Karya Seni "Worship to Power"

Pameran tunggal karya seniman Heri Dono bertajuk "Worship to Power" yang digelar galeri seni Kohesi Initiatives, Tirtopuran Link Building A, Jalan Tirtopuran No 50, Jogjakarta. (Istimewa/ Dok.Kohesi Initiatives)


WELFARE.id-Galeri seni Kohesi Initiatives mempersembahkan pameran tunggal "Worship to Power" karya seniman Heri Dono. Karya sang seniman dihadirkan dalam empat karya instalasi, empat lukisan, dan satu drawing dari tahun 1995 hingga 2020 yang sesuai dengan tema yang diusung dalam pameran tunggal yang digelar di Tirtopuran Link Building A, Jalan Tirtopuran No 50, Jogjakarta, sejak 1 Juli 2023.

Pameran tunggal yang dibuka untuk umum mulai 2 Juli hingga 15 Oktober 2023 tersebut, menampilkan karya-karya sang seniman kelahiran Jakarta, 12 Juni 1960 yang merespons masa-masa kritis demokrasi Indonesia. Sekaligus menghadirkannya dalam konteks masa kini yang menjadi upaya aktif untuk melawan lupa. 

Narasi dalam pameran tunggal Heri Dono ini dibangun berdasarkan dua karya yang dibuat pada masa-masa kritis demokrasi saat rezim Orde Baru, yaitu "Worship to Power" (10th Biennale of Sydney, 1996) dan "Blooming in Arms" (Museum of Modern Art Oxford, 1996). Kedua karya ini tak pernah pulang ke Indonesia.


Itu sebabnya, sang seniman merekonstruksi karya-karya tersebut, dengan memanfaatkan studi, materi arsip, dan katalog lamanya. "Ini adalah kali pertama karya-karya seni penting ini dipamerkan di Indonesia sebagai catatan dari sebuah era. Di masa ketika komentar sosial dan seni politik berhadap-hadapan dengan musuh terbesarnya, pemerintah otoriter dan kebijakan sensor yang brutal," sebut Kurator Seni dari LIR, Dito Yuwono dan Mira Asriningtyas, dalam keterangan resmi yang dikirim ke redaksi WELFARE.ID, dikutip Selasa (4/7/2023).

Praktik artistik Heri Dono membentang selama lebih dari tiga dekade dan dibentuk oleh rangkaian peristiwa sosial-politik di Indonesia. "Sebagai seorang seniman, gejolak sosial-politik ini menarik perhatian dan mempengaruhi praktiknya. Ia mengamati dan mengolahnya ke dalam karya seni lintas medium, mulai dari lukisan, wayang, performa, instalasi, dan sebagainya. Dalam hal ini, ia menggunakan medium penciptaan berbagai karyanya sebagai bentuk komentar sosial, pandangan, dan respons terhadap kejadian di sekitarnya," tulis mereka lagi.

Isu-isu sosial-politik turut membentuk sebagian besar seniman seangkatan Heri Dono, tetapi mulai memudar seiring dengan generasi baru yang tumbuh dalam konteks sosial-politik yang berbeda.

 Pameran tunggal ini menawarkan platform untuk berdiskusi dan merefleksikan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia.

"Sekaligus mengundang audiens untuk terlibat dengan isu-isu kompleks dan bermultifaset yang mendasari lanskapsosial, politik, dan budaya negara ini. "Worship to Power" adalah pengingat bagi kita untuk menolak lupa, pengingat bagaimana sejarah bisa membentuk kita menjadi lebih baik, dan menghargai dampaknya pada masa depan," tuntasnya.


Sekilas Profil Heri Dono


Heri Dono merupakan seniman Indonesia pertama yang sukses menembus kancah seni rupa global di awal tahun 90−an. Mengawali kariernya pada era 80−an, Heri Dono dikenal dengan karya instalasi kontemporer yang banyak terinspirasi dari wayang. 

Ia berusaha memasukkan elemen kompleks dalam pertunjukan wayang. berupa visual, mantra, suara, storytelling, kritik sosial, humor, dan mitos berisi filosofi kehidupan. Komponen ini ia gabungkan dalam narasi karya-karyanya melalui penambahan elemen multimedia. 

Karya kreatifnya mengungkapkan ketertarikan Heri Dono dalam merevitalisasi seni yang berakar pada tradisi Indonesia. Pada banyak karya instalasi dan pertunjukannya, sang seniman juga menggunakan "performativity" dan potensi interaktif yang membuat karya-karyanya terlibat dalam dialog komplementer dengan audiens. 

Dalam karya lukisannya, ia banyak mengangkat deformasi liar dan fantasi gaya bebas yang berasal dari karakter dan kisah wayang. Kemudian, ia menambahkan pengetahuan dan ketertarikannya pada kartun anak-anak, film animasi, dan komik.

Namanya pernah tercatat dalam Artlink, sebuah majalah seni terpandang di Australia, yang menyatakan bahwa pada kurun waktu 1993−2006, Heri Dono adalah perupa yang paling sering diundang ke mancanegara. 

Namanya juga tercatat sebagai 1 dari 100 seniman Avant-Garde penting di dunia. Heri Dono sudah berpartisipasi pada lebih dari 300 pameran dan 36 internasional bienial terkemuka, termasuk Asia Pacific Triennial (1993 dan 2000), Gwangju Biennale (1995 dan 2006),  Sydney Biennale (1996), Shanghai Biennale (2000), Venice Biennale (2003 dan 2015), Sharjah Biennial (2005 dan 2023), Guangzhou Triennale (2011), Kochi-Muziris Biennale (2018), Bangkok Art Biennale (2018), dan Gangwon Kids Triennale (2020) di Korea Selatan. Ia juga meraih sejumlah penghargaan, di antaranya, Dutch Prince Clause Award for Culture and Development dari Kerajaan Belanda (1998), UNESCO Prize (2000), dan Anugerah Adhikarya Rupa dari Pemerintah Indonesia (2014). (tim redaksi)


#heridono

#senimanheridono

#senimanindonesia

#melawanlupalewatseni

#instalasiseni

#karyasenirupa

#kohesiinitiatives

#pamerantunggalheridono

Tidak ada komentar