Breaking News

Rencana Restrukturisasi Utang Luar Negeri, China Evergrande Muncul Umumkan Kerugian Rp1.216 Triliun

 
Gedung China Evergrande. (Ilustrasi/ Forbes.com via Getty Images)


WELFARE.id-Lama tak terdengar kabarnya, perusahaan properti Tiongkok Evergrande akhirnya mengumumkan telah mengalami kerugian sebesar 581,9 miliar yuan, atau sekitar Rp1.216,4 triliun, pada tahun 2021 dan 2022. Melansir BBC, Kamis (20/7/2023), pengumuman tersebut dipaparkan di hadapan Bursa Efek Hong Kong, menandai kerugian pertama sejak listing 2009. 

Laporan pembukaan ini dirilis, menjelang usulan rencana restrukturisasi utang luar negeri yang memungkinkannya untuk melanjutkan operasi normal. Itu dilakukan, sebagai upaya "menarik simpati" para investor. 

Pasalnya, raksasa properti Tiongkok ini berencana untuk merestrukturisasi utang luar negeri sebesar USD20 miliar. Perusahaan mengatakan, bahwa langkah-langkah ini akan membantu "upaya-upaya untuk melanjutkan operasi dan menyelesaikan masalah-masalah di (Tiongkok) daratan". 

Mereka membeberkan, bahwa Evergrande mengalami kerugian sebesar 476 miliar yuan pada 2021. Tahun berikutnya, kerugian sedikit berkurang menjadi 105,9 miliar yuan. 

Kerugian yang diderita disebabkan penurunan harga properti-properti milik Evergrande dan aset lainnya, serta tingginya biaya pinjaman. Dalam periode dua tahun terakhir, pendapatan Evergrande turun setengahnya. 

Pada 2021, pendapatan Evergrande hanya mencapai 250 miliar yuan, sedangkan tahun lalu 230 miliar yuan. Sebelumnya pada 2020 Evergrande mencatatkan keuntungan 8 miliar yuan. 

Laporan keuangan yang dipaparkan Evergrande memberikan para pemegang obligasi offshore dasar pertimbangan terhadap proposal restrukturisasi utang perusahaan tersebut. Evergrande akan mengadakan pertemuan dengan para pemegang obligasi offshore pada 24 dan 25 Juli mendatang. 

Seperti heboh diberitakan sejak dua tahun lalu, bahwa utang yang membengkak membuat Evergrande mengalami gagal bayar (default) pada akhir 2021. Mereka lalu mengumumkan program restrukturisasi utang luar negeri pada Maret 2023, setelah berjuang untuk menyelesaikan proyek dan membayar kembali para pemasok dan pemberi pinjaman. 

Utang Evergrande yang menggunung dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi sumber ketakutan dan keprihatinan serius tentang sektor properti Tiongkok yang merupakan fondasi utama ekonomi Negeri Panda. Ambruknya Evergrande langsung diikuti dengan gagal bayar dan menjamurnya proyek properti yang terbengkalai di seluruh Tiongkok. 

JP Morgan memperkirakan, bahwa sekitar 50 pengembang properti telah gagal membayar obligasi luar negeri senilai USD100 miliar (Rp1.500 triliun) selama dua tahun terakhir. Sementara lusinan telah ditangguhkan dari perdagangan di bursa saham Hong Kong. (tim redaksi)


#chinaevergrande

#restrukturisasiutangluarnegeri

#perusahaanraksasapropertitiongkok

#gagalbayar

#default

#utangmembengkak

#investor

#chinaevergrandeumumkankerugianperusahaan

Tidak ada komentar