Breaking News

Usut Tuntas Asal Senjata Rakitan dan Motif Penembakan, Kompolnas: Keluarga Bripda Ignatius Harus Dilibatkan Saat Rekonstruksi!

Senjata api. ( Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Insiden polisi tembak polisi yang terjadi di Rusun Cikeas, Bogor, Jawa Barat menambah panjang deretan kasus yang melibatkan sesama korps Bhayangkara. Polisi segera mengusut tuntas perkara tersebut secara gamblang dan transparan.

Mabes Polri menyebut Bripda Ignatius Dwi Frisco Sirage tewas usai terkena peluru senjata api ilegal milik seniornya, yakni tersangka Bripka IG.

Karo Penmas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah barang bukti, termasuk senjata api yang menjadi penyebab tewasnya Bripda Ignatius.

"Mengamankan CCTV, bukti satu unit senjata api rakitan ilegal, satu buah selongsong peluru kaliber 45 ACP, kemudian baju korban dan lain-lain," jelas Ramadhan dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, dikutip Sabtu (29/7/2023). Di lain sisi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes Pol Surawan mengatakan, bakal mengonfrontasi dua tersangka dalam kasus ini, yakni Bripda IMS dan Bripka IG. 

"Jadi dari penyidikan yang kita lakukan senjata ini dipegang oleh IMS, namun pengakuannya milik IG," ungkapnya. Selain itu, Surawan menyebut pemeriksaan kedua tersangka dimaksudkan untuk mengetahui proses serah terima senjata dari Bripka IG kepada Bripda IMS.

Selanjutnya, proses etik dilakukan di Divpropam Polri karena dua tersangka adalah anggota Densus 88 Antiteror Polri. Sementara itu, perkara pidana kini ditangani Polres Bogor.

Kompolnas mengatakan Polri telah memberikan update terkait pengusutan kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Bripda IDF alias ID di Bogor. Kompolnas menyarankan polisi mengundang keluarga korban saat rekonstruksi.

"Polri sudah memberikan update progres penyidikan secara berkala. Kita tunggu hasilnya. Kompolnas mendorong keluarga korban diundang hadir jika dilaksanakan rekonstruksi kasus," kata Komisioner Kompolnas Poengky Indarti kepada wartawan, dikutip Sabtu (29/7/2023).

Dia menambahkan, Kompolnas melalukan pengawasan terhadap penyidikan kasus polisi tembak polisi tersebut. Kompolnas ingin memastikan penuntasan kasus dilakukan transparan.

"Kompolnas selaku pengawas fungsional dan eksternal Polri akan memastikan proses penyidikan dilaksanakan secara profesional dan transparan didukung scientific crime investigation. Salah satu bentuk transparansi adalah memberitahukan progress penyidikan kepada keluarga korban dan publik," bebernya.

Sebelumnya, Bripda IMS dan Bripka IG telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Bripda IDF. Dua tersangka terancam hukuman mati.

Hal itu disampaikan Kapolres Bogor AKBP Rio Wahyu Anggoro dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (28/7/2023). Rio awalnya menjelaskan soal jeratan pasal terhadap para tersangka.

"Pasal yang kami terapkan, untuk tersangka IMS Pasal 338 dan/atau 359 KUHP dan/atau Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Untuk tersangka IGD Pasal 338 juncto 56 dan/atau 359 juncto 56 KUHP dan/atau Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951," ucap Rio.

Ia mengatakan, kedua tersangka terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup. Kedua tersangka sedang ditahan atau dipatsus.

"Untuk ancaman pidananya, pidana hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun," ucapnya. Sebelumnya, Bripda Ignatius tewas tertembak di Rusun Polri Cikeas, Gunung Putri, Bogor Jawa Barat pada Minggu (23/7/2023) pukul 01.40 WIB.

Pihak keluarga Ignatius pertama kali mendapat informasi sang anak meninggal dunia karena sakit keras. Namun, saat di Jakarta, pihak keluarga mengetahui bahwa anaknya meninggal karena tertembak.

"Ditelepon oleh Mabes, pihak Mabes (mengatakan) bahwa anaknya itu sakit keras," kata Kuasa hukum keluarga Ignatius Jelani Christo, dikutip Sabtu (29/7/2023). Pada waktu diautopsi, keluarga melihat sendiri memang tidak ada luka lebam, tetapi ada bekas seperti tembakan di leher korban.

Peristiwa polisi tembak polisi ini diketahui terjadi pada Minggu (23/7/2023), sekitar pukul 01.40 WIB, di kamar 11 rusun Polri Cikeas, Jalan Akses Tol Cimanggis Cikeas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jabar. Dua tersangka dan korban sempat mengonsumsi miras sebelum peristiwa terjadi.


Insiden Polisi Tembak Polisi


Kasus polisi tembak polisi bukan kali pertama terjadi. Ada beberapa insiden serupa yang tercatat. Merangkum berbagai sumber, Sabtu (29/7/2023), berikut insiden polisi tembak polisi yang sempat ramai diberitakan:

1. Insiden polisi tembak polisi pada 2005 lalu. Melibatkan Iptu Sugeng Wiyono yang melakukan penembakan kepada atasannya sendiri, AKP Ibrahim Gani di Mapolres Jombang. 

Kejadian tersebut diduga disebabkan lantaran Sugeng merasa stres karena dimutasi oleh atasannya itu. Merasa marah dan kesal Sugeng melepaskan tembakan sebanyak dua kali ke arah dada bawah Ibrahim.

2. Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2019. Brigadir RT tega menembak rekan kerjanya sendiri, Bripka Rahmat Efendi di Mapolsek Cimanggis, Kamis (25/7/2019) malam.

3. Peristiwa polisi tembak polisi juga pernah terjadi di Makassar pada 6 April 2013.

Briptu Ishak Trianda (35) nekat menembak Kombes Purwadi karena tersinggung dengan ucapan dokter perwira tinggi itu, sehari sebelumnya.

4. Pada 2021 lalu, seorang Brigadir polisi di Nusa Tenggara Barat (NTB) yakni MN juga pernah melakukan penembakan terhadap rekannya sesama polisi, Brigadir Polisi Satu HT dari jarak dekat.

5. Yang paling menghebohkan adalah kasus penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo pada Juli 2022 lalu. Kala itu, polisi menyampaikan Brigadir J tewas usai baku tembak dengan Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E yang memergokinya telah melecehkan istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi. (tim redaksi)


#insidenpolisitembakpolisi

#penembakansesamapolisi

#rusuncikeasbogor

#korbanbripdaignatius

#autopsi

#mabespolri

Tidak ada komentar