Breaking News

Hobi Streaming Ilegal, Rawan Pencurian Data dan Kena Tipu

Situs streaming ilegal. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny G Plate sudah menindak tegas sejumlah pengelola situs streaming ilegal sejak 2019 lalu. Sejak saat itu, tim siber Kominfo rajin memantau lahirnya situs streaming ilegal baru, bahkan tak ragu membawa pelaku melalui jalur hukum untuk memberikan efek jera.

Kominfo mengakui bahwa pemberangusan situs streaming film ilegal cukup merepotkan. Sebab, pengelola situs tersebut “kucing-kucingan” alias berganti alamat agar tidak ketahuan pemerintah.

"Apabila masih ada (situs streaming ilegal) maka tidak saja akan diblokir, tapi bisa saja ada tindakan hukum. Karenanya kesadaran untuk berhenti adalah hal yang baik,” tegasnya, kala itu.

Belum lama ini, Johnny menyinggung kembali soal streaming ilegal. Menurutnya, masyarakat boleh saja membuat aplikasi atau portal streaming film. 

Dengan syarat, harus menghadirkan konten yang legal. "Kalau ingin memiliki situs atau portal aplikasi film tentu boleh, silahkan ajukan izinnya. Kami akan bantu memfasilitasi. Tapi jangan aplikasi ilegal apalagi mengedarkan film ilegal dan bajakan,” janjinya, dikutip Rabu (11/1/2023).

Menurut survey yang dilakukan YouGov untuk Coalition Against Privacy (CAP) dari Asia Video Industry Association, 63 persen konsumen online Indonesia memang gemar mengakses situs streaming atau torrent ilegal untuk menikmati konten premium tanpa membayar biaya langganan. Padahal, pihaknya menekankan, bahwa streaming ilegal berisiko terhadap keamanan data pribadi kita. 

"Mengakses film, serial TV, dan acara olahraga langsung dari sumber yang tidak sah adalah ilegal, dapat membuat konsumen berisiko seperti pencurian data dan malware, dan dapat membantu mendanai kelompok kriminal terorganisir,” ujar Inspektur Kepala Detektif Gary Robinson dari unit kejahatan kekayaan intelektual kepolisian Inggris. 

Streaming Ilegal Cuan Banyak

Layanan streaming ilegal memang pernah menjamur di dunia, termasuk di Indonesia. Misalnya seperti LK21, Dunia 21 dan IndoXXI.

Platform-platform itu nyatanya sulit diberantas, mungkin karena para pelakunya berusaha untuk tetap hadir karena omset yang didapatkan sangat besar. Dalam sebuah laporan di laman White Bullet tahun 2022 menyebutkan, pendapatan untuk layanan tersebut sebesar USD1,34 miliar atau Rp19,2 triliun. 

Salah satu web teratas menawarkan konten curian yang menghasilkan pendapatan iklan tahunan global sebesar USD1,08 miliar (Rp15,5 triliun). Penyelidikan juga menemukan lima besar situs web ini menghasilkan rata-rata USD18,3 juta (Rp263 miliar) dari iklan. 

Mereka juga mengubah domain dan mengarahkan ulang untuk menghindari penegakan hukum serta tidak terblokir dari daftar iklan. Nama-nama besar seperti Amazon, Facebook, dan Google merupakan perusahaan yang ditemukan beriklan di situs 'berbahaya' itu. 

Perusahaan tersebut tercatat menyumbang 73% dari seluruh iklan merek utama yang muncul pada aplikasi pembajakan saat penelitian tahun lalu. Ini terjadi bahkan saat penjahat menawarkan iklan berisiko yang membuat konsumen bisa terkena penipuan dan malware. (tim redaksi)

#situsstreamingilegal
#malware
#risikopenipuan
#pencuriandatapribadi
#aplikasipembajakan
#bisadipidana
#pendapatanbesar

Tidak ada komentar