Breaking News

Skandal Terbongkar, Eks Relawan Jokowi Jadi Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Tambang Nikel Ilegal di Konawe Utara

 
Tersangka kasus dugaan korupsi kerja sama operasional antara PT Antam dengan PT LAM Windu Aji Susanto yang ditahan Kejaksaan Agung (Kejagung). (Istimewa/ net)


WELFARE.id-Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menahan pemilik PT Kara Nusantara Investama, Windu Aji Susanto (WAS), usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tambang nikel ilegal, hasil kerja sama operasional (KSO) antara PT Antam dengan PT Lawu Agung Mining (LAM) 2021-2023. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, tersangka merupakan owner PT Kara Nusantara Investama di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara yang terlibat korupsi dan menyebabkan kerugian negara sebesar Rp5,7 triliun.

"Yang bersangkutan ditahan dalam perkara konsorsium perjanjian dengan PT Antam tahun 2021-2023,” kata Ketut kepada wartawan, dikutip Kamis (20/7/2023). Hingga saat ini, sudah lima orang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara ini, di antaranya General Manajer PT Antam UPBN Konawe Utara berinisial HW, Direktur PT Kabaena Kromit Pratama berinisial AA, Direktur PT LAM berinisial OS, Pelaksana Lapangan PT LAM berinisial GAS dan pemilik PT Kara Nusantara Investama berinisial WAS.

"Kerugian negara seluruhnya adalah Rp5,7 triliun,” terangnya lagi. Ketut menjelaskan, perkara ini awalnya ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Menurutnya, Windu Aji juga memiliki saham mayoritas di PT LAM. Seperti diketahui, kasus dugaan korupsi ini terkait dengan penambangan ilegal dan jual beli ore nikel di Blok Mandiodo, Konawe Utara. 

Menanggapi skandal nikel tersebut, eks Sekretaris Badan Usaha Milik Negara Muhammad Said Didu mengatakan, ini merupakan persoalan di balik gencarnya hilirisasi nikel digaungkan. "Gunung es skandal nikel berbungkus hilirisasi mulai terbuka,” ungkapnya dalam cuitannya di Twitter, dikutip Kamis (20/7/2023).

Didu menyimpulkan, ada empat persoalan dari hirilisasi nikel yang kerap digaungkan itu. Salah satu persoalannya, sambungnya, karena penguasaan smelter didominasi asing.

"Simpul masalah. Penguasaan smelter China mencapai 90% dengan pemberian ‘karpet merah’,” cuitnya lagi. Di sisi lain, menurutnya, pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) juga hanya diberikan pada orang tertentu, yang dekat dengan kekuasaan.

Ketiga, ia menyebut masih adanya ekspor ilegal. Terbukti dari temuan yang sempat gempar beberapa waktu lalu. "Harga fore yang lebih rendah dari harga dunia,” tudingnya.


Kronologi Kasus


Windu Aji Sutanto adalah pemegang saham mayoritas dari PT Lawu Agung Mining (LAM), sebuah kontraktor tambang nikel di wilayah konsesi Antam di tahun 2022–2025. Dalam perjalanan bisnis, PT LAM rupanya mendelegasikan mandat tersebut ke perusahaan lain yang langsung menambang meski Antam belum memiliki izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH). 

Alhasil, Selasa (18/7/2023) lalu Kejagung melakukan penahan WAS sebagai tersangka atas dugaan kasus tindak pidana korupsi penambangan nikel di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Antam di Blok Mandiodo, Konawe Utara, Sulawesi Utara. Bukan hanya itu saja, perusahaan milik WAS juga diduga melakukan pelanggaran kerja sama dengan Antam. 

Sebab, dalam perjanjian kerja sama itu, PT LAM seharusnya menjual semua nikelnya ke Antam. Namun ternyata, PT LAM juga menjualnya ke sejumlah perusahaan besar lain di Morosi dan Morowali.

Penetapan sebagai tersangka tersebut diputuskan usai penyelidikan oleh Kejati Sultra di Gedung Bundar Kejaksaan Agung RI. Selain WAS, terdapat empat orang lain yang juga ditetapkan sebagai tersangka atas kasus serupa. Mereka adalah HW (General Manager PT Antam UPBN Konawe Utara), AA (Direktur PT Kabaena Kromit Pratama), GAS (Pelaksana Lapangan PT LAM), dan OS (Direktur PT LAM).

Melansir berbagai sumber, Kamis (20/7/2023), diketahui, Windu Aji Sutanto juga dikenal merupakan salah satu ketua tim relawan pemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin pada Pilpres 2019. Kala itu, WAS juga sempat menjadi perhatian publik karena memberikan doorprize berupa motor dan bermacam produk elektronik di pemilihan kepala desa (pilkades) di kampung halamannya.

Tentu saja hadiah tersebut banyak yang menduga sebagai cara menarik perhatian masyarakat setempat. Saat itu, WAS diketahui menghabiskan dana hingga miliaran rupiah. (tim redaksi)


#skandalnikel

#skandalnikelseretekstimrelawanjokowi

#muhammadsaididu

#hilirisasinikel

#izinusahapertambangan

#penyalahgunaanIUP

#winduajisusantojaditersangka

Tidak ada komentar