Breaking News

Dominasi Perusahaan AMDK Asing Mulai Terkikis, Kebangkitan Industri AMDK Lokal Dimulai Tahun Ini

Industri Air Minum dalam Kemasan (AMDK). (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Kompetisi pasar Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia sempat dinilai tidak sehat dengan adanya market leader dari perusahaan investasi asing yang mendominasi pasar. Hal ini sempat membuat pelaku usaha lokal dari market share yang jauh di bawah menjadi terhambat.

Namun kabar baik datang di awal tahun ini. Asosiasi Produsen Air Minum Kemasan Nasional (Asparminas) menyebutkan, pangsa pasar AMDK produk dalam negeri mengalami peningkatan dalam periode satu tahun terakhir. 

Sekretaris Jenderal Asparminas Eko Susilo menyebutkan data terbaru yang dikeluarkan Asparminas pada awal 2023 menunjukkan pertumbuhan pasar AMDK galon pada 2022 mencapai angka 4 persen. Sementara pemain besar yang dikuasai investasi asing cenderung stagnan.

"Artinya, pemain-pemain menengah dan kecil lainnya di luar pemain besar, telah berhasil melakukan inovasi dan meningkatkan daya saing. Sehingga bisa merebut pasar dari pemain besar," jelasnya melalui keterangan tertulis, dikutip Kamis (22/6/2023).

Dari data yang mereka miliki, produsen air minum kemasan lokal kini berjumlah 95 persen lebih tersebar di seluruh pelosok nusantara. 

"Mereka (pelaku usaha dalam negeri) harus terus berinovasi dan meningkatkan daya saing, sehingga bisa berkontribusi pada pembangunan dan peningkatan kesejahteraan di daerah masing-masing,” harapnya.

Berdasarkan olahan data dari berbagai sumber, market leader AMDK di Indonesia diketahui menguasai kurang lebih 50 persen market share, walaupun diyakini bahwa penguasaan mereka yang sebenarnya berkisar lebih dari 50% karena tidak termasuk merek kedua milik market leader.

Sementara itu, beberapa merek produk lokal seperti Cleo, Club, Le Minerale, 2 tang, Oasis, Prima, dan Super O2, masing-masing hanya menguasai 1 hingga 5 persen market share. Sisanya, dikuasai merek lain yang mayoritas berada di kelas 0,01-0,08 persen.

Market share pelaku usaha menengah dan kecil ini, lanjutnya, tentu saja masih jauh di bawah market leader yang menguasai lebih dari separuh pasar AMDK di Indonesia.

Ia menambahkan, saat ini ada 1.200 pelaku industri AMDK, dengan volume air minum 35 miliar liter per tahun, 2.100 merek dan 7.000 lebih izin edar.

Dikatakannya, market leader memang masih menguasai pasar, walau secara perlahan mulai dikikis para pelaku usaha dalam negeri. 

Informasi tentang AMDK galon bening yang lebih sehat dan aman untuk keluarga, ternyata lebih meyakinkan banyak konsumen.

Data mutakhir pada 2022 yang mencatatkan market share AMDK galon bening dari plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET), meningkat menjadi 8 persen dari sebelumnya 6 persen.

Sebaliknya, market share galon guna ulang dari plastik keras polikarbonat yang didominasi market leader, merosot menjadi 92 persen dari sebelumnya 94 persen. 

"Saat ini memang sedang terjadi peningkatan pasar untuk produk-produk AMDK di luar market leader. Pertumbuhan produsen air minum kemasan di luar pemain besar tumbuh 2 digit, di mana hal tersebut menjadi kabar baik bagi kami, produsen air minum kemasan lokal," ucapnya optimistis.

Pakar Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Tjahjanto Budisatrio berharap, persaingan bisnis AMDK mulai mengarah persaingan sehat. Sebab, muncul produsen lokal yang berani menawarkan inovasi dalam produk AMDK mereka.

Namun, sektor AMDK pernah menjalankan persaingan tidak sehat dan merugikan konsumen. "Di dalam struktur pasar ini (AMDK), ada pemain yang dominan dan sisanya adalah pemain yang mengikutinya," kata Budisatrio dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (22/6/2023).

Menurutnya, perlu dilihat apakah memang ada barriers to entry ke dalam pasar AMDK dalam persaingan usaha ini. Jika ada, berarti pasar sudah tidak lagi perfect competition tapi imperfect competition yang artinya persaingan menjadi kurang sehat.

"Kalau kita perhatikan di sini (di pasar AMDK), (ternyata) ada barriers to entry. Kalau membeli galon A dan ternyata galon A tidak ada di toko, kita harus membawa pulang galon kosong itu. Kita tidak bisa menukarnya dengan merek galon B. Ini otomatis ada sebuah kontrak jangka panjang yang sadar atau tidak sadar terbuat dari sistem yang ada saat ini," ulasnya tentang persaingan pada produk galon AMDK.

Jadi, sambungnya, galon yang dipegang konsumen tadi adalah investasi di awal. "Karena kita membeli dan kita tidak bisa menukarnya dengan galon lain, padahal airnya dalam galon sama. Jadi, otomatis di-lock-in (pelanggan dikunci). Switching cost-nya jadi mahal. Inilah yang membuat sebuah barrier," lanjutnya.

Ia menilai sistem ketergantungan yang dibuat produsen AMDK galon guna ulang ini ibarat kontrak jangka panjang yang tidak diberitahukan kepada konsumen, di mana harga pertama pembelian galon itulah yang menjadi depositnya. Padahal, tidak ada jaminan bahwa galon dibeli dalam kondisi baru. 

Namun konsumen dikondisikan agar terpaksa hanya beli produk satu merek yang tak bisa ditukar galon merek lain untuk pembelian selanjutnya. Disadari atau tidak, kata Budisatrio, konsumen tertipu dengan praktik manipulatif dan tidak transparan market leader yang meraup profit luar biasa besar dari galon bekas pakai yang terjual.

Sedangkan Pakar Komunikasi Akhmad Edhy Aruman melihat, persaingan di pasar air kemasan bermerek tengah berlangsung ketat. Menurutnya, produsen AMDK baru, sebagai brand challenger alias penantang pasar, tampil dengan strategi bermain dengan kemasan sekali pakai, baik pada produk kemasan botol maupun galon. 

Ini kontan membedakannya produk perusahaan dalam negeri itu dengan produsen AMDK yang merajai pasar sebelumnya. Pemimpin pasar, yang menggunakan model pakai ulang pada produk galon.

Nah, menurut Edhy, pilihan tersebut tak pelak mendorong produsen AMDK baru berani memasarkan produknya dengan harga di atas produk lama. Tapi langkah itu dinilai masih belum cukup. 

Tak ayal, dia mencari diferensiasi yang lain dari produk lama. Dan ditemukan bahwa ternyata produk galon AMDK lama yang kemasannya menggunakan plastik jenis Polikarbonat, berisiko mengandung Bisfenol A (BPA). Itu bisa menjadi faktor yang membuat konsumen mencari alternatif produk AMDK lain. (tim redaksi)


#airminumdalamkemasan

#AMDK

#persainganusahaprodusenAMDK

#persaingansehat

#produkAMDKlokalbermunculan

#inovasiAMDK

Tidak ada komentar