Breaking News

Rabies Jadi KLB di 2 Kabupaten di NTT, Kemenkes Catat dari 31.113 Kasus Gigitan HPR Ada 11 Orang Tewas

Vaksinasi rabies. (Ilustrasi/ Shutterstock)


WELFARE.id-Wabah rabies tengah berkembang di sejumlah daerah, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat, setidaknya ada 31.113 kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR) di Indonesia hingga April 2023 dan 11 orang dinyatakan meninggal dunia.

Dari keseluruhan jumlah kasus, 23.211 di antaranya ditularkan dari hewan yang sudah mendapatkan vaksin anti rabies. Rata-rata per tahun kasus gigitan hewan terjadi sebanyak 82.634, sedangkan yang diberi vaksin anti rabies hampir 57.000.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi mengungkapkan, bahwa 95 persen rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. "Ada juga beragam hewan liar yang bertindak sebagai reservoir virus di berbagai benua seperti rubah, rakun, dan kelelawar, tapi 95 persennya karena gigitan anjing,” kata Imran pada konferensi pers secara virtual, dikutip Kamis (22/6/2023).

Ia menjelaskan, saat ini sudah ada dua kabupaten yang menyatakan rabies sebagai kejadian luar biasa (KLB), yaitu Sikka dan Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian, rabies telah menjadi endemis di 26 provinsi.

"Rabies merupakan tantangan besar di Indonesia karena dalam tiga tahun terakhir kasus gigitan hewan rabies itu rata-rata setahunnya lebih dari 80.000 kasus dan kematiannya rata-rata 68 orang,” ungkapnya. Selain itu, 11 provinsi dinyatakan bebas rabies, di antaranya, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Tak hanya itu, banyak juga pulau di Indonesia yang bebas rabies. Di NTT, misalnya, ada Pulau Sumba. 

Di Lampung, ada Pulau Tabuan dan Pulau Pisang, lalu Pulau Meranti di Riau, Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat, Kepulauan Sintaro di Sulawesi Selatan, serta Pulau Nunukan, Pulau Batik, dan Pulau Tarakan di Kalimantan Utara.


Gejala Rabies pada Manusia


Ia menjelaskan, pada tahap awal saat manusia terkena rabies, akan muncul gejala berupa demam, badan lemas. lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, dan sering ditemukan nyeri. Setelah itu, dilanjutkan dengan rasa kesemutan atau rasa panas di lokasi gigitan, cemas, dan mulai timbul hidrofobia (takut air), aerofobia (takut terbang), serta fotofobia (takut dengan cahaya) sebelum meninggal dunia.

Sementara itu, hewan yang terkena rabies terlihat dari perilakunya yang menjadi ganas, tidak patuh pada pemiliknya, tidak mampu menelan, lumpuh, mulut terbuka, air liur keluar secara berlebihan, bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha, kejang-kejang, serta diikuti oleh kematian. Perlu diwaspadai, pada kasus rabies asimtomatik, hewan justru tidak memperlihatkan gejala sakit apapun, namun tiba-tiba mati.


Pertolongan Pertama Jika Digigit Hewan Penular Rabies


Jika seseorang digigit hewan penular rabies, lanjutnya, dia harus secepat mungkin mencuci luka gigitan dengan sabun atau detergen pada air mengalir selama 15 menit. Setelah itu berikan antiseptik atau sejenisnya.

Selanjutnya, bawa orang itu ke puskesmas atau rumah sakit untuk dilakukan pencucian luka kembali dan pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) serta Serum Anti Rabies (SAR) sesuai dengan indikasinya. Masih menurut dr. Imran, sebagian besar kematian akibat rabies disebabkan oleh keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan (Faskes). 

Mereka merasa hanya gigitan kecil dan tidak berdarah, sehingga ketika datang ke Faskes, mereka sudah dalam kondisi parah. Seringkali orang datang setelah satu bulan digigit hewan.

"Kalau sudah satu bulan, kita tidak tahu lagi hewannya seperti apa, dan rata-rata mereka baru panik pergi ke Faskes setelah tahu anjing yang menggigitnya itu mati. Jadi, yang harus dilakukan jika digigit anjing yang pertama adalah harus sesegera mungkin pergi ke Faskes untuk dilakukan uji luka,” sarannya.


Pentingnya Vaksinasi


Rabies pada manusia, sambung dia, bisa dieliminasi dengan memberi vaksinasi pada anjing atau hewan lainnya. Jika hewan pembawa rabies itu masih berkeliaran dan tidak terlindungi oleh vaksin, maka dia bisa menularkan rabies ke manusia.

Sepanjang 2023, Kemenkes telah mengadakan vaksinasi untuk manusia sebanyak 241.700 vial dan serumnya sebanyak 1.650 vial. Saat ini hampir 227.000 vial vaksin dan lebih dari 1.550 vial serum sudah didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia.

"Di daerah-daerah juga mereka mengadakan vaksin rabies sendiri seperti Bali. Mereka punya dana untuk membeli vaksin anti rabies, tidak hanya mengandalkan dari pusat. Bahkan di beberapa kabupaten di Bali juga punya anggaran untuk vaksin anti rabies, baik untuk hewan maupun manusia,” bebernya. (tim redaksi)


#KLBrabies

#penyakitrabies

#KLBrabiesdiNTT

#hewanpembawarabies

#vaksinasirabies

#gejalamanusiaterkenarabies

#serumrabies

#kasusrabiesmeningkat

Tidak ada komentar