Breaking News

Polusi Udara di Jakarta Menggila, Sebabkan Alergi dan Asma hingga Serangan Jantung

Polusi udara di Jakarta dipengaruhi berbagai sumber emisi. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Musim kemarau membuat polusi udara DKI Jakarta makin parah. Bahkan, Indonesia terpantau menjadi negara dengan kualitas udara terburuk di dunia. 

Mengutip laman IQAir, indeks kualitas udara di DKI, Sabtu (17/6/2023) pukul 08.00 WIB berada di angka 158 atau tidak sehat. Saat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan upaya pengurangan sumber polusi di Ibu Kota untuk menekan buruknya kualitas udara.   

"Beberapa kebijakan untuk menghadapi menurunnya kualitas udara antara lain, adalah meningkatkan kegiatan uji emisi, pengawasan emisi dari sektor industri dan juga berkoordinasi untuk pengetatan kebijakan ganjil-genap di Jakarta," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, dikutip Sabtu (17/6/2023).   

Selain itu, Asep menyebutkan, polusi udara di Jakarta dipengaruhi berbagai sumber emisi. "Berbagai sumber emisi itu yang menyebabkan polusi, baik yang berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial maupun sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta," paparnya.

Saat ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mempunyai Pergub Nomor 66 tahun 2020 tentang Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor, Pergub Nomor 76 Tahun 2020 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan Sistem Ganjil Genap dan Instruksi Gubernur Nomor 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara sebagai upaya pengurangan sumber emisi polusi udara.

Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia juga telah meminta masyarakat untuk selalu waspada demi meminimalisir risiko polusi udara bagi Kesehatan. Menurutnya, setiap orang sebaiknya mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan.   

Bagi kelompok sensitif, dapat melakukan aktivitas di luar, tetapi mengambil rehat lebih sering dan melakukan aktivitas ringan. "Amati gejala berupa batuk atau napas sesak. Penderita asma harus mengikuti petunjuk kesehatan untuk asma dan menyimpan obat asma," sarannya lagi.

Dia juga mengimbau masyarakat agar selalu melakukan pengecekan kualitas udara di daerah masing-masing melalui platform yang telah disiapkan DLH seperti JakISPU dalam aplikasi JAKI dan website DLH.   "Kualitas udara akan terlihat dari warna dan angka indeks, dan juga menggunakan masker bila berada di lokasi dengan tingkat cemaran udara tinggi," rincinya.

Sedangkan Dokter spesialis paru dr Erlang Samoedro, SpP (K) mengungkapkan, kondisi udara yang penuh polusi seperti saat sekarang ini berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Ada dua dampak kesehatan yang dapat timbul, yakni dampak jangka pendek atau akut, dan dampak jangka panjang.

"Ada dua efeknya, jangka pendek, efek akut, dan ada efek jangka panjang," paparnya, melansir detikcom, dikutip Sabtu (17/6/2023). Ia menambahkan, efek jangka pendek lebih rentan dialami kelompok berisiko seperti anak-anak dan orang tua yang mengidap komorbid atau penyakit penyerta.

"Efeknya besar terutama pada orang-orang yang rentan. Jadi ada populasi yang berisiko seperti anak-anak, orang tua yang punya komorbid. Kejadian akutnya bisa mempermudah terjadinya infeksi, debu dari kabut-kabut itu bisa merusak pertahanan sistem saluran napas sehingga memudahkan infeksi di paru," urainya.

Selain itu, lanjutnya, ia menyebut polusi udara juga bisa membuat penyakit pernapasan seperti asma dan rhinitis kambuh. "Alergi seperti asma itu bisa kambuh ketika cuacanya berdebu seperti sekarang ini. Kekambuhan juga bisa terjadi pada yang punya masalah di hidung seperti rhinitis karena lebih sensitif pada debu," ujarnya.

Sedangkan, efek jangka panjang dari polusi udara dapat memicu penyakit kardiovaskular seperti stroke dan jantung. Spesialis Jantung Dr Doni Yugo Hermanto, SpJP(K) menjelaskan, walau polusi Jakarta sangat tinggi, dampaknya tidak langsung mempengaruhi kardiovaskular. Melainkan terhadap masyarakat  yang rentan mengalami gangguan paru dan pernapasan. "Penelitiannya kalau polusi udara langsung berdampak pada paru-paru, bukan serangan jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya," ucap Dr Dony, melansir okezone, Sabtu (17/6/2023).

Dr Dony menyebutkan, faktor risiko penyakit jantung itu termasuk adanya penyakit jantung koroner, merokok, hipertensi, diabetes, kolesterol, sampai adanya riwayat keluarga. Bahkan, ada juga yang menganggap, ketika olahraga di tengah polusi tinggi bisa timbul serangan jantung. 

"Tenang, itu cuma mitos saja kok, sekali lagi dampak polusi tidak berpengaruh pada kardiovaskular. Kalau orang lagi olahraga kena serangan jantung, berarti dia punya riwayat penyakit jantung. Bukan salah olahraganya atau polusinya. Tapi memang pasiennya tidak tahu atau terlambat deteksi dini," yakinnya. (tim redaksi)


#polusiudara

#polusiudarajakarta

#asma

#sakitpernapasan

#komorbid

#sebabkanbatuk

#penyakitkardiovaskular

#janganolahragadiluarruangan

Tidak ada komentar