Breaking News

Anak "Mager" Rentan Obesitas, Kenalkan Gaya Hidup Aktif dan Simak Tips Berikut Ini!

 

Sedentary lifestyle dikhawatirkan memicu berbagai penyakit di masa depan. (Ilustrasi/ net)


WELFARE.id-Gaya hidup anak yang tidak aktif atau malas gerak (mager) atau disebut juga sedentary lifestyle, dikhawatirkan memicu berbagai penyakit di masa depan. Mulanya memunculkan anak dengan berat badan berlebih atau obesitas.

Data WHO menunjukkan, prevalensi obesitas anak telah mencapai 12,7% di antara anak usia 2 hingga 5 tahun. Sebanyak 20,7% di antara anak usia 6 hingga 11 tahun, dan 22,2% di antara anak usia 12 hingga 19 tahun.

Menurut jurnal penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Endocrinology, prevalensi obesitas pada anak-anak meningkat secara global dari 32 juta menjadi 42 juta. Para pengamat memprediksi, bahwa sekitar 60 persen anak-anak akan mengalami obesitas ketika mereka mencapai usia 35 tahun. 

Berdasarkan survei yang dilakukan di Italia, akibat obesitas sejak dini, hampir seperempat dari pria muda yang berusia antara 18-19 tahun mengalami hipotrofi atau pengecilan otot pada testis, yang meningkatkan risiko mereka terhadap masalah kesuburan di masa depan. Lantas, bagaimana cara mencegah obesitas?

Konsultan Endokrinologi Anak Eka Hospital Cibubur, dr. Dana Nur Prihadi, Sp.A (K) menjelaskan, anak obesitas bisa mengalami asma, apnea tidur, diabetes tipe 2, darah tinggi atau hipertensi, kolesterol, dan penyakit jantung. "Selain itu, obesitas juga memiliki risiko dalam terkena gangguan kesehatan mental, seperti bullying, rasa percaya diri yang rendah, hingga depresi," imbuhnya dalam keterangan resmi, dikutip Senin (5/6/2023).

Obesitas adalah penumpukan lemak berlebih akibat ketidakseimbangan asupan energi atau energy intake dengan energi yang digunakan yakni energy expenditure dalam waktu lama. Masih menurut European Journal of Endocrinology yang dipublikasikan oleh Medical Express pada tanggal 10 Mei 2023, dimana mereka melakukan penelitian cross-sectional atau potong-lintang retrospektif pada 268 anak-anak dan remaja berusia 2 hingga 18 tahun di Unit Endokrinologi Anak di Universitas Catania, Sisilia, Italia untuk mencatat berat badan, volume testis, usia, indeks massa tubuh, dan resistensi insulin dari partisipan.

Hasilnya, peneliti menemukan anak laki laki dengan berat badan normal memiliki volume testis 1,5 kali lebih besar dibandingkan yang kelebihan berat badan atau obesitas pada usia pra pubertas. Temuan ini mengindikasikan bahwa individu yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, serta menderita hiperinsulinemia atau resistensi insulin, cenderung memiliki volume testis yang lebih kecil dibandingkan dengan individu yang memiliki kondisi kesehatan yang baik.

Selanjutnya, berdasarkan fakta bahwa volume testis yang lebih kecil berkaitan dengan produksi sperma yang lebih rendah di masa dewasa, peneliti meyakini bahwa penurunan berat badan dapat menjadi langkah yang membantu pasien untuk mencegah masalah kemandulan di masa depan. Salah satu penulis studi, Rossella Cannarella menyatakan, bahwa mereka berasumsi bahwa mengendalikan berat badan dengan lebih cermat selama masa kanak-kanak dapat menjadi strategi pencegahan yang efektif untuk mempertahankan fungsi testis di masa dewasa. 

Infertilitas diketahui memiliki dampak negatif pada kesehatan psikologis, kehidupan ekonomi, dan sosial individu yang berada dalam usia subur. "Kami berspekulasi kontrol berat badan yang lebih hati-hati di masa kanak-kanak dapat mewakili strategi pencegahan untuk mempertahankan fungsi testis di kemudian hari," yakinnya.

Dana kembali mengingatkan, ada beberapa tanda yang harus diwaspadai dan anak harus ke dokter, yaitu saat berat badan sudah mulai mengganggu aktivitas hariannya. "Berat badannya sudah mulai mengganggu kesehatannya, segera periksakan diri mereka ke dokter anak. Semakin cepat bertindak, maka akan semakin mudah untuk buah hati memulai program penurunan berat badan," sarannya.

Sementara itu, perlu diketahui juga ada beberapa sebab anak obesitas yaitu karena faktor genetik dari turunan orangtua, pola makan tidak teratur, kurang aktivitas fisik, dan pengaruh psikologis. Selain berat badan meningkat, beberapa tanda anak alami obesitas yakni alami sesak napas, postur tubuh buruk, mendengkur saat tidur, sakit punggung, gampang lelah dan mudah berkeringat.

Tips agar anak terhindar dari obesitas. Berikut ini beberapa cara mencegah anak obesitas yang bisa dilakukan orangtua menurut dr. Dana:


1. Berikan Contoh Baik

Anak biasanya meniru apa yang orang tua lakukan. Sehingga, dengan memberikan mereka contoh gaya hidup yang baik, anak mungkin akan meniru apa yang kamu lakukan.


2. Jadwal Tidur Teratur

Jadwal tidur yang tidak teratur diketahui dapat mengganggu hormon dan meningkatkan rasa lapar. Pastikan anak mendapatkan tidur cukup untuk mengurangi rasa lapar yang berlebihan dan menyebabkan kelebihan berat badan.


3. Kenalkan Makanan Baru

Kebanyakan anak memiliki masalah dalam makanan karena mereka tidak terbiasa dengan makanan baru. Perkenalkan mereka pada makanan lain untuk membiasakan indra pengecap mereka terbiasa dengan makanan lain.


4. Perhatikan Asupan Kalori

Pastikan Bunda untuk selalu memperhatikan asupan kalori yang mereka dapatkan dalam sehari untuk mengontrol berat badan mereka. Kamu bisa mengkonsultasikan hal ini dengan dokter anak untuk hasil yang maksimal. (tim redaksi)


#anakdenganobesitas

#cegahanakobesitas

#beratbadanberlebih

#gayahidupmager

#jarangbergerak

#kembalikegayahidupsehat

#tipscegahanakobesitas

Tidak ada komentar