Breaking News

Kembali Terbitkan Obligasi Tahap 3, Protelindo Incar Dana Rp1,09 Triliun

Kantor Protelindo. (Istimewa)


WELFARE.id-PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menerbitkan obligasi berkelanjutan III tahap III tahun 2023 senilai Rp1,09 triliun. Obligasi tersebut bagian dari obligasi berkelanjutan III sebesar Rp5 triliun.

Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (30/6/2023), obligasi berkelanjutan III tahap III Tahun 2023 ini terdiri dari dua seri yakni obligasi seri A dan B. Obligasi seri A yang ditawarkan sebesar Rp797,50 miliar dengan tenor 370 hari. 

Obligasi tersebut menawarkan tingkat bunga sebesar 6,15 persen. Sementara itu, obligasi seri B yang ditawarkan sebesar Rp296 miliar dengan tenor tiga tahun. 

Tingkat bunga yang ditawarkan sebesar 6,50 persen. Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sejak tanggal emisi sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. 

Pembayaran bunga obligasi pertama masing-masing seri akan dilakukan pada 8 September 2023, sedangkan pembayaran bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo obligasi pada 18 Juni 2024 untuk seri A dan 8 Juni 2026 untuk seri B.

"Dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum obligasi berkelanjutan III Protelindo Tahap III tahun 2023 untuk melunasi dan atau pembayaran sebagian dari utang bank perseroan,” tulis keterbukaan informasi BEI. Perseroan telah menunjuk PT BNI Sekuritas dan PT CIMB Niaga Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi. 

Sedangkan yang bertindak sebagai wali amanat yakni PT Bank Permata Tbk. Perseroan juga telah memperoleh hasil pemeringkatan obligasi AAA (idn) dari PT Fitch Ratings Indonesia.

Sebelumnya, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (PRTL) atau dikenal sebagai Protelindo, melakukan penerbitan obligasi berkelanjutan III Protelindo Tahap II Tahun 2023 dengan jumlah pokok sebesar Rp2,9 triliun. Obligasi ini terdiri dari dua seri, yaitu obligasi seri A dan seri B yang masing-masing ditawarkan sebesar 100 persen dari jumlah pokok obligasi. 

Untuk rinciannya, jumlah obligasi seri A yang ditawarkan adalah sebesar Rp2,76 triliun dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,35 persen per tahun. Jangka waktu obligasi seri A adalah 370 hari kalender terhitung sejak tanggal emisi. 

Pembayaran obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) pada saat tanggal jatuh tempo. Sedangkan, jumlah obligasi seri B yang ditawarkan anak usaha Sarana Menara Nusantara ini adalah sebesar Rp145,35 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 6,60 persen per tahun. 

Jangka waktu obligasi seri B adalah 3 tahun terhitung sejak tanggal emisi. Pembayaran obligasi dilakukan secara penuh (bullet payment) pada saat tanggal jatuh tempo.

Bunga obligasi dibayarkan setiap triwulan (tiga bulan) sejak tanggal emisi, sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama masing-masing seri akan dilakukan pada 21 Juni 2023 sedangkan pembayaran bunga obligasi terakhir sekaligus jatuh tempo obligasi adalah pada 31 Maret 2024 untuk seri A dan 21 Maret 2026 untuk seri B. 

Sementara itu, tahun lalu, Protelindo menargetkan dana hingga Rp 5 triliun dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan III Protelindo. Dalam rangka PUB tersebut, anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) tersebut menawarkan Obligasi Berkelanjutan III Protelindo Tahap I Tahun 2022 sebesar Rp1 triliun. 

Berdasarkan prospektus, dikutip Jumat (30/6/2023), obligasi tersebut ditawarkan dalam tiga seri, yakni Seri A berjangka waktu 370 hari, Seri B bertenor 3 tahun dan Seri C bertenor 5 tahun. Perseroan telah menunjuk BCA Sekuritas (terafiliasi), BNI Sekuritas, dan Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. 

Adapun dana hasil obligasi ini akan digunakan untuk melunasi utang perseroan ke pihak terafiliasi, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Mengutip Trenasia, Jumat (30/6/2023), pada 2020, emiten infrastruktur telekomunikasi PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) melalui anak perusahaannya yakni PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) mendapatkan tambahan fasilitas pinjaman dari PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi Rp2 triliun.

Sekretaris Perusahaan Sarana Menara Irfan Ghazali kala itu mengatakan, fasilitas pinjaman yang ditandatangani pada 21 Desember 2016 tersebut awalnya bernilai Rp500 miliar. "Tujuan penggunaannya untuk keperluan umum perusahaan, namun tidak terbatas pada akuisisi yang diperbolehkan, pengeluaran kegiatan operasional, dan talangan arus kas Protelindo,” kata Irfan dalam surat kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, tertanggal 17 April 2020.

Pinjaman yang disebut fasilitas D tersebut berjangka waktu hingga 72 bulan sejak tanggal penarikan pertama. Perusahaan Grup Djarum ini menyebutkan bahwa pinjaman dari Bank BCA ini telah mengalami lima kali perubahan. 

Perubahan pertama dilakukan pada 6 September 2017, lalu 19 September 2018, kemudian diubah lagi pada 21 Mei 2019, dan 8 November 2019. Pada perubahan kedua perusahaan tersebut menaikkan jumlah pinjaman menjadi Rp750 miliar atau bertambah 50% dari perjanjian kredit perusahaan pada 21 Desember 2016 yang sebesar Rp500 miliar.

Melalui perjanjian kelima tersebut, kedua pihak sepakat untuk mengubah beberapa ketentuan antara lain penambahan komitmen pinjaman dan perpanjangan jangka waktu fasilitas pinjaman. Adapun, perubahan jangka waktu untuk fasilitas pinjaman B menjadi 21 Mei 2023.

Baik Sarana Menara maupun BCA, sama-sama memiliki penerima manfaat akhir adalah dua konglomerat terkaya di Indonesia. Keduanya adalah pemilik perusahaan rokok Grup Djarum, Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono.

Per 29 Februari 2020, saham BCA dimiliki oleh PT Dwimuria Investama Andalan sebesar 54,94% dan masyarakat 45,06%. Pemegang Saham PT Dwimuria Investama Andalan adalah Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono. Adapun, saham TOWR digenggam oleh PT Sapta Adhikari Investama sebesar 50,04% dan masyarakat 47,64%. 

Sapta Adhikari ini merupakan perusahaan investasi milik keluarga Hartono. Corporate Secretary TOWR Monalisa Irawan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, tahun lalu, mengatakan, penerbitan obligasi Protelindo dengan tanggal distribusi 9 Agustus 2022 tersebut diemisikan dengan tenor 370 hari kalender dan tiga tahun. 

Obligasi tersebut memiliki kupon bunga tetap masing-masing sebesar 4,5 persen dan 6 persen per tahun. "Keseluruhan dana yang diperoleh, setelah dikurangi biaya emisi seluruhnya akan digunakan untuk pelunasan utang Protelindo kepada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)," kata Monalisa.

Adapun, Bank BCA mayoritas sahamnya juga dikuasai oleh Grup Djarum milik orang terkaya di Indonesia, keluarga Hartono. Dia melanjutkan, informasi atau fakta material yang diungkapkan ini tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha perseroan. (tim redaksi)


#protelindo

#PTprofesionaltelekomunikasiindonesia

#terbitkanobligasi

#obligasi

#obligasiberkelanjutan

#BBCA

#pendanaan

Tidak ada komentar