Breaking News

Siap-Siap, Harga Gula Nasional Bakal Naik Tahun Ini

 

Gula pasir. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Setelah rata-rata harga beras eceran naik 11,34 persen secara year on year (yoy) atau 0,48 persen secara month to month (mtm) pada April 2023, kini giliran gula yang direncanakan akan naik harganya. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyampaikan, saat ini pemerintah tengah menggodok Harga Pokok Penjualan (HPP) tebu dan gula di petani, serta Harga Acuan Penjualan (HAP) gula di tingkat konsumen. 

Adapun alasan diaturnya kembali HPP dan HAP dari komoditas tersebut karena memang terjadi kenaikan harga gula di internasional, sehingga harga di tingkat nasional juga ikut terkoreksi. Pemerintah akan melakukan penyesuaian harga pokok penjualan (HPP) gula petani dan harga acuan penjualan (HAP) gula di tingkat konsumen. 

Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas,) I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan, harga gula petani naik menjadi Rp12.500 per kg dari sebelumnya Rp11.500 per kg. "Tebu petani kita naikkan, bukan semata-mata harga gula yang kita naikkan, tetapi harga tebu petani juga dari Rp11.500 menjadi Rp12.500 di harga petani," kata Ketut dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2023 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (8/6/2023). 

Adanya kenaikan harga gula di tingkat petani, tentu akan berpengaruh terhadap harga di tingkat konsumen. Sehingga, lanjutnya, pihaknya juga akan mengatur harga gula di tingkat konsumen.

"Oleh karena itu harga juga terkoreksi di tingkat nasional. Mungkin juga ada pengaruh perang Ukraina dan lain sebagainya, saya kira itu sedikit berpengaruh," tutur dia.

Misalnya, menurut perhitungan pemerintah, harga gula di wilayah Jawa akan naik menjadi sekitar Rp14.500 hingga Rp15.500 per kg. Sedangkan di wilayah Indonesia Timur dan daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal) naik menjadi Rp15.500 per kg. 

Sementara untuk wilayah Barat akan diatur harganya di angka Rp14.500 per kg. "Oleh karena itu, kita memang sudah menghitung dan melibatkan semua pihak, ini yang pasnya memang mesti (harus) naik harganya, mungkin normal-normalnya bisa Rp15.000 atau Rp14.500 yang ada di wilayah Jawa. Mungkin di daerah Papua, Maluku, daerah timur, dan perbatasan itu tidak mungkin sama, dan tidak pernah sama harganya. Di wilayah timur berbeda Rp1.000 lebih tinggi dari wilayah barat," jelas Ketut.

Meski menaikkan harga gula, dirinya yakin, kenaikan harga gula tidak menyumbang inflasi yang tinggi. Pasalnya, pemerintah telah memperhitungkan harga wajar, baik di tingkat petani, pedagang, dan konsumen.

Adapun usulan HAP gula konsumsi di tingkat petani menjadi Rp 12.500 per kg, angka itu naik 8,70% dari HAP sebelumnya. Sementara, usulan HAP gula konsumsi di tingkat konsumen Rp 14.500 per kg, itu naik 7,41% dari HAP sebelumnya.

"Sebagai tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden, harga wajar harus kita tentukan. Jadi kita mulai dari hulu, kemudian baru kita bawa ke hilir. Oleh karena itu, kami juga dengan kebijakan harga ini kami bedakan, kami zonasikan. Karena tidak mungkin juga harga kita buat sama di Jawa dengan di Papua, tidak mungkin kita buat harga sama di Jawa dengan daerah perbatasan, otomatis pasti berbeda," bebernya lagi.

Ia mengatakan kenaikan tersebut masih belum terjadi, karena masih digodok di pemerintahan, "Tetapi ini belum naik, kami masih menggodok," sebutnya.

Lebih lanjut, Ketut menyampaikan bahwa harga gula konsumsi saat ini telah mengalami kenaikan. Secara nasional rata-rata kenaikannya sudah mencapai Rp14.500 per kg dan tertinggi berada di daerah Papua yang mencapai Rp16.000 per kg. 

Adapun, aturan terkait harga acuan tersebut tinggal menunggu persetujuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan kemungkinan akan diterbitkan tahun ini. (tim redaksi)


#hargagulabakalnaiktahunini

#hargagulanasional

#HPP

#HAP

#Bapanas

#hargaacuangula 

#gulanasional

Tidak ada komentar