Breaking News

Siklus Menstruasi Acak-acakan Bisa Jadi Gejala Diabetes, Cek Berkala dan Tentukan Pola

 

Cara menghitung siklus haid. (Ilustrasi/ iStockphoto)


WELFARE.id-Ada beberapa gejala sebelum diabetes benar-benar muncul dan mengganggu kesehatan individu. Maka itu, kita perlu mengetahui tanda-tanda pradiabetes, selain wajib melakukan cek gula darah secara teratur.

Bagi individu wanita, dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrin metabolik diabetes dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr Leny Puspitasari, SpPD-KEMD mengatakan, bahwa diabetes pada wanita dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur. "Diabetes dan siklus menstruasi ini sangat berhubungan. Diabetes membuat siklus menstruasi tidak teratur," kata Leny dalam acara diskusi kesehatan di Jakarta, dikutip Jumat (9/6/2023).

Siklus menstruasi yang normal, lanjutnya, adalah 23-35 hari. Namun, siklus menstruasi pada wanita dengan diabetes bisa jadi lebih panjang, lebih pendek, atau bahkan tidak muncul.

Dokter lulusan Universitas Brawijaya itu menambahkan, gangguan siklus menstruasi bisa terjadi pada wanita, baik yang menderita diabetes melitus tipe 1 maupun tipe 2. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh faktor hormonal.

Wanita dengan diabetes melitus tipe 2 berisiko mengalami anovulasi atau ovulasi yang tidak normal. Di mana ovarium tidak melepaskan sel telur ke tuba falovi. 

Sementara itu, wanita dengan diabetes melitus tipe 1 biasanya mengalami menopause lebih awal. Di samping diabetes membuat siklus menstruasi tidak teratur, dia juga mengatakan, sebaliknya juga bisa terjadi, yakni menstruasi juga mempengaruhi terjadinya diabetes.

Lebih jauh dia menjelaskan, kadar gula darah dapat berubah-ubah selama siklus menstruasi. Pada hari pertama hingga hari ke-10 pada siklus menstruasi yang normal, sensitivitas insulin normal karena progesteron rendah, meski kadang-kadang masih ada sedikit peningkatan gula darah di awal.

Selanjutnya pada hari ke-11 hingga 14 yang merupakan fase ovulasi, gula darah meningkat sesaat. Pada fase ini, terjadi peningkatan resistensi insulin karena peningkatan LH, FSH, dan estrogen.

Pada hari ke-15 hingga 20, kadar gula darah relatif stabil. Lalu pada hari ke-21 hingga 28 atau sekitar seminggu sebelum menstruasi, terjadi peningkatan kadar gula darah yang cukup signifikan karena peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan peningkatan resistensi insulin.

"Jadi ada fase yang terjadi peningkatan gula darah, yaitu fase ovulasi dan fase di hari ke-21 hingga 28," terangnya lagi. Mengingat eratnya kaitan antara diabetes dan siklus menstruasi, dirinya mengimbau para wanita untuk mencatat siklus menstruasi setiap bulan paling tidak selama 3-6 bulan. 

Kemudian, pelajari pola gula darah dengan mencatat kadar gula darah selama minimal dua bulan. Dengan begitu, menurut Leny, dapat ditentukan apakah ada keterkaitan antara peningkatan gula darah dengan siklus menstruasi.

"Setelah dicatat dua-duanya, baru kita matching-kan, setelah itu kita sesuaikan dosis obat yang kita punya. Berapa banyak yang mau kita naikkan, itu tergantung dari hasil pencatatan yang sudah ada (dengan bantuan dokter)," imbuhnya.


Konsumsi Vitamin K Cegah Diabetes


Sementara itu, sebuah riset dari tim peneliti Universite de Montreal, Kanada menunjukkan, bahwa kandungan vitamin K yang banyak terkandung pada sayuran hijau dapat mengatur tingkat gula darah dalam tubuh sehingga dapat mencegah timbulnya risiko penyakit diabetes. Vitamin K adalah nutrisi penting untuk pembekuan darah serta kesehatan tulang dan jantung. 


Kandungan nutrisi tersebut dapat mencegah penumpukan kalsium dalam arteri sehingga dapat mengurangi risiko tekanan darah tinggi serta penyakit jantung dan ginjal. Beberapa makanan yang kaya akan kandungan vitamin K antara lain sayur-sayuran seperti kangkung, bayam, kubis Brussel, kubis, brokoli, dan pada daging seperti hati sapi, daging sapi giling, ayam, dan bacon.


Melansir Medical Daily, Jumat (9/6/2023), melaporkan, hasil riset yang dipublikasikan di Cell Reports tersebut tidak hanya menyatakan keterkaitan antara vitamin K dan diabetes, tapi juga menunjukkan bagaimana vitamin tersebut membantu tingkat gula darah tetap terkendali. "Diabetes diketahui disebabkan oleh berkurangnya jumlah sel beta atau ketidakmampuan untuk memproduksi insulin yang cukup, oleh karena itu kami sangat tertarik dengan temuan baru ini. Untuk menjelaskan mekanisme sel di mana vitamin K mempertahankan fungsi sel beta, penting untuk menentukan protein mana yang menjadi target gamma-karboksilasi dalam sel-sel ini," kata kepala tim riset Mathieu Ferron.


Tim riset tersebut menemukan jenis protein baru yang bergantung pada vitamin K sehingga dapat membuka jalan bagi terciptanya ranah riset baru. "Kami dapat mengidentifikasi protein gamma-karboksilasi baru yang disebut ERGP. Riset kami menunjukkan bahwa protein ini berperan penting dalam menjaga tingkat fisiologi kalsium dalam sel beta untuk mencegah hambatan pada sekresi insulin. Akhirnya, kami menunjukkan bahwa vitamin K melalui gamma-karboksilasi penting bagi ERGP untuk melakukan perannya," tambah Julie Lacomba, selaku anggota dari tim riset tersebut. (tim redaksi)


#diabetesmelitus

#kaitandiabetesdansiklusmenstruasi

#siklusmenstruasipadawanita

#guladarahtinggi

#insulin

#diabetestipe1

#diabetestipe2

Tidak ada komentar