Breaking News

Berkedok "Apotek Resmi", 22.552 Obat Ilegal dari E-Commerce Senilai Rp10 Miliar Diamankan

 

Obat ilegal yang dijual di e-commerce diamankan BPOM bersama Bareskrim Polri. ( Istimewa/ net)


WELFARE.id-Sejumlah produk obat ilegal di perdagangan daring kembali kena razia Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM bersama Bareskrim Polri mengungkapkan adanya temuan obat ilegal berkedok "apotek resmi" di salah satu marketplace ditaksir senilai Rp10 miliar lebih.

Dalam operasi tersebut, BPOM berhasil menyita sejumlah barang bukti berupa obat ilegal, suplemen kesehatan, dan kosmetik yang tidak memiliki izin edar sebanyak 700 buah dalam berbagai jenis. Adapun modus operandi yang dilakukan dengan cara menjual obat, suplemen kesehatan, dan kosmetik makanan ilegal kepada masyarakat secara daring dengan memakai akun apotik_resmi.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan, penindakan hukum dilakukan Tim Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BPOM bersama personel Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI. Pengelola akun berinisial IM (35), laki-laki, telah berstatus tersangka. Ia beroperasi di tiga rumah kontrakan yang beralamat di Jl Sukahati, Kp. Muara Beres No7 RT02/RW04, Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

"Temuan ini hasil investigasi terhadap informasi yang diterima BPOM bahwa terdapat aktivitas penjualan obat dan makanan ilegal di wilayah Cibinong," jelas Penny kepada wartawan, dikutip Jumat (9/6/2023). Dia menjelaskan, modus operandi penjualan obat-obatan ilegal tersebut dengan cara, pelaku membuka pesanan produk dari lokapasar serta membuat resi pesanan berisi informasi jenis dan jumlah produk yang dipesan disertai dengan alamat tujuan pengiriman. 

Resi tersebut dikirimkan kepada karyawan di gudang penyimpanan melalui aplikasi WhatsApp. Selanjutnya, karyawan menyiapkan pesanan untuk dikemas dan dikirimkan kepada pemesan yang tersebar di wilayah Jabodetabek dan Bandung menggunakan jasa ekspedisi.

Dari lokasi itu, petugas menyita barang bukti sediaan farmasi ilegal berupa obat, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetika, dan pangan olahan ilegal yang tidak memiliki izin edar sebanyak 700 produk dengan total 22.552 item. Produk yang dimaksud berupa obat-obatan khusus lelaki, seperti Viagra dan Cialis, Vigamax, Japan Tengsu, Soloco, Vitamale, Hajar Jahanam, dan lainnya.

Obat dan makanan ilegal yang ditemukan diduga tidak menerapkan cara pembuatan yang baik dalam proses pembuatannya serta dengan dosis yang tidak diketahui. Sehingga berisiko berdampak buruk terhadap kesehatan jika dikonsumsi masyarakat.

"Obat tersebut mengandung bahan kimia obat sildenafil dan tadalafil yang merupakan golongan obat keras dan berisiko menyebabkan serangan jantung hingga kematian jika digunakan tidak sesuai resep dokter," bebernya.

Tersangka dijerat dengan Pasal 60 Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang RI tentang Cipta Kerja dan/atau dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar. Sementara itu, kegiatan memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar ditindaklanjuti sesuai Pasal 196 Jo. Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Dirinya mengimbau masyarakat selalu membeli dan memperoleh obat melalui sarana resmi, yaitu di apotek, toko obat berizin, puskesmas, atau rumah sakit terdekat dan menggunakannya sesuai aturan pakai. Untuk pembelian obat secara online, sebaiknya dilakukan hanya melalui platform elektronik yang telah memiliki izin Penyelenggara Sistem Elektronik Farmasi (PSEF).

"Jangan lupa untuk selalu menerapkan Cek KLIK (Cek Kemasan, Label , Izin Edar, dan Kedaluwarsa) sebelum membeli dan/atau mengonsumsi obat dan makanan,” sarannya lagi. (tim redaksi)


#pennyklukito

#kepalaBPOM

#raziaobatilegal

#raziakosmetikilegal

#tokodimarketplace

#ecommerce

#tokoonline

#onlineshop

#bareskrimpolri

Tidak ada komentar