Breaking News

Warung Kecil tak Boleh Jual Elpiji, Gas 3 Kg Langka di Kota Tangerang

Salah satu agen menata gas ukuran 3 kg ke tempat usahanya. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Pemerintah melalui PT Pertamina berencana membatasi penjualan gas elpiji 3 kg atau gas melon dengan klaim agar subsidi tepat sasaran. Aturan itu mulai diujicobakan di sejumlah daerah. Termasuk di Kota Tangerang.

Akibatnya, gas tersebut hanya akan dijual di penyalur-penyalur resmi. Melalui kebijakan tersebut, penjualan pada tingkat pengecer seperti di warung kecil yang bukan agen resmi tidak bisa lagi dilayani atau tidak dizinkan membeli gas bersubsidi tersebut.

Meski baru ujicoba, namun keberadaan gas elpiji 3 kg itu mendadak langka di sejumlah daerah. Terutama di warung-warung kecil penjual dan pengecer gas 3 kg di Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Akibat kelangkaan gas 3 kg ini dikeluhkan masyarakat. 
”Gas elpiji 3 kg memang sudah kosong sejak dua hari lalu. Stoknya gak ada,” terang Mulyana seorang pedagang warung kelontong di Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Minggu (15/1/2023)

Mulyana tak sependapat dengan wacana pemerintah melalui PT Pertamina yang akan membatasi penjualan gas 3 kg di warung-warung kecil milik masyarakat yang notabene bukan agen resmi.

”Pastinya kami enggak setuju bang, kalau ada pembatasan elpiji 3 kg orang-orang makin susah. Pendapatan juga berkurang, karena kan lumayan biar untung kecil buat tambahan," cetusnya.

Karena itu, Mulyana berharap pemerintah tidak jadi menerapkan regulasi pembatasan gas 3 kg tersebut. Sebab, nantinya masyarakat yang kecil akan mengalami dampaknya karena sulit mendapatkan gas 3 kg.

"Seharusnya, warung-warung kecil diusahakan mendapat jatah pengecer gas 3 kg, karena warung-warung ini jadi penggerak ekonomi rakyat. Kalau dibatasi kebijakan itu membuat kami susah," tandasnya.

Keberatasan yang sama juga disampaikan Deden, penjual eceran gas 3 kg di wilayah Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang. Deden mengaku keberatan bila benar rencana pembatasan itu diberlakukan.

"Merasa sangat keberatan juga kalau gas elpiji 3 kg dihapus dan penjualan dibatasi di warung-warung. Padahal warung ini jadi penopang ekonomi keluarga," tutur Deden.

Deden juga mengatakan bila tidak lagi diperbolehkan menjual gas elpiji 3 kg akan mempengaruhi omzet penjualan warungnya. Dia juga mengatakan warungnya jadi salah satu pemasukan untuk menghidupi keluarga 

”Penjualan gas 3 ini kan sebagai pelengkap isi warung. Penjualan saya berkurang, otomatis pendapatan juga berkurang. Nanti siapa yang akan memberi makan keluarga saya," tegasnya.

Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan pembatasan penjualan gas elpiji 3 kg saat ini baru diujicobakan di lima kecamatan yang ada di Tangerang, Semarang, Batam, dan Mataram. 

Daerah lain akan dilakukan bertahap dengan tetap berkoordinasi pada regulator. ”Penjualannya di lembaga penyalur resmi dan sub penyalur atau pangkalan resmi,” terang Irto Ginting kepada wartawan, Sabtu (14/1/2023).

Dengan hanya memperbolehkan pembelian di sub penyalur atau pangkalan resmi, Irto mengatakan dapat memudahkan proses verifikasi pembeli. Karena pembelian gas 3 kg akan menggunakan data KTP.

Dengan metode itu, Irto meyakini penyaluran subsidi gas LPG 3 kg lebih tepat sasaran. ”Karena di titik ini, agen dan sub agen akan diverifikasi pembeli gas 3 kg,” cetus Irto juga. (tim redaksi)

#gaselpiji
#pembatasanpembeli
#gas3kg
#gasmelon
#ptpertamina
#kotatangerang
#ciledug

Tidak ada komentar