Breaking News

India Jadi "Kolam Raksasa", 88 Orang Tewas dan Ratusan Lain Terluka Imbas Hujan Monsun

 
Banjir di India. (Istimewa/ AFP)


WELFARE.id-Sedikitnya 88 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka di negara bagian Himachal Pradesh akibat hujan monsun. Sejumlah mobil, bus, jembatan, dan rumah tersapu banjir besar.

Melansir AFP, Sabtu (15/7/2023), juru bicara pemerintah negara bagian Uttar Pradesh Shishir Singh mengatakan, sebanyak 12 orang tewas akibat insiden hujan deras sejak Rabu (12/7/2023) di negara bagian Uttar Pradesh. Singh menambahkan, sembilan dari mereka tenggelam, dua meninggal disambar petir, dan satu orang tewas akibat gigitan ular. 

Sementara satu orang tewas di New Delhi dan empat tewas di bagian Kashmir yang dikuasai India. Pihak berwenang secara khusus juga mengevakuasi para wisatawan yang terjebak di bagian Chandertal di negara bagian Himachal Pradesh. 

Puluhan turis asing terisolasi di Himalaya setelah banjir memutus sambungan jalan. Menurut Kepala Polisi Negara bagian Satwant Atwal kepada AFP, Sabtu (15/7/2023), tim penyelamat dikerahkan untuk membantu 40 pelancong asing, termasuk 14 orang Rusia, dan 12 orang Malaysia yang terdampar di tujuan wisata bersama beberapa ratus warga negara India, 

"Karena hujan salju lebat dan cuaca buruk, sangat sulit untuk mengevakuasi mereka. Kami sedang menjajaki semua opsi yang memungkinkan," kata Ketua Menteri Sukhvinder Singh Sukhu.

Hujan yang tak henti-hentinya,  telah menyebabkan kerusakan yang signifikan di seluruh negara bagian Punjab, dengan sedikitnya 10 orang tewas dalam banjir bandang. "Ada korban jiwa dan harta benda yang sangat besar, kerugian sedang ditaksir," kata Menteri Pendapatan Negara Brahm Shankar Jimpa.

Sementara di Ibu Kota New Delhi, pemerintah daerah memberlakukan status siaga tinggi untuk banjir setelah sungai Yamuna, yang melewati megacity karena ketinggian airnya mencatat level tertinggi sejak 1978. Hampir 170 rumah ambruk dan 600 lainnya sebagian rusak akibat hujan lebat dan tanah longsor di negara bagian itu. 

Di New Delhi, daerah pemukiman yang dekat dengan Sungai Yamuna kebanjiran. Sehingga menenggelamkan jalan, mobil, dan rumah. 

Selain itu, ribuan orang dievakuasi dari daerah dataran rendah. Ketinggian air Sungai Yamuna yang mengalir melalui ibu kota India mencapai rekor mencapai 207,71 meter (681,5 kaki) atau tertinggi dalam 40 tahun pada Rabu malam lalu.  Pihak berwenang telah mengevakuasi hampir 30 ribu orang ke kamp bantuan dan mengubah beberapa sekolah menjadi kamp bantuan di daerah yang terkena dampak paling parah. 

Ratusan orang dengan ternaknya juga berlindung di bawah jembatan jalan raya di bagian timur ibu kota India. Tiga pusat pengelolaan air di Delhi telah berhenti beroperasi akibat banjir. 

Kepala Menteri Arvind Kejriwal  mengatakan, saluran air bersih akan dijatah, sehingga kemungkinan besar penduduk akan kesulitan memperolehnya untuk beberapa hari ke depan. Kendaraan besar, selain yang digunakan untuk mengangkut kebutuhan esensial, telah dilarang memasuki daerah Delhi.

Lebih dari 16.000 warga telah menempati tenda-tenda yang dipasang di kolong jalanan layang oleh pemerintah Delhi. Tim penanggulangan bencana juga telah dikirim ke beberapa daerah untuk melakukan operasi penyelamatan di titik-titik yang terkena banjir.

Ia meminta pemerintah federal mengatur jumlah air yang mengalir dari Bendungan Hathnikund di Haryana, yang ia sebut sebagai penyebab Sungai Yamuna meluap. Rajesh Singh, seorang pemilik pabrik, terjebak dengan sepeda motornya selama berjam-jam karena air banjir menghalangi kedua sisi jalan di dekat tepi sungai.  

"Saya belum pernah melihat yang seperti ini dalam 22 tahun terakhir," ujarnya. Badan cuaca India memperkirakan akan ada lebih banyak hujan lebat di bagian utara dalam beberapa hari mendatang. 

Hujan muson di seluruh negeri telah membawa curah hujan sekitar 2 persen lebih banyak dari biasanya. Para ilmuwan mengatakan, musim hujan menjadi lebih tidak menentu karena perubahan iklim dan pemanasan global. 

Hal ini menyebabkan seringnya tanah longsor dan banjir bandang di Himalaya. "Perubahan iklim akibat ulah manusia telah mengintensifkan ekstrem hidrologi di India, dan banjir baru-baru ini di beberapa bagian India utara adalah contoh lain bagaimana peristiwa ekstrem bisa lebih berbahaya di daerah perbukitan dibandingkan di dataran," ujar Akshay Deoras, ilmuwan peneliti di Pusat Sains Atmosfer Nasional Inggris dan Departemen Meteorologi University of Reading, melansir DW, Sabtu (15/7/2023).

Deoras mengatakan peristiwa cuaca ekstrem akan semakin intensif karena suhu planet ini terus meningkat akibat naiknya emisi gas rumah kaca. "Ini tidak berarti bahwa peristiwa berdampak tinggi akan terjadi setiap tahun," ulasnya. (tim redaksi)


#banjirdiindia

#banjirindia

#cuacaekstrem

#wargaindiamengungsi

#evakuasibanjir

#hujanlebat

Tidak ada komentar