Breaking News

Industri Nikel Naik Daun, Saham Diprediksi Ikutan Cuan

 

Produksi nikel.  (Ilustrasi/ Dok.Antam)


WELFARE.id-Sektor industri mineral terutama nikel tengah naik daun. Hal itu seiring dengan sentimen kendaraan listrik (electric vehicle/EV), di mana nikel menjadi salah satu komponen utama untuk bahan baku baterai.

Staf Khusus (Stafsus) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Irwandy Arif mengungkapkan, perkembangan hilirisasi industri Mineral dan Batubara (Minerba) yang paling cepat adalah hilirisasi nikel. "Memang kalau kita lihat yang paling pesat perkembangannya hilirisasi nikel, di mana sudah lebih dari 100 smelter yang ada yang mengarah kepada industri besi baja. Dengan produk Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel," kata Irwandy, melansir liputan6com, dikutip Sabtu (8/7/2023).

Beberapa perusahaan juga mulai menjajaki sektor ini. Beberapa terjun pada industri hulu. Beberapa lainnya memilih berjaga pada sektor hilir dan industri penopang lainnya seperti transportasi. Sentimen ini disebut menjadi sentimen positif untuk saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI). Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan mencontohkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). 

Felix menilai, ANTM lebih menguntungkan dengan menjual feronikel  yang merupakan produk turunan dari bijih nikel. Sebab, harga dan marjin dari feronikel lebih tinggi daripada hanya menjual bijih nikel.

"Selain itu memang ANTM sedang berencana mengoperasikan smelter feronikel di Halmahera Timur dan saya melihat itu sebagai komitmen ANTM untuk melanjutkan hilirisasi nikel,” kata Felix, melansir kontancoid, dikutip Sabtu (8/7/2023). Di satu sisi, jika keran ekspor bijih nikel dibuka kembali, Felix khawatir, hal ini dapat berdampak pada menurunnya harga nikel, karena Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia. 

Terlebih, saat ini Tiongkok sebagai konsumen nikel terbesar di dunia relatif stagnan pertumbuhan ekonominya, khususnya dari aktivitas konstruksi dan propertinya. Direktur PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) Andi Jaya menilai, walaupun harga bijih nikel Indonesia bisa lebih tinggi jika dijual ke luar negeri, sebaiknya tetap dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. 

Sehingga diharapkan, pemerintah perlu berpikir dengan bijaksana ke depan dalam membuat ketentuan-ketentuan yang berhubungan penjualan bijih nikel ke luar negeri. Saat ini, DKFT mengandalkan penjualan bijih nikel untuk menunjang industri smelter dalam negeri, dan tetap menjaga agar cadangan yang dimiliki dapat mencukupi kebutuhan sendiri sesuai dengan rencana pembangunan lanjutan smelter pengolahan dan pemurnian bijih nikel  DKFT.

Adapun saat ini DKFT sedang mengkaji opsi pengembangan fasilitas pemurnian/smelter hidrometalurgi untuk mengolah bijih nikel kadar rendah atau limonit. Melihat kondisi saat ini, Andi menilai sudah banyak sekali smelter nikel yang berdiri di Indonesia, di samping yang sedang dalam tahap konstruksi. 

"Ke depannya, seiring dengan pertumbuhan hilirisasi yang akan semakin baik, maka kebutuhan bijih nikel baik kadar tinggi maupun kadar rendah juga akan terus meningkat,” sambungnya.

DKFT menargetkan volume penjualan bijih nikel sebanyak 1,3 juta ton pada tahun ini, naik 43,88% dibandingkan realisasi penjualan tahun 2022. Sebagai pembanding, DKFT membukukan volume penjualan 903.518 ton bijih nikel di sepanjang 2022.

Sementara itu, ANTM menargetkan volume produksi dan penjualan feronikel di tahun 2023 masing-masing sebesar 27.201 ton nikel dalam feronikel (TNi). Jumlah ini tumbuh 12% dari capaian produksi unaudited feronikel tahun 2022 sebesar 24.334 TNI dan capaian penjualan unaudited tahun 2022 sebesar 24.210 TNI.

Felix merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp2.800. Selain ANTM, Felix juga merekomendasikan beli saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan target harga Rp5.500. (tim redaksi)


#bijihnikel

#hilirisasinikel

#sahamnikel

#bahanbakubateraikendaraanlistrik

#feronikel

#electricvehicle

Tidak ada komentar