Breaking News

TPA Sarimukti Overload, Bandung Darurat Sampah!

Tumpukan sampah di TPA. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Sampah menjadi persoalan di kota-kota besar di Indonesia. Tak hanya di Jabodetabek, Bandung pun mengalami permasalahan sampah kronis.

Sejumlah tempat pembuangan sampah (TPS) di Kota Bandung, Jawa Barat mulai menumpuk. Sampah yang menggunung dan membusuk menyebabkan bau tak sedap menyengat ke lingkungan sekitarnya.

Menumpuknya sampah tersebut, karena tersendatnya pengangkutan sampah dari TPS ke tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti di Bandung Barat. Akses ke TPA Sarimukti licin dan ada sejumlah kendala lain menyebabkan truk sampah tersendat masuk.

Di TPS Cijambe, Kota Bandung misalnya, sampah tampak mulai menggunung. Sebuah bak truk sampah juga tampak ada di TPS tersebut sejak beberapa hari lalu.

"Iya ini belum bisa diangkut, karena di sananya sulit masuk," kata salah seorang petugas, dikutip Selasa (17/1/2023). Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung dan Kabupaten Bandung telah mengirimkan surat edaran kepada warga.

Surat edaran tersebut memberikan penjelasan atas terkendalanya pengangkutan sampah beberapa hari ke depan. "Sehubungan kendala keterlambatan pengangkutan sampah yang kami layani bahwa dari para pengemudi atas kondisi dan pihak pengelola TPA Sarimukti Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, bahwa mengalami kendala teknis. Di antaranya, kondisi landasan menuju pembuangan yang licin dan tidak stabil," tulis Kepala UPT Pengangkutan Sampah Rancaekek Rana Sutrisna.

Kendala lainnya adalah, kecelakaan kendaraan angkutan sampah di lokasi TPA. Kemudian terjadi longsor timbunan sampah hingga menyebabkan antrean panjang.

Hal itu berdampak kepada jadwal pengangkutan sampah di titik pelayanan menjadi tidak sesuai pengangkutan rutin. "Berdasarkan hal tersebut kami mohon maklum atas kondisi yang tidak dapat kami hindari. 

Kami imbau agar para pengurus atau pengelola kebersihan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga dan sumber dengan melakukan pemilahan sampah organik dan non organik sebagai upaya mengurangi kenyamanan akibat penumpukan sampah," imbuhnya.

Sebatas informasi, sebanyak 1.500 ton sampah dihasilkan setiap harinya di Kota Bandung atau 0,63 kg tiap orang per hari. Menurut Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna, mindset atau pandangan terhadap sampah perlu diubah dari 'permasalahan' menjadi 'potensi'.

Dia memaparkan, mayoritas jenis sampah yang dihasilkan Kota Bandung adalah sisa makanan sebanyak 44,5 persen, sampah plastik 16,7 persen, karton 13,2 persen, dan sampah kain 4,75 persen. "Kalau masih dilakukan penanganan dengan cara konvensional, saya perkirakan, sampah Kota Bandung bisa sampai 1.700 ton per hari," ujar Ema, tahun lalu.

Hal ini jadi masalah tersendiri. Sebab Kota Bandung tidak memiliki TPA sendiri. 

Saat ini Kota Bandung masih bergabung dengan wilayah lain di Sarimukti Kabupaten Bandung Barat dalam membuang sampah. Belum lagi infrastruktur dan kendala lainnya yang masih menjadi tantangan tersendiri.

"Perlu ada pergeseran paradigma. Jangan jadikan sampah sebagai masalah, tapi benar-benar harus jadi potensi, meski memang ini tidak mudah," ucapnya. Demi mengoptimalkan penanganan sampah, Pemkot Bandung bersama ITB berkolaborasi dalam program Smart with Living Lab (SWLL). 

Program ini diusulkan Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas ITB (PIKKC ITB). SWLL merupakan program laboratorium hidup yang dibuat sebagai bentuk dalam mendukung upaya mewujudkan smart and sustainibility city/campus dalam berbagai bidang, salah satu di antaranya adalah bidang lingkungan.

"Kemarin sudah menentukan tiga kawasan DDG (Dago DU Ganesha), sekarang ditambah Braga. Kita terus berdiskusi, tak hanya untuk membenahi masalah sampah, tapi juga menangani masalah PKL, parkir liar, dan titik kemacetan yang sering terjadi di empat kawasan ini," rincinya. Bahkan, Kota Bandung telah mendapatkan bantuan dari PUPR berupa Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Refused Derived Fuel (RDF) di Holis.

"Ini bisa menjadi potensi ekonomi dan peluang lapangan kerja yang baru. Ini menjadi salah satu strategi yang sangat efektif jila bisa kita terapkan di seluruh kecamatan," sebutnya. Head of Smart City & Community Innovation Center ITB Prof. Suhono Harso Supangkat menjelaskan, SWLL mulai dikembangkan tahun lalu dan diusulkan di G20 pada November di Bali.

"Agar kehidupan lebih baik, kita minimalisasi sampah, menyirkularsikannya agar bisa lebih diberdayakan," ungkap Suhono. Ia berharap, Kota Bandung dan ITB dapat menjadi pilot project atau percontohan untuk mengelola sampah menjadi hal yang bermanfaat.

"Program ini dilakukan untuk mempersiapkan kota/kampus dalam mengelola sampah baik makanan/ sampah kemasan menjadi maksimal dan bisa dipakai. Ini merupakan bagian dalam meningkatkan kualitas hidup dan mencapai sustainable goals," harapnya. (tim redaksi)

#masalahsampah
#sampahdibandung
#TPAsarimukti
#tempatpembuangansampah
#TPS
#sampahrumahtangga
#persoalansampah
#bandungdaruratsampah

Tidak ada komentar