Breaking News

Ganjar Pelototi Proyek Infrastruktur, Kunci Kemajuan Ekonomi Jateng di Masa Depan



Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengecek berbagai proyek infrastruktur yang terus dibangun di wilayahnya. Foto: Istimewa

WELFARE.id-Pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah (Jateng) terus berkembang dari waktu ke waktu. Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo paham bahwa infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Keberadaan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan dalam sistem pelayanan masyarakat. Berbagai fasilitas fisik merupakan hal yang vital guna mendukung berbagai kegiatan pemerintahan, perekonomian, industri dan kegiatan sosial di masyarakat.

Lantas, seperti apa pembangunan infrastruktur Jateng selama kepemimpinan Gubernur Ganjar? Di tiga tahun pertama kepemimpinan Ganjar, ia memprioritaskan pembangunan infrastruktur. 

Ganjar bahkan menaikkan anggaran hampir dua kali lipat di 2015 dengan nominal Rp2,1 triliun dari sebelumnya Rp1,2 triliun. Untuk tahun ketiga yaitu 2016 mencapai Rp3 triliun. Tahun itu dicanangkan sebagai tahun infrastruktur.

Kini, jalan di Jawa Tengah telah membentang di seluruh wilayah. Total panjang jalan provinsi mencapai 2.404,741 km. Sementara jalan nasional di Jateng mencapai 1.518,09 km, dan adapun jalan kabupaten/kota sepanjang 27.314,31 km.


Tahun lalu, jalan provinsi dengan kondisi sangat baik mencapai lebih dari 90%. Bahkan, untuk memastikan kualitas bahan dan pengerjaan, ia mengecek sendiri berbagai proyek pekerjaan jalan di berbagai daerah di Jateng.

Bahkan, penyuka olahraga gowes dan lari itu juga meluncurkan aplikasi pelaporan jalan rusak bernama Jalan Cantik. Melalui aplikasi itu, laporan kerusakan jalan nasional, jalan provinsi, maupun jalan kabupaten/kota bisa dilakukan.

Ganjar juga terus memantau infrastruktur jalan yang melintasi seluruh wilayahnya. Terbaru, terealisasinya bangunan jalan layang atau fly over (FO) Ganefo, Mranggen, Kabupaten Demak, yang bakal beroperasi pada Oktober 2022.

”Alhamdulillah setelah proses yang luar biasa Fly Over Ganefo di Mranggen Kabupaten Demak, tuntas kita kerjakan. Ini untuk panjenengan semua agar memperlancar arus lalu lintas di perlintasan kereta. Uji coba kita buka mulai hari ini. Semoga memberi manfaat semakin banyak,” terang Ganjar dalam keterangan unggahannya, dikutip Sabtu (21/1/2023).

Pada masa kepemimpinannya, total sudah sembilan fly over megah dan underpass yang dibangun. Terdapat satu yang masih dalah tahap pembangunan yakni, underpass dan Penataan Simpang Joglo Surakarta-Jalan Sumpah Pemuda Surakarta, yang dibangun tahun ini. 
 
Untuk panjang penanganan 410 meter, panjang jembatan 90,9 meter (underpass tertutup), jumlah empat lajur, jenis struktur dinding diafragma dan penutup balok beton bertulang, serta jenis pondasi dinding diafragma dan bore pile. Infrastruktur lain yang terus direvitalisasi dan dibangun adalah bandara. Di era Ganjar, ada tiga bandara yang dibangun. 

Memang tidak semua menggunakan APBD provinsi, karena itu kewenangannya PT Angkasa Pura. Peran krusial Ganjar adalah melobi dan meyakinkan pemerintah pusat untuk membangun bandara-bandara di Jateng.

Yang paling fenomenal adalah Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Sebelumnya, ada empat gubernur sebelum Ganjar yang sudah berusaha membangun bandara yang sempat mendapat julukan terjelek se-Nusantara. 

Kemudian Ganjar juga berhasil meyakinkan pusat untuk membangun bandara di Purbalingga dan Blora. Dua-duanya berkat kerja keras Ganjar dan para bupati setempat. 

Mereka sepakat, bahwa keberadaan bandara sangat penting untuk menunjang kemajuan wilayah. Investor jelas lebih senang karena akses ke Jateng bagian tengah dan timur kini lebih mudah.

