Breaking News

Saham Kesehatan Tiba-Tiba Loyo pada Penutupan IHSG, Efek Pencabutan Status Pandemi COVID-19?

Emiten kesehatan di pasar saham. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Pemerintah telah resmi mencabut status pandemi COVID-19 kemarin. Usai pengumuman, sejumlah saham di sektor kesehatan dan farmasi mendadak melemah di pasar bursa.

Hal itu terlihat pada penutupan perdagangan saham IHSG, kemarin. Mengutip data RTI, Kamis (22/6/2023), sektor saham kesehatan susut 1,25 persen. 

Sementara itu, sebagian besar sektor saham menguat. Sektor saham energi naik 0,53 persen, sektor saham basic menanjak 0,62 persen, sektor saham industri bertambah 0,53 persen, sektor saham nonsiklikal naik 0,85 persen

Selain itu, sektor saham siklikal mendaki 1,36 persen, sektor saham keuangan menguat 0,88 persen, sektor saham properti naik 0,51 persen, sektor saham teknologi menanjak 1,27 persen, sektor saham infrastruktur menguat 1,24 persen, dan sektor saham transportasi menguat 1,12 persen. Namun jika dilihat secara global, kemarin IHSG melambung 0,63 persen ke posisi 6.702,62. 

Indeks LQ45 menguat 0,62 persen ke posisi 954,68. Sebagian besar indeks acuan menghijau. Pada perdagangan Rabu juga, IHSG berada di level tertinggi 6.702,62 dan terendah 6.635,67.

Sebanyak 280 saham menguat dan 240 saham melemah. Sedangkan 218 saham diam di tempat. 

Total frekuensi perdagangan saham 1.129.732 kali dengan volume perdagangan 15 miliar saham, dengan nilai transaksi harian Rp8 triliun. Sementara posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran Rp14.945.

Menurut Analis PT MNC Sekuritas Herditya Wicaksono, pencabutan status pandemi COVID-19 secara umum tidak banyak memberikan efek pergerakan saham. Sebab, saat ini roda ekonomi perlahan mulai berputar normal.

Ia menilai, penguatan IHSG secara teknikal rebound lantaran belum ada sentimen yang begitu mempengaruhi ke pasar saham. Sentimen yang dimaksud adalah pelaku menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

"Untuk sentimen yang beredar diperkirakan pelaku pasar menanti hasil RDG BI. Disamping itu nampaknya masih dipengaruhi akan perlambatan permintaan global setelah China (Tiongkok, Red) memangkas suku bunga pinjamannya,” bebernya.

Pun demikian, investor juga menanti testimoni bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga. Sedangkan Analis Henan Putihrai Sekuritas Syafei menilai, pencabutan status pandemi COVID-19 dan penghapusan kewajiban bermasker, tentu berpengaruh terhadap sektor kesehatan dan farmasi. 

Namun ia melanjutkan, kebutuhan akan pelayanan dan peralatan kesehatan secara umum akan terus meningkat seiring meningkatnya populasi. Selain itu, perusahaan yang bergerak dalam bidang alat kesehatan dapat mempertimbangkan strategi bisnis dengan melakukan ekspor produknya ke negara lain dengan harga yang bersaing.

Senada, CEO Edvisor.id Praska Putrantyo mengatakan, semenjak pemerintah mencabut kebijakan PPKM pada akhir tahun 2022, perusahaan yang bergerak di industri jasa & peralatan kesehatan mayoritas mengalami penurunan kinerja. "Penurunan tajam khususnya di pos laba operasional dan laba bersih," paparnya.

Praska melihat, pencabutan aturan kewajiban penggunaan masker saat melakukan kegiatan di fasilitas publik dan berskala besar pada 9 Juni 2023 berpotensi semakin memberatkan kinerja sejumlah produsen masker medis. Sementara, perusahaan yang bergerak pada industri farmasi & riset kesehatan seperti penjualan obat-obatan dan nutrisi kesehatan diperkirakan masih bisa bertumbuh di tahun ini.

Ia menyarankan, untuk saat ini, sebaiknya investor untuk wait and see terlebih dahulu terhadap emiten-emiten di industri jasa & peralatan kesehatan. Investor perlu mencermati emiten yang mampu mencetak pertumbuhan kinerja serta mempertimbangkan tren pergerakan harga, khususnya pada saham-sahan yang telah mengalami kenaikan signifikan.

Sementara pada sektor farmasi & riset kesehatan, investor bisa mengoleksi saham-saham yang memiliki valuasi pasar yang relatif murah terhadap industri sejenis, serta mengalami pertumbuhan di pendapatan dan laba. Jika harga saham sudah naik signifikan, disarankan buy on weakness terlebih dahulu.

Sebab, sambungnya, emiten sektor kesehatan masih berpotensi menghadapi tekanan akibat pelemahan kurs rupiah. Pelemahan kurs bisa memicu kenaikan harga bahan baku farmasi. (tim redaksi)


#bursasaham

#pasarsaham

#sektorkesehatan

#emitenalatkesehatan

#emitenfarmasi

#efekpencabutanstatuspandemicovid19diindonesia

#sahamkesehatanmelemah

#potensipenurunankinerja

Tidak ada komentar