Breaking News

Rustamadji Klaten, Seniman Realis Spiritualis "Si Pemberi Nyawa" pada Objek Sederhana

Gambar potret diri maestro lukis Rustamadji Klaten. (Istimewa/ net)

Karya lukis Rustamadji Klaten berjudul "Nangka di Kebon" (1954).


WELFARE.id-Nama Rustamadji sebagai pelukis sejak era revolusi kemerdekaan memang tidak seterkenal Affandi, Basuki Abdullah, Sudjojono, dan lainnya. Namun perupa sekaligus pematung asli Klaten itu melahirkan banyak karya yang dikoleksi pejabat negara dan museum mancanegara. 

Ia dikenal sebagai pelukis otodidak yang tekun, ulet, dan pekerja keras, yang terefleksi dalam karya-karyanya. Karya lukisnya realis dengan sudut pandang pendekatan yang berbeda dengan pelukis realis lainnya.

Ia banyak mengambil objek lukisannya apa saja yang ada di sekitarnya. Dari dapur, kebun, alam sekitar, pemandangan gunung, kehidupan anak-anak, suatu profesi, sampai potret diri. Cara mengambil sudut pandang objek yang dilukis Rustamadji pun dinilai memiliki sudut yang tidak lazim dilakukan para pelukis realis lainnya.

Lukisan penjual jamu gendong, misalnya, memiliki latar petani membajak sawah, gunung, jalan setapak, dan sebagainya. Dilukis dengan apa adanya, alamiah, tidak dibuat lebih indah atau lebih cantik. 

Tema tema sederhana yang justru membuat karyanya tak lekang oleh zaman. Bahkan, seperti jejak mesin waktu, dimana kita bisa kembali mengenali kehidupan masyarakat di zaman saat ia melukis.

Di tangan pelukis kelahiran Klaseman, Klaten Tengah, 19 Januari 1921 itu, objek yang sederhana menjadi luar biasa. Ada energi di dalam karya seni lukisnya.

Seperti memiliki daya kekuatan atau daya yang mampu menghidupkan atau menggerakkan memindahkan sesuatu ke dalam kanvas yang tidak terjebak figur maupun teknis.


Perjalanan Hidupnya


Mengutip buku autobiografi yang tersimpan di sekretariat Paguyuban Senirupawan Klaten (Pasren), Perum Klaten Kencana, Klaten Utara, masa kecil Rustamadji pernah menjadi buruh bangunan laden tukang membantu ayahnya, Soegiman Sastroredjo, dan pernah bekerja di PG Cokro. Rustamadji sempat masuk Sekolah Rakyat di Kecamatan Ceper, kemudian melanjutkan ke Taman Siswa selama 3 bulan dan Sekolah Muhammadiyah di Temanggung tidak sampai selesai. 

Ia mulai melukis di usia 17 tahun dan semakin intensif di masa pendudukan Jepang 1942-1947 saat bermukim di Malang. Pada 1948, ia pindah ke Jogjakarta bergabung dengan Sanggar Pelukis Rakyat, bersama Hendra Gunawan, Kusnadi, Trubus, dan Affandi. 

"Bapak itu lahir di Klaten tapi pindah-pindah, ke Malang, Jogjakarta, dan Jakarta. Belajar seninya otodidak, pendidikan terakhir setingkat SMP tapi tidak tahu lulus atau tidak," kata anak kedua Rustamadji, Karang Sasangka, melansir wawancara dengan detikcom, dikutip Selasa (6/6/2023).

Saat agresi militer Belanda, Rustamadji ikut mengangkat senjata sambil terus membuat lukisan sketsa. Setelah penyerahan kedaulatan RI pada 1949, ia bahkan ikut diminta Kementerian Penerangan RI membuat lukisan bertema perjuangan dan membuat patung. 

Karya patungnya yang cukup fenomenal yaitu saat membuat patung Sri Sultan HB IX dan tergabung dalam pembangunan Tuga Muda Semarang. Selain berkesenian, Rustamadji juga mendalami olah jiwa dalam spiritual.

Menurut Sasangka yang juga pelukis, ayahnya sosok sederhana, mencintai alam dan menghormati setiap orang yang ditemuinya. Meskipun tidak berpendidikan seni, karyanya ada beberapa yang dikoleksi istana negara Jakarta. 

"Ada beberapa karya yang dikoleksi Bung Karno dipasang di istana negara. Sampai sekarang yang sering muncul lukisan yang berjudul Pohon Nangka," sebut Sasangka. 

Sejak berkarya sampai wafat pada 2001, kata Sasangka, ayahnya tidak kurang menghasilkan 300-400 lukisan. Banyak di antaranya saat ini berada di tangan kolektor, termasuk jadi koleksi di luar negeri. 

"Yang di luar negeri jumlah berapa kami anaknya tidak tahu. Yang kami tahu ada dua di Museum Seni Ketimuran, Moskow dan bulan November lalu untuk latar webinar galeri Nasional yang juga saya ikut," bebernya.

Ia menambahkan, selain dikoleksi Bung Karno dan tersebar di luar negeri, karya ayahnya juga dikoleksi para tokoh nasional. Mulai dari Wapres Adam Malik, menteri-menteri Orde Baru, sampai Keluarga mantan Presiden Suharto. 

"Keluarga Cendana, mantan Menpen Harmoko juga mengkoleksi lukisan bapak. Kalau alirannya semua lukisan bapak itu naturalis dan realis," ungkapnya. 


Menginspirasi Seniman Klaten


Bisa disebut maestro lukis, tak heran, banyak seniman Klaten muda yang terinspirasi teknik dan objek lukis Rustamadji. Pada 2018 lalu, seniman Res Nugroho bahkan sempat membuat pameran lukis "Tribute to Maestro Rustamadji".

Tiga potret diri pelukis legendaris Rustamadji tergores dalam satu kanvas. Dengan teknik lukisan yang memudar dari atas sampai di tengah hingga kemudian membentuk sosok yang jelas wajah maestro Rustamadji sedangkan di bawah terlihat lunturnya cat warna biru, magenta, hitam, dan kuning,

Lukisan berjudul "pudar dan jelas" itu ingin mengingatkan masyarakat terhadap sosok maestro Rustamadji yang semakin lama semakin memudar dari kalangan masyarakat atau seniman muda khususnya di kota Klaten. "Pameran ini bermaksud untuk mengingat kembali dan memperkenalkan sosok maestro khususnya wajah seorang Rustamadji pada waktu itu," ujar seniman muda itu dalam pengantar lukisannya.

Dalam pameran kala itu, sebanyak 25 perupa muda di Klaten mencoba menggali inspirasi sekaligus menorehkan kembali jejak salah satu maestro lukis tanah air Rustamadji. Rustamadji meninggal pada 2001 di Klaten, Jawa Tengah.

Pelukis muda Karin Rahmaniar, yang berpartisipasi di acara yang sama kala itu, mencoba menangkap gaya lukis Rustamadji yang selalu menggunakan obyek keindahan alam sebagai mencerminkan sosok yang begitu sederhana, mencintai alam dan mencoba menikmati karya Tuhan dalam bentuk lukisan. Lukisan bagi Rustamadji adalah media bersyukur pada Tuhannya, sehingga Karin melukis ulang karya-karya sang maestro dengan menggunakan media baru yaitu bunga kering dan dalam bentuk yang lebih sederhana dalam "Between dried flowers on recycle paper". (tim redaksi)


#rustamadjiklaten

#senimanklaten

#maestrolukisindonesia

#senimanrealis

#sketsa

Tidak ada komentar