Breaking News

Gara-Gara Jepang, Produk Garam Mendadak Raib di Supermarket Korsel

 

Produk garam di supermarket Korea Selatan. (Istimewa)


WELFARE.id-Warga Korea Selatan mulai menimbun garam dan sejumlah barang kebutuhan lainnya menyusul kebijakan Jepang untuk melepas air radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima ke laut. Kebijakan tersebut akan dilakukan paling cepat Agustus setelah mendapatkan persetujuan dari pengawas nuklir PBB.

Fenomena panic buying atau membeli barang secara berlebihan pun tak bisa dihindari di Korsel. Warga Korsel ramai-ramai memborong dan menimbun garam laut, demi mengantisipasi langkah Jepang tersebut.

Jepang akan melepaskan lebih dari satu juta metrik ton air ke Pasifik, yang digunakan untuk mendinginkan reaktor yang rusak di pembangkit listrik di utara Tokyo. Pembangkit listrik Fukushima rusak usai dilanda gempa bumi dan tsunami pada 2011 lalu.

Tokyo berulang kali meyakinkan bahwa air limbah radioaktif itu aman dan telah disaring untuk menghilangkan sebagian besar kandungan isotop, meskipun masih tetap mengandung jejak tritium. Meski Jepang belum menetapkan tanggal pembuangan, namun pengumuman ini sudah membuat para nelayan di seluruh wilayah dilanda kekhawatiran.

Dalam hal ini otoritas perikanan Korea Selatan berjanji untuk meningkatkan upaya memantau tambak garam alami, terkait peningkatan zat radioaktif dan mempertahankan larangan makanan laut dari perairan dekat Fukushima. "Saya baru saja membeli lima kilogram garam. Saya belum pernah membeli garam sebanyak itu sebelumnya," kata seorang warga bernama Lee Young Min, melansir Independent, Rabu (12/7/2023).

Ia menambahkan, sebagai seorang ibu yang membesarkan dua anak, dia tidak bisa hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. "Saya ingin memberi mereka makan dengan aman," akunya.

Sementara itu, lanjutnya, seorang warga lain mengaku khawatir pelepasan air limbah bukan hanya menyebabkan masalah kesehatan, namun juga menaikkan harga garam dan makanan laut hingga 27 persen pada Juni. Namun pejabat setempat tak menampik faktor cuaca dan produksi rendah juga menyebabkan tingginya harga garam.

Warga Korsel sendiri telah menjalankan aksi protes hingga turun ke jalan. Mereka khawatir pelepasan limbah air ini akan mengakibatkan kontaminasi pada makanan dari laut. 

Bahkan menurut Channel News Asia, Rabu (12/7/2023), sebuah survei menyatakan, tujuh dari sepuluh orang di sana akan mengurangi konsumsi makanan jika air tetap dilepaskan. Sebagai tanggapan, pemerintah Korea juga memutuskan untuk melepaskan sekitar 50 metrik ton garam per hari dari stok, dengan diskon 20 persen dari harga pasar hingga 11 Juli.

Menurut lembaga survei Research View, lebih dari 85 persen publik Korsel menentang rencana Jepang. Tujuh dari 10 orang mengatakan akan mengonsumsi lebih sedikit makanan laut, jika pembuangan air limbah tetap dilanjutkan. (tim redaksi)


#panicbuying

#garam

#wargakorselpanicbuying

#hargagaramnaik

#rencanapembuanganlimbahjepang

#reaktornuklirfukushima

Tidak ada komentar