Breaking News

Kuota Pertalite 2023 Ditambah Jadi 32,56 Juta KL

Ilustrasi (dok pertamina) 

WELFARE.id-Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyampaikan, kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) tahun 2023, Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) untuk minyak tanah (kerosene) sebesar 0,5 juta Kilo Liter (KL), minyak solar sebesar 17 juta KL. 

Sedangkan untuk Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) atau kuota Pertalite sebesar 32,56 juta KL, atau naik dari 2022 sebesar 29,91 juta KL. Sebagai informasi, kuota Pertalite 2022 juga sudah naik dari kuota awal 23,05 juta KL. 

"Untuk JBKP kuotanya mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, kurang lebih 2,6 juta KL, hal ini didasari oleh tren konsumsi bulanan BBM tahun 2022 yang sudah mendekati normal setelah mengalami penurunan saat pandemi," jelas Kepala BPH Migas, Erika Retnowati dikutip Minggu (8/1/2023). 

Erika menjelaskan, perhitungan ini masih mengacu Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 191 Tahun 2014, yang belum menetapkan perincian konsumen pengguna dan titik serah untuk Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan. 

Saat ini, BPH Migas dan para pemangku kepentingan lainnya sedang mengusulkan Revisi Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak, hal ini dimaksudkan agar JBT dan JBKP tepat sasara 

Dalam penjelasannya, Erika menuturkan agar solar dan Pertalite dapat didistribusikan dengan tepat sasaran. Selain perbaikan regulasi melalui revisi Perpres 191/2014, juga ditingkatkan pengendalian penyaluran BBM dengan pemanfaatan teknologi informasi, melalui pendaftaran konsumen pada web subsidi tepat, yang juga dapat diakses melalui aplikasi My Pertamina. 

Hal ini sesuai ketentuan dalam Perpres 191/2014 bahwa pendistribusian JBT dan JBKP dilakukan secara tertutup. Nantinya hanya konsumen yang terdaftar yang dapat dilayani untuk memperoleh JBT dan JBKP. 

Adapun mengenai masalah pendistribusian BBM tepat sasaran, BPH Migas bersama Polri telah mengungkap penyalahgunaan BBM bersubsidi sebanyak 1,4 juta liter sepanjang 2022. Erika menyebut, solar menjadi jenis BBM yang paling banyak disalahgunakaan. “Cukup signifikan hasil yang sudah diungkap kepolisian. Jenis BBM yang dominan adalah BBM solar bersubsidi,” tandasnya. 

Erika juga mengatakan pada 2022 kemarin pihaknya telah melakukan penindakan hukum terhadap penyalahgunaan BBM subsidi, antara lain di daerah Sumate Selatan dengan temuan BBM sebanyak 114,8 ton. Kemudian di Jawa Barat sebanyak 22 ton, Jambi 700 liter, dan Jawa Tengah 40 ton. BPH Migas, kata dia, juga telah memberikan keterangan ahli untuk 786 kasus dugaan penyalahgunaan BBM. 

Penyalahgunaan BBM bersubsidi, Erika melanjutkan, dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antaranya karena sistem pengendalian dan pendistribusian solar bersubsidi yang belum optimal. Kemudian, disparitas harga antara solar subsidi dan solar industri. (tim redaksi) 

#bphmigas
#kuotapertalite
#pertalite
#solar
#kuotapertalite2023
#bbm

Tidak ada komentar