Breaking News

Harga Batu Bara Fluktuatif, Masih Berpotensi Bullish Jelang Embargo Produk Turunan Minyak Rusia

Tambang batu bara. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (24/1/2023) sore ditutup melemah. Pemicunya karena penurunan harga komoditas batu bara di tingkat global.

IHSG ditutup melemah 14,08 poin atau 0,20 persen ke posisi 6.860,8. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,6 poin atau 0,18 persen ke posisi 939,3.

"Untuk IHSG memang tertekan dari saham-saham batu bara mengikuti turunnya harga batu bara akhir-akhir ini," kata Equity Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei, melansir Antara, Rabu (25/1/2023). Harga batu bara acuan di ICE Newcastle Coal Futures Australia mengalami koreksi ke 290 dolar Amerika Serikat (AS) per ton pada Senin (23/1/2023), di mana dalam empat hari perdagangan turun lebih dari 12 persen.

Turunnya harga batu bara dipicu sejumlah faktor, di antaranya, melandainya permintaan karena peningkatan produksi, perlambatan ekonomi Tiongkok, menurunnya harga gas, serta mulai meredanya musim dingin di Eropa. 

Meskipun demikian, Indonesia sendiri menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) senilai USD305,21 dolar per ton pada Januari 2023 atau naik 8,43 persen dari sebelumnya 281,48 dolar AS per ton pada Desember 2022.

Selain itu pergerakan IHSG hari ini juga didorong oleh pelemahan saham- saham big banks yang turut menjadi pemberat indeks.

Adanya disparitas harga baru bara lokal dan global, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyampaikan, pihaknya bakal mengevaluasi formula pembentuk harga batu bara acuan atau HBA yang berlaku saat ini. Pasalnya, HBA yang diperoleh dari empat indeks yang digunakan pemerintah mempunyai gap yang tinggi.

"Kita lagi lakukan evaluasi karena sebelumnya kita memang sudah pakai empat indeks, ternyata empat indeks ini gap-nya terlalu tinggi. Tapi kan kita maunya sebetulnya realitasnya gimana. Nanti ini dalam tahap evaluasi," ujar Arifin kepada wartawan, dikutip Rabu (25/1/2023).

Seperti diketahui, HBA sendiri merupakan harga yang diperoleh dari rata-rata indeks Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 pada bulan sebelumnya, dengan kualitas yang disetarakan pada kalori 6322 kcal/kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8%, dan Ash 15%. 

Nantinya, harga ini akan digunakan secara langsung dalam jual beli komoditas batu bara (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel).

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Ing Tri Winarno beberapa waktu lalu juga mengatakan, pihaknya tengah mengevaluasi formula pembentuk harga batu bara acuan atau HBA. Hal tersebut merespon pelaku usaha yang menilai harganya tidak sesuai dengan yang ada saat ini.

Di samping itu, pihaknya juga tengah melakukan cross check untuk memastikan benar atau tidaknya yang dikeluhkan para pengusaha. "Kita check bener atau nggak sih (harga tidak sesuai), makanya kita ke India ke Tiongkok untuk sebetulnya seperti apa yang pas seperti itu," ulasnya, sebelumnya.

Kementerian ESDM mencatat bahwa Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia pada Januari 2023 mengalami kenaikan hingga 8,43% menjadi USD305,21 per ton dari bulan Desember 2022 yang hanya mencapai USD281,48 per ton. Kenaikan harga batu bara itu salah satunya dipicu karena terjadinya gangguan distribusi batubara di Australia sebagai salah satu pemasok batu bara global. 

Sementara itu, Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, meski saat ini harga batu bara masih cenderung mengalami penurunan. Namun, tren harga batu bara pada pekan ini masih berpotensi bullish. 

Sentimen yang mempengaruhi antara lain kembali aktifnya pasar pasca-libur perayaan tahun baru Imlek yang memicu terjadinya peningkatan permintaan batu bara. "Selain itu, persiapan cadangan di negara importir terutama Eropa menjelang berlangsungnya embargo produk turunan minyak Rusia pada 5 Februari mendatang,” ungkap Yoga melansir investor daily, dikutip Rabu (25/1/2023).
 
Yoga memprediksi, harga batu bara akan bergerak pada resistance USD385 - 400 per ton. "Apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun menuju support di kisaran harga USD330-315 per ton,” tutupnya. (tim redaksi)

#hargabatubara
#proyeksibatubarasepekan
#proyeksihargabatubara
#IHSG
#emitenbatubara
#HBA
#hargabatubaraacuan

Tidak ada komentar