Breaking News

Krisis Energi di Depan Mata, RI Perlu Segera Transisi Energi ke EBT

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Istimewa/ Net

WELFARE.id-Negara di dunia tengah berjibaku melawan krisis energi. Afrika Selatan dan Pakistan bahkan harus melakukan pemadaman bergilir di wilayahnya untuk menghemat penggunaan listrik.

Pun demikian dengan Indonesia. Masalah krisis energi bisa dirasakan semua negara. Maka itu, percepatan transisi energi mutlak dibutuhkan saat ini.

Dalam perhelatan Presidensi G20 tahun lalu, Pemerintah juga telah menghasilkan sejumlah kerja sama pembiayaan dan investasi di sektor energi. Hal ini terlihat dari kerja sama Partnership for Global Infrastructure and Investment, Asia Zero Emission Community (AZEC), Just Energy Transition Partnership (JETP), dan Millennium Challenge Corporation (MCC) Compact.

"Transisi energi menjadi upaya sekaligus komitmen Pemerintah untuk mengantisipasi krisis energi ke depan. Pemerintah telah meningkatkan bauran sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% di tahun 2025, hingga 31% di tahun 2030,” ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam diskusi virtual di Jakarta, dikutip Kamis (26/1/2023).

Ia juga menyampaikan, bahwa Pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan di sektor energi, salah satunya biodiesel B35 yang akan diimplementasikan di bulan Februari nanti. Hingga pertengahan tahun 2022, tercatat kapasitas pembangkit listrik EBT telah mencapai 2.576 megawatt, atau meningkat sekitar 5% per tahunnya dalam lima tahun terakhir. 

Upaya tersebut masih perlu diakselerasi bersamaan dengan upaya lain dalam transisi energi, seperti transisi PLTU menjadi PLT nonfosil. Banyaknya danau dan laut di Indonesia juga menjadi keuntungan Indonesia dalam transisi energi berbasis hydro karena cost pembebasan lahan di danau dan laut jauh lebih murah daripada membebaskan lahan di daratan. 

"Transisi kita yang paling immediate itu adalah penguatan teknologi,” tegasnya. Ia juga menyinggung, bahwa kemandirian Indonesia di sektor energi bergantung pada ketergantungan energi di sektor otomotif yakni BBM. 

"Nah, selama BBM bisa kita konversikan sebagian melalui biodiesel, dan yang lain kombinasi dengan electric vehicle, tentu tujuan untuk kemandirian energi ini bisa dicapai,” yakinnya. Selanjutnya, Ketua Umum Partai Golkar itu juga menjelaskan, bahwa tantangan yang ada dalam upaya transisi energi adalah tantangan bersama antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 

"Renewable energy ini akan berhasil kalau kita kerjakan secara gotong royong,” tandasnya. (tim redaksi)

#menkoperekonomian
#airlanggahartarto
#energibaruterbarukan
#krisisenergi
#tantangantransisienergi
#bauranEBT
#EBT

Tidak ada komentar