Breaking News

Zimbabwe Berontak, Tambang Lithium Mereka Dieksploitasi Habis-habisan Oleh Tiongkok

 

Tambang lithium di Zimbabwe. (Ilustrasi/ Net)


WELFARE.id-Pemerintah Zimbabwe memutuskan untuk menutup sementara tambang lithium terbesarnya, Bikita Minerals, yang saat ini dikendalikan oleh perusahaan Tiongkok, Sinomine Resource Group. Melansir media New Zimbabwe, Rabu (31/5/2023), penutupan tambang dilakukan selama sepekan di tengah klaim "penjarahan" yang diajukan oleh pengawas lokal.

Sebatas informasi, Tiongkok melirik Afrika untuk mencari lithium yang dibutuhkan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik (EV), seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik global. Salah satu yang menjadi sasaran yakni Zimbabwe, dimana Tingkok selangkah demi selangkah mulai "mendominasi" operasionalisasi tambang lithium di negara tersebut.

Wakil Menteri Pertambangan dan Pengembangan Pertambangan Polite Kambamura mengkonfirmasi, penangguhan yang terjadi dilakukan, setelah audit antar kementerian minggu lalu. Direktur Center for Natural Resource Governance (CNRG) Farai Maguwu pada 2 Mei mengklaim, penjarahan lithium besar-besaran di tambang tersebut. 

Ia mengatakan, sebanyak 42 truk bijih lithium dikatakan meninggalkan lokasi setiap hari. "Rekan-rekan warga Zimbabwe, penjarahan mineral kita di Bikita Minerals telah mencapai level yang lebih tinggi. Mereka mengolah 754 ton konsentrat per hari, 42 truk bermuatan konsentrat litium berangkat setiap hari dengan barang rampasan,” kata Maguwu.

Bikita Minerals diketahui mempekerjakan 860 pekerja dan ditaksir memiliki 11 juta ton lithium, deposit mineral terbesar yang diketahui di dunia. Sinomine Resource Group mengambil alih Bikita Minerals tahun lalu.

Saat itu, itu adalah satu-satunya tambang penghasil lithium di Zimbabwe dan salah satu tambang tertua di Afrika, usai terjadi kesepakatan senilai USD180 juta. Lithium dipandang sebagai jalan keluar Zimbabwe dari krisis ekonomi selama tiga dekade. 

Analis berpendapat, mineral itu juga dapat membantu menghindari dampak pembatasan perdagangan dan bantuan keuangan sejak awal 2000-an. Penambang Tiongkok menginvestasikan USD200 juta dolar AS lagi untuk memperluas operasi yang ada di Bikita, termasuk pembangunan dua pabrik pemrosesan litium untuk menghasilkan 250.000 ton konsentrat spodumene dan 480.000 ton petalite per tahun.

Spodumene adalah mineral baterai utama lainnya, dan petalite adalah mineral lithium yang digunakan dalam industri kaca dan keramik. Sementara itu, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada awal pekan ini, Manajer Tambang Bikita Minerals David Mwanza mengatakan, bahwa mereka bekerja untuk menyelesaikan masalah yang diangkat tanpa menyebutkan namanya.

“Rilis ini berfungsi untuk memberi tahu pemangku kepentingan dan mitra bahwa kami telah menangguhkan operasi di pabrik kami selama tujuh hari untuk mengatasi masalah administratif yang diajukan oleh pihak berwenang,” kata Mwanza.

Di samping terjadi lonjakan produksi, kondisi kerja dilaporkan memburuk karena para pekerja diduga mengalami perlakuan buruk. Mereka ditampung di fasilitas yang tidak manusiawi dan tidak terdaftar di badan hukum seperti Otoritas Jaminan Sosial Nasional. 

Sebatas informasi, ketika beberapa negara mengambil langkah melindungi aset mereka, Zimbabwe justru meloloskan Undang-undang kontrol ekspor mineral dasar tahun lalu yang mengatur ekspor lithium mentah. Aturan itu mengecualikan perusahaan Tiongkok yang sudah berinvestasi di pertambangan atau pabrik pengolahan.

Perusahaan seperti Zhejiang Huayaou Cobalt, Sinomine Resource Group dan Chengxin Lithium Group telah menanamkan investasi mencapai USD678 juta atau setara Rp10,1 triliun (kurs Rp14.912/USD) ke dalam proyek lithium di Zimbabwe selama beberapa bulan terakhir. Kabar terbaru, China Natural Resources telah mencapai kata sepakat untuk mengakuisisi Williams Minerals, selaku operator tambang lithium di Zimbabwe dari Feishang Group dan Top Pacific (China). 

Feishang Group memiliki 70% saham operator tambang Williams Minerals, sementara Top Pacific (China) memegang 30% saham. Feishang juga memegang saham pengendali di China Natural Resources.

Berdasarkan perjanjian tersebut, China Natural Resources secara tidak langsung akan mengakuisisi semua kepentingan di Williams Minerals pada kuartal kedua tahun 2023. Dari 2024 hingga 2026, kepemilikan China Natural Resources atas tambang lithium di Zimbabwe akan diberikan secara kumulatif, wilayah demi wilayah.

Sementara itu China Natural Resources berencana menerbitkan saham terbatas mencapai 50% sebagai salah satu pertimbangan dalam kesepakatan. (tim redaksi)


#tambanglithiumdizimbabwestopoperasi

#tambanglithiumdizimbabwe

#perusahaantiongkok

#dominasiperusahaantiongkok

#eksploitasitambanglithiumzimbabwe

#bahanbakubateraikendaraanlistrik

Tidak ada komentar