Breaking News

Imbas Potensi Perlambatan Ekonomi, Nilai Rupiah Anjlok ke Rp15.616 per Dolar AS

Ilustrasi mata uang rupiah yang semakin tertekan oleh dolar AS. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Mata uang rupiah makin keok melawan dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, pada Kamis sore (5/1/2023) nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp15.616 untuk 1 USD. 

Mata uang Indonesia itu melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sehari sebelumnya. Sedangkan kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah ke posisi Rp15.610 per dolar AS pada perdagangan Kamis sore.

Sedangkan mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak di zona hijau. Seperti Yuan Tiongkok (China) yang naik 0,34 persen, peso Filipina tumbuh 0,24, lalu won Korea Selatan plus 0,18 persen.

Sedangkan yen Jepang naik 0,14 persen, rupee India tumbuh 0,10 persen, ringgit Malaysia naik 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,02 persen. Tapi, baht Thailand melemah 0,01 persen dan dolar Singapura turun 0,04 persen.

Sementara, mata uang sejumlah negara maju mayoritas melemah. Seperti Poundsterling Inggris yang melemah 0,39 persen, euro Eropa naik 0,05 persen, franc Swiss plus 0,12 persen, dolar Kanada minus 0,30 persen, dan dolar Australia melemah 0,43 persen.

Mengenai rupiah yang kembali melemah menurut Senior Analis DCFX Lukman Leong akibat tertekan oleh sentimen risk off domestik dengan sell off di bursa.

”Ini juga terkait rencana Tiongkok mengakhiri larangan impor batu bara dari Australia berpotensi menurunkan pendapatan ekspor batu bara asal Indonesia,” terangnya Kamis (5/1/2023). 

Selain itu juga, perlambatan ekonomi global juga diperkirakan akan menekan harga komoditas terutama energi yang berasal dari Indonesia hingga memuat rupiah tertekan dan melemah. (tim redaksi)


#rupiah
#melemah
#dolaramerika
#matauangdunia
#rupiahtertekan
#eksporkomoditasenergi

Tidak ada komentar