Breaking News

Bersumber dari Nilai Historis, Karya Patung Cai Zhi Song Tak Lekang Dimakan Zaman

Seniman Cai Zhi Song (kiri). (Istimewa/ Dok.Ode to Art Contemporary)

WELFARE.id-Cai Zhi Song merupakan seniman Tiongkok pertama yang memenangkan Taylor Prize, hadiah utama dalam kompetisi Paris Autumn Salon di Eiffel-Branly pada 2001. Itu adalah penghargaan bergengsi yang didambakan dan hanya diberikan kepada satu seniman terkemuka setiap tahunnya.

Penghargaan bergengsi bagi seluruh seniman dunia itu sudah ada sejak 1903, dan menjadi penghargaan yang diincar seniman berbakat dari seluruh dunia. Sebuah pengakuan dunia seni internasional terhadap karya Cai Zhi Song.

Lahir pada 1972 di Provinsi Shenyang Liaoning, Tiongkok, Cai Zhi Song lulus dari Departemen Patung Akademi Seni Rupa Pusat di Beijing pada 1997. Ia kemudian mengajar di universitas tersebut dari 1998-2008. 

Ia adalah seniman muda dengan karya patung yang luar biasa. Karya patungnya berjudul "Ode to Homeland" dipuji karismatik dengan penokohan dan latar kekuatan historis yang sarat makna. Melansir China Daily, Selasa (20/6/2023), seri patung dari seri "Ode to Homeland" karya Cai Zhi Song, di satu sisi mendapat "tepuk tangan" dunia seni internasional, tapi di sisi lain kontroversi di negara asalnya.

Setiap patung dari seri "Ode to Homeland' adalah gambar khas dari dinasti Qin dan Han yang berkuasa di Tiongkok lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Patung-patung ini terbuat dari resin yang diperkuat serat kaca, lempengan tembaga, dan kawat kuningan.

Dengan kaki yang berlutut atau membungkuk, figur-figur tersebut, tampak melangkah keluar dari dirinya sendiri, tetapi juga ragu-ragu dan merenung. Dengan menggunakan teknik dan material modern, sang seniman memberikan entitas yang secara historis memiliki makna dan aktualitas yang sama sekali baru.

Banyak di antara audiens Tiongkok yang merasa sulit untuk menerima karya-karya tersebut sebagai mahakarya. Mereka bahkan ada yang berpikir, bahwa patung-patung itu menunjukkan pose-pose penghinaan yang buruk, yang membawa beban yang sangat besar.

Sebab seni, terutama karya patung figur pria, seharusnya menggambarkan kekuatan yang kuat. Namun, "Ode to Homeland" justru seakan-akan memperlihatkan pria yang lesu, yang mendistorsi tema artistik dari patung yang diterima secara luas.

Karena karya-karya ini memenangkan penghargaan internasional yang bergengsi, mereka seharusnya mewakili budaya Tiongkok dengan cara yang positif. Namun, bagi orang awam yang melihat, terasa sulit untuk menarik sesuatu yang positif dari citra buruk patung-patung tersebut.

Sementara itu, jika melihat dari kacamata para ahli, kurator seni, dan kolektor mancanegara, Cai justru dinilai mampu menciptakan figur yang menangkap imajinasi pemirsanya dan mencapai keindahan yang tak lekang oleh waktu. Struktur permukaan yang rumit serta detail yang indah, seperti gaya rambut hiasan yang dibuat dari kawat tipis, kontras dengan bentuk dan pose pahatannya yang sederhana dan jernih. 

Patung-patungnya selalu tampak sangat ringan. Inspirasinya terletak pada sejarah, tetapi pesannya adalah, bahwa budaya dan semangat masa lalu masih bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari saat ini, yang tercermin dalam ekspresi wajah yang membingungkan dan hilang.

Cai sendiri mengaku blak-blakan, ide dari karya fenomenalnya itu berasal dari ketertarikan saya pada masa lalu. "Setiap orang memiliki ingatan masa lalu yang tidak sama. Segala sesuatu yang kita sebut sebagai warisan harus dianggap berharga. Saya terus berusaha menciptakan karya seni yang berasal dari warisan masa lalu kita," ucapnya.

Sebagai orang Tionghoa, ia mengambil sumber inspirasi dari asal usul tersebut. "Namun, sekarang kita menghadapi tantangan yang lebih besar, bahaya dilanggar, disintegrasi, dan asimilasi. Inilah situasi yang ingin saya hindari sebagai seorang seniman," bebernya lagi.

Meskipun kesamaan dan individualitas terkandung dalam karya-karyanya, namun ia jujur mengaku lebih memperhatikan kesamaan, karena mengandung lebih banyak kedalaman dan kompatibilitas. "Saya juga telah membentuk gaya saya sendiri atas dasar kesamaan ini. Berlutut atau membungkuk hanyalah bahasa patung atau media untuk mengekspresikan perasaan saya. Terlepas dari kontroversi yang ada, saya rasa orang harus mengingat satu kata, yaitu "toleransi". Toleransi terhadap keragaman artistik akan memberikan lebih banyak ruang bagi orang untuk belajar dan berpikir, yang merupakan kreasi individu," ucapnya bijak.

Melansir laman resmi Ode to Art Singapore Contemporary, Selasa (20/6/2023), seniman yang pernah memamerkan karya seninya di Museum Nasional, Jakarta dan MOCA Loewen, Singapura itu mengungkapkan, mengambil tokoh-tokoh empiris, pelayan dan prajurit sebagai modelnya. Ia menggunakan teknik dan bahan modern untuk mengubah entitas yang secara historis diberkahi menjadi signifikansi dan aktualitas yang sama sekali baru. 

Ia juga tidak segan membahas bahaya dan konsekuensi dari erosi budaya dalam menghadapi globalisasi yang semakin meningkat saat ini. Dalam upaya melawan perkembangan ini, karyanya mencoba untuk membangun bentuk seni kontemporer yang asli. 

Inti dari karyanya adalah keyakinan bahwa seni harus bersifat pluralistik, sementara dunia seni modern - terlepas dari keragaman yang tampak - menyimpan bahaya keseragaman. Cai Zhi Song mengamati adanya sentralisasi dan kekuatan ekonomi dari peradaban barat yang mendorong banyak budaya daerah yang terpinggirkan ke pinggiran masyarakat untuk menjadi cagar budaya atau tempat wisata. 

Meskipun berasal dari sumber-sumber kuno, pose-pose ekspresifnya tidak memiliki banyak kesamaan dengan karya seni pahat yang statis dan khusyuk dari periode seni Tiongkok sebelumnya. Keseimbangan yang cermat antara gerakan dan keheningan, menciptakan ketegangan, yang melibatkan imajinasi pemirsa. (tim redaksi)


#caizhisong

#senimantiongkok

#pematungtiongkok

#senipatung

#odetohomeland

#karyapatung

#karyaseni

Tidak ada komentar