Breaking News

Partai Nasdem Konsolidasi Undang 200 Ribu Kader di GBK, Presiden Jokowi Tak Diundang

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. (Istimewa/ net)

WELFARE.id-Partai Nasdem bakal mengumpulkan 200.000 kadernya dari seluruh wilayah Tanah Air pada Apel Siaga Perubahan yang bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, 16 Juli mendatang. Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik DPP Partai Nasdem Charles Meikyansah mengungkapkan, perhelatan itu bakal diisi oleh pidato politik dari Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan bakal calon presiden (bacapres) Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan.

"Pidato kebangsaan yang disampaikan terkait dengan kondisi sampai saat ini dan apa yang akan dilakukan Pak Anies ke depan sampai 2024," ujar Charles di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, dikutip Kamis (6/7/2023). Bahkan, tak tertutup kemungkinan pihaknya bakal mengumumkan cawapres Anies.

Namun, jika tidak, Charles memastikan akan ada informasi terbaru soal cawapres Anies. Misalnya, kata dia, Anies bisa saja menyampaikan ciri-ciri soal sosok cawapresnya. Meski bakal menggelar acara konsolidasi besar-besaran dan penting, Partai Nasdem dipastikan tak mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Ketua DPP Partai Nasdem Effendy Choirie alias Gus Choi beralasan, Jokowi tak diundang karena acara di GBK itu merupakan kegiatan internal partai. "Jokowi enggak diundang karena internal," kata Gus Choi, dikutip Kamis (6/7/2023). 

Namun, lanjutnya, elite Partai Demokrat dan PKS selaku anggota Koalisi Perubahan yang mengusung Anies Baswedan diundang. Sebelumnya, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh pernah mengungkapkan kekecewaannya, bahwa partai yang dipimpinnya diperlakukan layaknya oposisi. 

Namun, pihaknya menyampaikan tetap berkomitmen untuk mendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo. "Kita masih dalam barisan partai pemerintah dan kita belum dikeluarkan dan belum menyatakan keluar dari pemerintahan. Kalau ada ditanya partai ini partai oposisi, salah, siapa bilang, kita partai yang mengusung Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin," kata Paloh, bulan lalu.

"Jadi, kenapa partai pemerintah diperlukan seperti partai oposisi? Ah karena tingkat kematangan politiknya berbeda. Ini (masalah) kematangan berpolitik menyangkut visi. Kalau tingkat kematangan politiknya sama, pasti kita dianggap sebagai barisan partai pemerintah," kata Surya Paloh.

Surya Paloh juga menyatakan banyak yang menginginkan Partai Nasdem keluar dari partai barisan pemerintah. Menurutnya itu jangan lagi ditanya dan sudah terjawab dengan sendirinya.

"Semua ingin (Partai Nasdem keluar) kecuali Nasdem sendiri. Kenapa Nasdem tidak ingin ke luar dari pemerintah, kenapa? Jawabnya sederhana, dia berupaya sekuat hati untuk menjaga akal waras dan komitmen, moralitasnya dan menyatakan dia mengusung dan komit untuk tetap mendukung sampai akhir masa jabatan Jokowi," tegasnya.

Namun, menurutnya, kalau terus-menerus kesalahpahaman demi kesalahpahaman terjadi dan ada niat baik dianggap jahat, serta ingin maju ke depan dipaksa mundur ke belakang, maka itu menjadi pertanyaan. "Pertanyaannya, apakah kita masih memiliki rasa, hati, akal pikiran, jiwa yang sehat atau tidak? Kalau pertanyaan ini kita jawab, iya insyaallah kita masih memiliki itu. Maka, jangan pernah menyesali kalau kita harus setiap (saat) mengurut dada karena coba-cobaan yang kita hadapi itu merupakan konsekuensi," ucapnya bijak. (tim redaksi)


#partainasdem

#suryapaloh

#ketuaumumpartainasdem

#konsolidasipartai

#bacapres

#aniesbaswedan

#koalisiperubahanuntukpersatuan

#pilpres2024

Tidak ada komentar