Breaking News

RI Nunggak USD671 Juta untuk Pendanaan Pembuatan Pesawat Tempur, Menhan Janji Segera Lunasi

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. (Istimewa/ Antara)


WELFARE.id-Indonesia menunggak utang sebesar USD671 juta dari total komitmen USD1,3 miliar untuk mendanai proyek gabungan pembuatan pesawat tempur KFX/IFX KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prabowo Subianto menegaskan, dirinya bakal menyelesaikan tunggakan utang tersebut dalam waktu dekat.

"Saya kira ini akan selesai dalam waktu dekat. Karena ini sudah keputusan Presiden,” kata Prabowo saat jumpa pers di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, dikutip Jumat (7/7/2023).

Ia berencana mengupayakan adanya sinkronisasi antara proyek-proyek pembuatan pesawat tempur yang merupakan ranah Kementerian Pertahanan dengan pengaturan anggaran yang menjadi kewenangan Kementerian Keuangan. Terkait pembayaran itu, Wakil Menteri Pertahanan M Herindra pada awal 2023 menegaskan, KFX/IFX merupakan program nasional sehingga komitmen terhadap mekanisme pembayarannya cost share agreement (CSA) seharusnya menjadi tanggung jawab bersama seluruh kementerian terkait.

Peraturan Presiden (Perpres) No. 136/2014 tentang Program Pengembangan Pesawat Tempur IF-X mengatur kementerian terkait meliputi Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pendidikan, Kementerian Ristek, Panglima TNI, dan Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas). Dalam aturan yang sama, Pasal 23 Perpres No. 136/2014 mengatur soal pendanaan, yaitu pembiayaan skema CSA untuk proyek pesawat tempur itu dibebankan kepada APBN sesuai dengan kemampuan keuangan negara.

Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan bekerja sama mengembangkan pesawat tempur generasi 4.5 yang kemampuannya diyakini mendekati pesawat siluman terdepan dunia saat ini. Hasil kerja sama KFX/IFX (Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment) diberi nama KF-21 Boramae. 

Dalam kerja sama jangka panjang itu, pemerintah Korsel mendanai 60 persen proyek pengembangan pesawat tempur itu. Sementara Indonesia 20 persen dan sisanya di-handle Korea Aerospace Industries (KAI). 

Pengembangan KF-21 Boramae saat ini masih pada tahap engineering and manufacturing development (EDM), yang diperkirakan berlangsung sampai 2026. Setelah itu, jet tempur masuk tahap produksi massal.

Indonesia berencana membeli 48 unit KF-21 Boramae dalam program gabungan tersebut, sementara Korea Selatan membeli 120 unit. Dalam proyek itu, Indonesia tidak hanya membeli pesawat tempur dari Korsel, tetapi juga berupaya mendapatkan transfer teknologi dari pengembangan Pesawat Tempur KF-21 Boramae.

Oleh karena itu, RI bakal mengirimkan 37 ahli dan teknisi, serta dua personel test pilot bersertifikasi internasional dari TNI AU untuk mendapatkan alih teknologi di Korea Selatan. Pemerintah Indonesia menargetkan mengirim 100 ahli/teknisi dalam model rotasi ke Korsel untuk alih teknologi dalam periode 2021 sampai dengan pertengahan 2026. (tim redaksi)


#pesawattempur

#kerjasamapesawattempurRIkorsel

#tunggakanpembuatanpesawattempur

#menteripertahanan

#prabowosubianto

#TNIAU

#militer

Tidak ada komentar