Breaking News

Krisis Energi di Afsel Kian Nyata, Pemadaman Listrik Ditambah Jadi 12 Jam Per Hari!

Pemadaman listrik. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Krisis energi di negara paling maju di Benua Afrika, Afrika Selatan (Afsel) kian nyata. Sejak tahun lalu, negara di Benua Hitam itu terang-terangan melakukan penghematan listrik dengan pemadaman bergilir selama 6 jam per hari.

Awal tahun ini, pemadaman listrik ditambah, menjadi 12 jam per hari. Pemadaman dilakukan bergilir di seluruh wilayah di Afsel.

Melansir CNN, Jumat (20/1/2023), kondisi ini disebabkan karena pembangkit listrik tenaga batu bara di negara tersebut sudah tua dan rusak. Selain itu, negara tersebut juga tidak memiliki cukup dana untuk membeli solar demi mengoperasikan generator darurat.

Warga Afrika Selatan telah mengalami pemadaman listrik selama bertahun-tahun lamanya. Namun tahun 2022 merupakan rekor terburuk, di mana pemadaman listrik bergilir terus berlangsung selama 205 hari.

Sementara awal tahun ini, pemadahan bergilir terjadi setiap harinya. Situasi pun kembali memburuk minggu lalu ketika BUMN Energi di sana, Eskom, mengatakan akan menerapkan lebih banyak pemutusan aliran listrik karena kerusakan di 11 unit pembangkit listrik tenaga batu baranya.

Perusahaan harus menaikkan load shedding, pelepasan beban bila pada salah satu genset mengalami gangguan, ke level 6. Sementara langkah tersebut memerlukan penghapusan daya sebesar 6.000 megawatt (MW) dari jaringan untuk menyeimbangkan kembali permintaan dan pasokan.

Langkah ini pun pada akhirnya dapat mendorong terjadinya pemadaman selama 4,5 jam dalam satu waktu dan total 12 jam sehari untuk rumah tangga dan bisnis. Atas kejadian tersebut, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa terpaksa membatalkan perjalanan ke Davos pada pekan ini. 

Ia menukar perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia di Swiss untuk pertemuan darurat tentang krisis energi yang sedang berlangsung. Masalah ini seharusnya bisa terselesaikan dengan dibangunnya dua pembangkit listrik tenaga batu bara terbesar di dunia, Medupi dan Kusile, di provinsi Limpopo dan Mpumalanga di Afrika Selatan.

Namun 15 tahun setelah konstruksi dimulai, pembangkit ini hanya menghasilkan sekitar setengah dari akumulasi kapasitas mereka, yakni 9.600 MW, karena adanya kerusakan, cacat teknis, hingga kecelakaan. Ditambah lagi, tragedi pencuriam listrik di kota-kota miskin hingga para pelanggan yang tak bayar listrik pun memperburuk keadaan. (tim redaksi)

#pembangkitlistrikbatubara
#afrikaselatankrisisenergi
#pembangkitlistriktua
#pembangkitlistrikrusak
#pencurianlistrikdikotamiskin
#pemadamanbergilir
#krisisenergi

Tidak ada komentar