Breaking News

Jual Bayi dengan Cara COD, Emak-Emak di Klaten Ditangkap Polisi

Lestari Ningsih alias Lia dikeler ke Mapolres Klaten polisi karena kasus penjualan bayi. Foto: net

WELFARE.id-Aksi Lestari Ningsih alias Lia, 29, warga Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Klaten, Jawa Tengah ini tidak patut ditiru. Dia diciduk polisi karena hendak menjual bayi. Bayinya bukan anak kandungnya tapi anak orang lain.

Karena menjual bayi di dua lokasi yaki Klaten dan Demak, Lia diciduk aparat Polsek Klaten. Kasus penjualan bayi oleh Lestari di Klaten, ini belum sampai ke tangan konsumen karena baru tahap tawar menawar harga. 

Adapiun motif aksi penjualan bayi tersebut adalah murni untuk mendapatkan keuntungan. Padahal orangtua sang bayi itu mengetahui bayinya itu diadopsi bukan dijual. 

Tersangka Lia ditangkap polisi ketika hendak melakukan cash on delivery (COD) penjualan bayi di sebuah hotel di Klaten, Jawa Tengah, Selasa (10/1/2023). Sang bayi disebut belum ada identitas dan baru berumur satu hari.

"Ancaman pidananya penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun karena melanggar TPPO," terang Wakapolres Klaten Kompol Tri Wahyuni kepada wartawan di Mapolres Klaten saat konferensi pers pada Jumat (13/1/2023).

Sementara itu, Kanit IV Sat Reskrim Polres Klaten Ipda Febriyanti Mulyadi mengungkap awalnya pada 10 Januari 2023 tim gabungan Polres melakukan cipta kondisi dengan sasaran hotel.

Dalam pelaksanaannya, ditemukan seorang perempuan menginap di hotel jalan Klaten-Solo yang mencurigakan. Anggota kepolisian lalu mengecek ponsel milik perempuan itu yang ternyata di dalamnya ada chatingan tentang tawar menawar harga bayi perempuan tersebut.

"Didapati seorang perempuan bersama bayi berumur satu hari. Lalu identitas diperiksa tapi identitas dengan surat lahir bayi tidak sama. Dalam ponsel didapati chatting tawar-menawar harga bayi perempuan itu, untuk harga awalnya Rp20 juta ada Rp21 juta juga," ujar Febriyanti.

Kepolisian menyebut Lia mengaku mendapat ide menjual bayi setelah membaca postingan di media sosial pada November 2022 lalu. Postingan itu berisi pencarian orang tua asuh untuk bayi.

"Tersangka melihat postingan dari akun Facebook ayah sang bayi di grup Peduli Jangan Buang Bayi dengan caption mencari orang tua asuh yang mau merawat anak," ungkap Febriyanti. 

Lestari lalu berkomunikasi dengan ayah bayi itu lewat WhatsApp. Saat itu sang bayi masih dalam kandungan. Kini ayah bayi itu menjadi saksi dalam kasus penjualan bayi tersebut.

Ayah bayi itu berkata pada Lia jika memang ada niat untuk mengadopsi maka akan dikabari lagi.
Hingga kemudian pada 9 Januari 2023, ayah bayi itu mengabari bahwa bayinya sudah lahir. 

Keesokan harinya, Lestari minta ayah bayi itu mengirimkan foto bayinya. "Setelah dapat foto, tersangka mengirim foto di grup WhatsApp adopter yaitu grup jual beli bayi dengan kalimat 'butuh adopter bayi, lahir bayi perempuan kemarin sore'," lanjut Lia juga.

Lestari mengaku motifnya menjual bayi adalah murni untuk mencari keuntungan. Ia bahkan menyebut yang mau membeli bayi banyak. Ternyata aksi itu bukan yang pertama karena Lia pernah melakukan sebelumnya. 

”Pertama dijual ke Demak Rp13 juta. Dapat dari ibu hamil, yang Demak lupa. Yang mau beli banyak, saya bikin grup sendiri dua. Tapi orang di luar grup sekitar 10 orang, " ungkap Lestari pada wartawan saat pers rilis di kantor Polres Klaten.

Lestari menyebut uang hasil penjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. "Tahunya ketangkap kemarin itu. Saya hubungi suami, anak mau saya bawa pulang tapi suami tidak setuju, saya istirahat di hotel malah ditangkap," cetusnya. 

Sementara soal harga bayi yang ia bawa saat ditangkap, Lia mengaku belum deal sebab baru ditawar oleh orang yang mau mengasuhnya. "Belum terjual saya tawarkan ke orang Rp20 juta sampai Rp 21 juta," tandasnya. (tim redaksi)


#kotaklaten
#jawatengah
#penjualanbayi
#polresklaten
#tppo
#tindakpidanaperdaganganorang
#sindikatpenjualanbayi

Tidak ada komentar