Breaking News

Antraks Tak Bisa Menular dari Manusia ke Manusia, Tapi Sporanya Bisa Bertahan Puluhan Tahun!

Ciri antraks pada manusia. (Ilustrasi/ net)

WELFARE.id-Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan pemantauan pada sedikitnya 23 warga yang diketahui bergejala akibat positif antraks. Dari temuan Dinas Kabupaten Gunungkidul, sedikitnya terdapat 85 warga yang positif, bukan 87 seperti yang dilaporkan, dan mayoritas tidak bergejala.

Adapun 125 warga yang ikut menyembelih dan mengonsumsi daging sapi yang positif antraks itu telah diambil sampel darahnya untuk diperiksa lebih lanjut di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Jogjakarta. Dari hasil pemeriksaan, diketahui 85 warga positif antraks, dan yang bergejala ada 18 orang.

Warga yang diambil sampel darahnya mengalami gejala luka-luka khas antraks. Ada juga yang mengalami diare, mual, pusing, dan sebagainya. 

Untuk mereka yang bergejala maupun tidak, tetap mendapatkan antibiotik sebagai penanganan. "Namun demikian, tidak ada warga yang harus dirawat di RS karena bergejala," kata Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty, dikutip Jumat (7/7/2023).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Pembajun Setyaningastutie memastikan, penyakit antraks yang disebabkan bakteri Bacillus Anthracis tidak menular dari manusia ke manusia. "Satu yang perlu digarisbawahi, penyakit antraks itu tidak menular dari manusia ke manusia. Jadi tidak ada kemudian kena antraks terus bisa menularkan pada yang lain, tidak," tegasnya, dikutip Jumat (7/7/2023).

Dia mengatakan, atraks termasuk penyakit "zoonosis" atau penyakit yang bisa menular dari binatang ke manusia. Cara penularannya bisa melalui tiga jalur yakni melalui kulit, pernapasan, dan pencernaan.

"Jika muncul di kulit biasanya manusia itu bersentuhan dengan hewan ternak yang positif antraks," ulasnya. Sedangkan yang menyerang melalui pernapasan, kata dia, berasal dari spora bakteri antraks dari hewan ternak yang telah mati karena positif antraks lalu terhirup manusia.

"Sporanya misalnya dari hewan yang mati karena antraks kemudian nempel di rumput kemudian terhirup," jelasnya. Berikutnya, penularan antraks melalui pencernaan biasanya karena mengonsumsi daging dari ternak yang sudah positif antraks.

Terkait kasus antraks yang muncul di Dusun Jati, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, sambungnya, penularan disebabkan karena warga mengonsumsi daging sapi yang mati karena positif antraks. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan atau Kemenkes Imran Pambudi menjelaskan, penularan antraks tipe pernapasan, case fatality rate-nya sampai 80 persen. 

Ini yang membuat penderitanya cepat meninggal," ujar Imran dalam webinar yang digelar Kementerian Kesehatan, dikutip Jumat (7/7/2023). Dalam banyak kasus, Imran menyebut bakteri antraks yang masuk ke paru-paru juga menjalar ke selaput otak. 

Hal ini membuat infeksinya menjadi meningitis antraks. Dinkes DIY telah melakukan sero survei pada 125 sampel orang di dusun itu dan hasilnya 85 sampel dinyatakan sero positif atau suspek antraks.

Satu dari 85 orang meninggal dunia karena positif antraks. Sedangkan dua lainnya meninggal dunia karena sebab lain.

"Yang dua itu sebab lain bukan karena antraks," terangnya. Entomolog Kesehatan Dinkes DIY Rega Darmawan menyarankan, warga Gunungkidul yang dinyatakan suspek antraks masih harus menjalani pemeriksaan sampel darah, hari ini.

Menurut dia, seseorang dinyatakan positif antraks apabila telah melalui dua kali pemeriksaan sampel darah atau sero survei dengan hasil sero positif. "Bisa dikatakan positif antraks kalau sudah dilakukan dua kali pemeriksaan dan itu dua-duanya sero positif. Apabila sebelumnya sudah diperiksa hasilnya sero positif, kemudian minimal 10 hari setelahnya diperiksa lagi, dia sero positif lagi, itu artinya positif," terangnya.

Untuk mencegah penularan antraks meluas, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Sugeng Purwanto melarang lalu lintas keluar maupun masuk hewan ternak sapi atau kambing di Dukuh Jati, Gunungkidul untuk sementara waktu. 


Antraks Jadi Penyakit Endemis di Gunungkidul


Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nuryani Zainudin menyebut, penyakit antraks bukan penyakit yang dapat dibebaskan dari suatu daerah. Hal ini diakibatkan spora antraks dapat bertahan di tanah hingga puluhan tahun.

Salah satu tempat di Indonesia yang menjadi lokasi endemi dan tak bisa dibebaskan dari antraks adalah Gunungkidul. "Gunungkidul memang endemis antraks. Ketika tidak ditangani dengan baik, maka akan terus menerus (berlanjut) kasusnya," bebernya.

Dia menjelaskan, Kementerian Pertanian sudah rutin membagikan vaksin antraks gratis untuk hewan ternak di kawasan Gunungkidul. Namun karena spora antraks yang masih bertahan di tanah dan kebiasaan masyarakat setempat membagikan daging hewan ternak yang mati tanpa disembelih, membuat penularan kawasan itu berisiko tinggi terpapar antraks.

Lebih lanjut, Imran menjelaskan hampir setiap tahunnya ada laporan kasus penyakit antraks yang menular ke manusia di Jogja. Seperti pada 2016 ada 16 kasus, 2017 ada 4 kasus, 2019 ada 31 kasus, 2020 ada 3 kasus, 2022 ada 23 kasus, dan pada 2023 ada 9 kasus dengan 3 di antaranya meninggal.

"Di 2023 baru ada kematian. Satu dinyatakan suspect karena sudah ada hasil lab-nya dan dua belum sempat karena keburu meninggal," urainya.

Lebih lanjut, Imran menyebut pada kasus sebelumnya masyarakat yang terinfeksi hanya menunjukkan gejala gatal-gatal karena bakteri hanya mengenai kulit. Namun untuk saat ini, bakteri diduga sudah masuk ke bagian pernapasan dan menginfeksi otak. (tim redaksi)


#wabahantraksdigunungkidul

#gunungkidulendemisantraks

#penularanantraks

#zoonosis

#korbanmeninggal

#makanbangkaisapiantraks

#gunungkiduljogja

#DIY

Tidak ada komentar