Breaking News

IMEF Prediksi Permintaan Batu Bara Indonesia tetap Tinggi Meksi Kran Impor dari Australia Dibuka

Penambangan batu bara di Queensland, Australia. Foto: AFP

WELFARE.id-Dibukanya keran kembali impor batu bara Australia oleh Tiongkok (China, Red) tidak akan mengganggu permintaan impor batu bara dari Indonesia dari sejumlah negara tahun 2023 ini. 

Karena itu, Indonesian Mining & Energy Forum (IMEF) memproyeksikan permintaan batu bara asal Indonesia akan tetap tinggi tahun ini. 

Proyeksi itu turut ditopang oleh kuota ekspor batu bara yang dipatok tinggi di level 517,7 juta ton atau naik 4,11 persen dari rencana ekspor tahun 2022 lalu. 

Ketua IMEF Singgih Widagdo mengatakan kalau Tiongkok dan India tetap menjadi pasar terbesar bagi batu bara Indonesia dengan porsi pengiriman mencapai 54 persen setiap tahunnya. 

Sementara pasar Eropa diproyeksikan bakal tetap tertahan di kisaran 6,5 juta ton pada tahun 2023 ini. 

”Justru yang cukup memberikan pengaruh jika Tiongkok jadi membuka keran kembali impor batu bara Australia, tentu akan memberikan pengaruh terhadap pasar batu bara Indonesia,” kata Singgih, Jumat (20/1/2023).

Dia juga mengatakan perusahaan domestik mesti dapat mengoptimalkan pasar ekspor lantaran pertumbuhan konsumsi batu bara domestik yang masih konservatif tahun ini. 

Meksi demikian, dia memastikan, manuver Australia yang belakangan ingin menerapkan kebijakan wajib pasok pasar domestik atau domestic market obligation (DMO) tidak bakal banyak menggeser lanskap pasar komoditas emas hitam itu di dunia internasional. 

Berdasarkan data produksi batu bara Australia yang berkisar 590 juta ton setiap tahunnya, penggunaan untuk pasar domestik berada di kisaran 129 juta ton. Adapun, alokasi ekspor steam coal Australia di pasar dunia sekitar 196 juta ton. 

”Jadi langkah Pemerintah Australia yang akan mengimplementasikan kebijakan DMO pada dasarnya tidak memberi pengaruh besar terhadap pasar batu bara dunia, baik pasar Atlantik maupun pasar Pasifik,” kata Singgih juga. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Negara Bagian Australia berencana menerapkan skema baru perdagangan batu bara, dimana penambang lokal perlu menyisihkan antara 7 persen hingga 10 persen untuk cadangan dalam negeri. 

Dikutip dari Bloomberg, Kamis (19/1/2022), New South Wales (NSW), negara bagian penghasil batu bara terbesar kedua setelah Queensland, akan mengeluarkan aturan pembatasan impor batu bara tersebut. Kebijakan ini mirip dengan domestic market obligation (DMO) yang diterapkan juga di Indonesia. 

Menteri Keuangan NSW Matt Kean mengatakan pihaknya tengah berupaya menutupi kekurangan cadangan sekitar 4 juta ton, atau sekitar 2,5 persen dari proyeksi ekspor batu bara tahun 2023 ini. 

"Saya tahu mereka yang saat ini menyuplai batu bara untuk pasar lokal akan mengapresiasi bahwa perusahaan yang menikmati keuntungan jumbo setelah perang di Ukraina, akan berkontribusi ke pasar domestik. Pengaturan baru ini akan membantu (menyeimbangkan) persaingan di antara produsen batu bara," terangnya. 

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penjualan ekspor batu bara tahun ini dapat mencapai di angka 517,7 juta ton atau naik 4,11 persen dari rencana ekspor 2022. 

Target itu dipatok seiring dengan permintaan yang diprediksi tetap menguat dari sejumlah pasar tradisional yang membutuhkan batu bara seperti India dan Tiongkok. 

Sedangkan di sisi lain, permintaan dari pasar non-tradisional seperti sebagian negara Eropa juga masih tetap tinggi hingga awal tahun ini. 

”Target penjualan ekspor tahun ini jadi 517,7 juta ton,” kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Lana Saria, Jumat (20/1/2023). 

Adapun porsi ekspor itu berasal dari rencana produksi yang diputuskan naik ke angka 694,5 juta ton. Rencana produksi itu terbilang optimis mengikuti realisasi tahun sebelumnya yang melampaui target yakni mencapai 684,87 juta ton dari rencana awal yang ditetapkan sebesar 663 juta ton. (tim redaksi)


#batubara
#eksporenergi
#emashitam
#tiongkok
#india
#dmo
#australia
#indonesianmining&energyforum

Tidak ada komentar