Breaking News

Seniman Lukis Kesayangan Bung Karno, Sudarso Sang Pelukis Realis yang Piawai Menggambar Objek Perempuan Jawa


Karya seni old master seniman Sudarso yang banyak dikoleksi Presiden ke-1 RI Soekarno, di antaranya "Wanita Berselendang Pelangi" (1950-1970) dan "Dik Kedah" (1952). (Istimewa/ Dok. Sekretariat Presiden)


WELFARE.id-Indonesia tak pernah kehabisan seniman lukis. Satu di antara nama besar master lukis tanah air yang pernah hidup, ada nama Sudarso. 

Seniman old master kelahiran Ajibarang, Purwokerto, Jawa Tengah itu pernah bergabung dalam "Kelompok Lima" bersama Affandi, Hendra Gunawan, Barli Sasmitawinata, dan Wahdi Sumanta. 

Ia yang kelahiran 26 Juli 1914 itu lama tinggal di Bandung ketika muda. 

Melansir berbagai sumber, Selasa (20/6/2023), upaya menyambung hidup bekerja sebagai pengantar susu di Bandung, justru membawanya kepada pertemanan sesama seniman. 

Sebab, dari sekian pelanggannya, salah satunya adalah Affandi. 

Gara-gara pertemanannya dengan Affandi, jiwa seni dalam diri Sudarso yang selama ini "tertidur" kembali bangkit. Sejak 1937, ia intens belajar melukis di Bandung bersama pelukis Affandi dan Barli.

Kalau ditanya sejak kapan hobi melukisnya tumbuh, Sudarso sudah mulai menggambar sejak kanak-kanak. Hobinya menggambar tokoh-tokoh perwayangan. 

Tapi memang, jika dibandingkan pelukis sekelas Dullah, Hendra Gunawan, Affandi, dan Basoeki Abdullah, nama Sudarso tak senyaring sang maestro. 

Namun, siapa sangka cara dan objek lukis Sudarso rupanya memenuhi selera Presiden ke-1 RI Soekarno. 

Lukisan Sudarso bergaya realis dan ia lebih suka memilih dan sering menggunakan cat minyak yang lembut sebagai medium melukis karya-karyanya.

Beberapa karyanya mengambil objek berupa lansekap, tetapi kebanyakan lukisan potret. 

Umumnya, karya Sudarso menonjolkan sosok wanita desa yang sederhana, polos, dan lugu. Seakan dari lukisannya, ia bisa menangkap psikologi wanita desa. 

Ditambah dengan latar pemandangan alam sebagai latar gaya yang khas, membuat energi alam dalam lukisan karya Sudarso terpancar. 

Tak heran, jika beberapa karya lukis Sudarso merupakan koleksi Bung Karno dan kini dikoleksi Istana Kepresidenan. 

Sudarwoto, anak keempat dari Sudarso menceritakan, dari 3.000 lukisan yang dikoleksi Istana Kepresidenan, ada 8 lukisan Sudarso yang tercatat dikoleksi Istana. 

"Sampai saat ini yang ketahuan ada di dalam buku catatan Bung Karno ada 8," ujar Kurator Seni Mikke Susanto, dikutip dari detikcom, Selasa (20/6/2023). 

Kenapa Soekarno suka mengoleksi karya Sudarso? 

Melansir laman resmi Sekretariat Kabinet, Selasa (20/6/2023), Soekarno adalah seorang pejuang yang militan, demikian juga Sudarso yang juga merupakan seorang pejuang dan pelukis yang militan.

Kesamaan lainnya adalah keduanya sama-sama menyukai dunia pewayangan. Jika Bung Karno menyukai alam Indonesia, Sudarso juga membuktikan kecintaannya pada pemandangan dengan melukiskannya di atas kanvas. 

Hubungan kedua tokoh ini sudah terjalin sepanjang tiga dasawarsa, sehingga diantara mereka sangat dekat. Bukti kedekatan mereka ditunjukkan dengan banyaknya lukisan Sudarso yang kemudian dikoleksi oleh Soekarno.

Meskipun Sudarso banyak melukis objek selain perempuan, akan tetapi ciri khas lukisan Sudarso adalah lukisan berobjek perempuan. Perempuan yang menjadi objek lukisannya adalah perempuan mengenakan pakaian tradisional Jawa yang merupakan tipikal dari karya-karya pelukis Jogjakarta yang mengusung estetika kerakyatan. 

Lukisannya seringkali menggunakan latar belakang pemandangan atau ruang kosong. Warna-warna yang digunakan dalam lukisannya senada antara satu dan yang lainnya, dengan paduan dan pengolahan warna yang sangat matang.

Sudarso ingin menciptakan sebuah kesan kesederhanaan, tetapi penjiwaannya sangat mendalam. Pandangan estetika yang berkembang dari kondisi sosiokultural yang galau dan berat, menjadi cerminan suatu jiwa zaman yang sedang tumbuh pada saat itu. 

Ia ingin menyuguhkan karyanya kepada para penikmatnya untuk mencermati spirit ruang dan karakter dari setiap perempuan yang ditampilkan dalam lukisannya.

 Dalam setiap karya-karya yang dihasilkannya, Sudarso melukiskan model dan pola hias yang berbeda pada pakaian yang dikenakan oleh perempuan yang menjadi objek lukisannya. 

Dengan penguasaan teknik melukis yang dimilikinya, setiap objek ditampilkan secara realis. "Dik Kedah" misalnya, adalah salah satu contoh lukisan bergaya realisme yang menggambarkan seorang perempuan pekerja keras dengan wajah yang menyiratkan kesan tajam dalam menjalani kehidupan.

Gaya realisme yang halus yang dimiliki Sudarso mampu menampilkan sosok perempuan desa yang lugu tetapi memiliki keistimewaan bentuk tangan dan kaki yang begitu indah. Affandi semasa hidup pernah memuji Sudarso yang hobi menggambar wanita desa. 

Affandi menyebutnya sebagai pelukis Indonesia yang pandai menggambar kaki dan tangan perempuan. Selanjutnya, lukisan "Wanita Berselendang Pelangi" menggambarkan seorang perempuan desa yang sedang duduk dengan pakaian kebaya berwarna biru dan kain panjang batik berwarna merah dengan selendang berwarna hijau berpadu dengan merah bercorak titik-titik kuning dengan latar belakang kosong. 

Selama dekade 1950-an Sudarso menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Jogjakarta. Sudarso memang sudah meninggal dunia di Purwokerto, Jawa Tengah, 22 Juni 2006, namun karya-karyanya masih tersimpan rapi sebagai koleksi negara dan dimiliki kolektor seni dalam dan luar negeri. (tim redaksi)


#sudarso

#oldmastersenilukis

#maestrosenilukis

#senimanlukisindonesia

#kelompoklima

#muridaffandi

#koleksiistanakepresidenan

#karyasudarsodikoleksibungkarno

#senilukis

Tidak ada komentar