Breaking News

Komoditas ini Jadi Penopang Kenaikan Nilai Ekspor Indonesia di 2022

Ilustrasi (net) 

WELFARE.id-Nilai ekspor Indonesia pada 2022 tumbuh 29,4 persen dengan nilai USD268 miliar atau sekitar Rp4.144 triliun. Komoditas seperti besi baja, bahan bakar fosil, dan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) berkontribusi dalam peningkatan tersebut. 

“Batu bara bisa mengompensasi impor daripada minyak, sehingga di bidang energi ini positif sebesar hampir USD6,8 miliar secara year to date. Sedangkan iron and steel USD29 miliar, dan CPO sekitar USD30 miluar. Tentu ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia relatif kuat,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dikutip Jumat (13/1/2023). 

Meski gejolak geopolitik masih memanas, dan resesi ekonomi di depan mata, Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekspor pada 2023 akan tetap tumbuh positif. Meski lebih melambat daripada tahun lalu. 

Menurut Airlangga, pemerintah memproyeksikan nilai ekspor naik di 12,8 persen dan nilai impor di 14,9 persen. "Tahun 2022 ekspor tumbuh 29,4 persen, impor tumbuh 25,37 persen. 2023 diproyeksikan, karena kita basisnya sudah tinggi, ekspornya naik di 12,8 (persen), impornya 14,9 persen," tukasnya. 

Airlangga menjelaskan, dalam rapat bersama Presiden Jokowi, Presiden memberikan arahan kepada jajarannya agar pertumbuhan nilai ekspor yang positif ini juga diikuti dengan peningkatan cadangan devisa. 

Presiden juga meminta agar Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor dari Kegiatan Pengusahaan, Pengelolaan, dan/atau Pengolahan Sumber Daya Alam dapat diperbaiki. "Saat ini hanya sektor pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perikanan yang diwajibkan masuk dalam negeri. Nah ini kita akan masukkan juga beberapa sektor, termasuk sektor manufaktur. Kita akan melakukan revisi (PP Nomor 1 Tahun 2019), sehingga tentu kita berharap peningkatan ekspor dan juga surplus neraca perdagangan akan sejalan dengan peningkatan dari cadangan devisa," tandasnya. 

Sementara itu, soal negara tujuan ekspor, Airlangga mengatakan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) masih menjadi negara dengan pangsa pasar yang tertinggi. Perdagangan antarnegara anggota ASEAN (Intra-ASEAN Trade) juga masih cukup tinggi.  “Ini menjadi potensi bagi Indonesia untuk memperkuat pangsa pasar Indonesia di negara ASEAN dan berketetapan dengan Bapak Presiden memegang keketuaan ASEAN. Jadi ini menjadi prioritas yang diarahkan Bapak Presiden,” pungkasnya. (tim redaksi) 

#ekspor
#eksporri
#menkoperekonomian
#airlanggahartarto
#komoditasekspor

Tidak ada komentar