Breaking News

Banding Teddy Minahasa Diputus Hari Ini, Pengacara Yakin Tak Akan Divonis Mati

Teddy Minahasa. (Istimewa/ antara)


WELFARE.id-Pengadilan Tinggi DKI Jakarta akan menggelar sidang putusan banding mantan Kapolda Sumatera Barat (Sumbar) Teddy Minahasa, hari ini. Teddy sebelumnya divonis penjara seumur hidup oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat (PN Jakbar) atas perkara peredaran narkoba.

Sidang putusan banding Teddy Minahasa sedianya digelar PT DKI pada Rabu (21/6/2023) lalu. Namun, PT DKI menunda sidang tersebut karena majelis hakim masih mempelajari dan meneliti berkas perkara.

"Maka sidang pembacaan putusan yang sedianya diselenggarakan Rabu, tanggal 21 Juni 2023, oleh majelis hakim tingkat banding yang bersangkutan ditunda menjadi hari Kamis tanggal 6 Juli 2023 pukul 09.30 WIB," kata pejabat Humas PT DKI Binsar Pamopo Pakpahan, dikutip Kamis (6/7/2023).

Diberitakan sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat atau PN Jakbar menjatuhkan hukuman pidana penjara seumur hidup kepada Teddy Minahasa Putra. Hakim menyatakan Teddy Minahasa yang merupakan mantan Kapolda Sumatera Barat (Sumbar) terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dalam kasus peredaran narkoba.

"Menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup," kata hakim saat membacakan putusan vonis terhadap Teddy dalam persidangan di PN Jakbar, Selasa (9/5/2023).

Dengan putusan ini, Teddy Minahasa lolos dari hukuman mati yang sebelumnya dituntut jaksa penuntut umum. Mengenai prediksi hasil putusan banding, Pengacara Teddy Minahasa, Hotman Paris, mengaku yakin kliennya tidak akan dijatuhi hukuman mati di tingkat banding.

"Saya optimistis tidak akan hukuman mati karena tidak ada alasan untuk itu. Harapan saya harusnya bebas. Karena dalam teori hukum apabila terjadi pelanggaran hukum acara, maka terdakwa harus bebas terlepas dari apakah cukup bukti atau apakah keyakinan hakim," kata Hotman kepada wartawan, dikutip Kamis (6/7/2023).

Hotman optimistis Teddy Minahasa bebas dari segala hukuman. Hotman mengatakan, Teddy Minahasa telah menorehkan sejumlah prestasi selama di kepolisian.

"Ngapain (dihukum) seumur hidup sementara dia tanda jasa dari presiden ada 24," ucap pengacara nyentrik itu. Hotman mengatakan, hakim di tingkat pertama telah melanggar hukum acara dengan tidak memeriksa saksi yang mengetahui pemusnahan narkoba. 

Hotman juga menyebut tidak ada bukti Teddy Minahasa menerima uang dari hasil penjualan narkoba. "Kalau menurut teori kalau hukum acara dilanggar, maka terdakwa harus dibebaskan terlepas dari cukup tidaknya bukti terlepas dari keyakinan hakim. Saksi penting tidak diperiksa yaitu semua saksi semua pejabat yang hadir pada saat pemusnahan narkoba tidak diperiksa jadi bagaimana bisa terjadi penggantian narkoba dengan tawas kalau saksi tidak pernah diperiksa waktu pemusnahan," bebernya.

Pengacara kondang itu juga meyakini, tidak ada bukti Teddy Minahasa terima uang hasil penjualan narkoba. Maka itu, dirinya mengaku yakin majelis hakim akan mengurangi hukuman bila ternyata tidak menjatuhkan vonis bebas terhadap Teddy. 

Hotman mengatakan telah mengganti strategi pembelaan dengan menyerahkan puluhan yurisprudensi. "Alternatif kedua kalau pun tidak bisa bebas alternatif kedua, karena saya sudah mengubah strategi pembelaan di pengadilan tinggi, alternatif kedua setidak-tidaknya saya optimistis hukumannya dikurangi. Karena saya sudah kasih puluhan yurisprudensi di mana orang diadili barang bukti narkoba sekitar 5 sampai 10 kg hanya divonis sekitar 15 tahunan," ulasnya lagi.

Sebelumnya, saat menjatuhkan vonis terhadap Teddy Minahasa, majelis hakim mempertimbangkan sejumlah hal. Untuk hal-hal yang memberatkan hukuman yakni Teddy dinilai tidak mengakui dan menyangkal perbuatannya. 

Teddy juga dinilai berbelit saat memberikan keterangan. Tak hanya itu, Teddy juga dinilai menikmati penjualan narkotika jenis sabu. 

Sebagai anggota kepolisian dengan jabatan Kapolda Sumbar, Teddy seharusnya mendukung upaya pemberantasan narkoba. Hakim kala itu juga menyatakan Teddy Minahasa telah merusak nama baik institusi Polri, mengkhianati perintah Presiden Jokowi untuk memberantas peredaran narkoba.

Sedangkan untuk hal-hal yang meringankan hukuman, majelis hakim PN Jakbar menyebutkan Teddy tidak pernah dihukum dan telah mengabdi sebagai anggota Polri selama 30 tahun dengan mendapat sejumlah penghargaan. Dalam perkara ini, Teddy Minahasa didakwa menjual sabu hasil sitaan Polres Bukittinggi. (tim redaksi)


#teddyminahasa

#putusanbandingteddyminahasa

#pengacara

#hotmanparishutapea

#pengadilantinggiDKIjakarta

#mantankapoldasumbar

Tidak ada komentar