Breaking News

Trauma Banjir Bandang, Sebagian Warga Korsel Mulai Mengungsi

 
Banjir di Korsel, 2020 lalu. (Ilustrasi/ AFP/ Yon Hap)


WELFARE.id-Pernah mengalami dikepung banjir bandang di ibu kota Seoul, Korea Selatan (Korsel) tak mau kebobolan lagi. Pemerintah Korsel meminta pejabatnya siaga penuh menghadapi puncak curah hujan di musim panas.

Apalagi, sebagian daerah di Korsel dilakukan pemadaman listrik akibat hujan lebat. Lebih dari 4.000 rumah mengalami pemadaman listrik di ibu kota, Seoul, yang disebabkan oleh hujan deras yang dimulai pada Minggu akhir pekan lalu. 

Bahkan, sebanyak 135 orang terpaksa mengungsi dari berbagai daerah, Jumat (14/7/2023) sejak pukul 06.00 waktu setempat. Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Korsel juga mengatakan, satu orang dinyatakan hilang di kota di selatan Busan sedangkan satu orang terluka di Provinsi Jeolla Selatan.

Dalam pertemuan dengan badan-badan pemerintah, Perdana Menteri Han Duck Soo mengatakan bahwa "jaminan tidak ada korban jiwa" adalah hal terpenting dan memerintahkan para pejabat untuk siaga. Lebih dari 10.500 polisi ditugaskan menjaga lalu lintas dan menambah patroli.

Dalam pertemuan dengan lembaga pemerintah, Perdana Menteri Han Duck-soo memerintahkan kepada otoritas terkait untuk memastikan tidak ada korban jiwa. Dia juga memerintahkan kepada para pejabat untuk tetap waspada. Lebih dari 10.500 polisi dikerahkan untuk mengatur lalu lintas dan peningkatan patroli.

Musim panas lalu, ibu kota Seoul mengalami banjir yang disebabkan oleh hujan terberat dalam 115 tahun. Banjir menggenangi flat semi-basement di lingkungan dataran rendah, termasuk di Distrik Gangnam. 

Han mengatakan, Korea Utara juga mengalami hujan lebat dan mungkin membuka pintu air bendungan di sungai yang mengalir melintasi perbatasan antara kedua Korea. "Hujan deras diperkirakan turun di Provinsi Hwanghae dan kita perlu untuk mempersiapkan dengan matang atas kemungkinan Korea Utara membuang air dari Bendungan Hwanggang," paparnya.

Pembukaan pintu air itu, seringkali tanpa peringatan dari Pyongyang. Sehingga, menyebabkan penambahan volume air di sungai-sungai pada tahun-tahun sebelumnya, menyebabkan banjir dan korban tewas di Korsel. Kementerian Unifikasi Korsel, yang menangani hubungan dengan Korea Utara, mengatakan, bulan lalu mereka telah mengirimkan pesan untuk meminta adanya peringatan atas dibukanya pintu air namun tidak menerima balasan dari Korea Utara. (tim redaksi)


#ancamanbanjirdikorsel

#korselsiagabanjir

#hujanlebat

#korbanjiwa

#korbanhilang

#intensitashujan

Tidak ada komentar