Jateng kini memiliki enam bandara Bandara Adi Soemarmo di Kabupaten Boyolali, Bandara Dewandaru di Pulau Karimunjawa Jepara, Bandara Jenderal Besar Sudirman di Purbalingga, Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani di Kota Semarang, Bandara Ngloram di Cepu Kabupaten Blora, dan Bandara Tunggul lokasi di Kabupaten Cilacap.

Ganjar juga berhasil merevitalisasi 79 pasar tradisional, penggerak utama ekonomi rakyat. Sejak 2013, gubernur humoris dan merakyat itu perlahan namun pasti merevitalisasi pasar agar lebih nyaman dan aman bagi masyarakat untuk bertransaksi.

Untuk revitalisasi tersebut, Ganjar menggelontorkan dana dari anggaran Rp360 miliar. Bantuan pembangunan dan revitalisasi itu muncul dari aspirasi yang diserap saat pertemuan rutin yang dilakukan dengan kepala daerah dan masyarakat dalam musyawarah desa (musdes) dan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang).

”Setiap musdes dan musrenbang, selalu muncul usulan untuk pembangunan semacam pasar desa, termasuk kantor desa. Pelan-pelan kita coba bantu satu per satu," ujar Ganjar, dikutip Sabtu (21/1/2023). Ia menambahkan, revitalisasi itu juga dimaksudkan untuk melindungi pedagang pasar dari harga sewa kios pasar yang tinggi.

Hal itu, juga untuk menghindari gesekan antara pedagang pasar yang kerap saling rebut-rebutan kios jika harga sewanya ditentukan oleh investor. ”Khusus untuk pasar desa memang negara dan pemerintah harus terlibat. 

Kitalah yang harus membangun, karena kalo investor nanti orang berebut kios dan harganya ditentukan investor. Maka pasar-pasar apakah itu di desa, di level kabupaten kota memang lebih baik itu pemerintah yang mendorong," ucap gubernur yang gemar blusukan dan menyapa warganya itu.

Untuk pembangunan dan revitalisasi pasar tradisional, Ganjar menyebutkan tak pernah menargetkan jumlahnya. Jika suatu daerah mengajukan revitalisasi pasar tradisional, Ganjar langsung menginstruksikan jajarannya untuk merealisasikan anggaran.

”Kalau kita sifatnya bantuan, maka tentu menunggu usulan dari kabupaten kota masing-masing, itulah yang kita bicarakan dengan DPRD. Kalau setiap kabupaten kota sudah cukup dan mampu, kita serahkan ke mereka. Kalau nggak, baru kita yang turun sehingga targetnya sesuai usulan," imbuhnya.

Infrastruktur lain yang menjadi perhatian Ganjar adalah warga di Karimunjawa. Sejak Indonesia merdeka, Kepulauan Karimunjawa belum merdeka listrik.

Warga yang tinggal di pulau utama hanya bisa menikmati listrik 6-12 jam sehari. Jadilah kemudian, ia melobi PLN untuk membangun pembangkit listrik.

Alhasil, pada 2016, PLTD 2,2 Megawatt dibangun dan mampu menyuplai listrik 24 jam untuk seluruh kebutuhan warga di pulau utama. Tahun lalu, 3 pulau kecil lainnya, Pulau Parang, Genting, dan Nyamuk juga akhirnya terlistriki.

”Ada 3 sektor yang hidup jika ada listrik. Siswa bisa belajar dengan nyaman, lalu UMKM di sana juga bisa berproduksi tanpa takut byar pet. Keuntungan untuk pariwisata juga besar, kunjungan wisatawan meningkat pesat karena sarana dan prasarana lengkap,” ujar Ganjar.

Tak hanya warga Karimunjawa, bantuan pemasangan listrik gratis dari Pemprov Jateng juga diberikan kepada warga miskin. Pambudi, warga Desa Tanjungrejo RT 2 RW 1 Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo, salah satu penerima manfaat pemasangan listrik gratis. 

Perajin sangkar burung itu, lebih mudah mengoperasikan alatnya setelah mendapat saluran listrik gratis tersebut.
Selama ini, Pambudi harus menyambung listrik dari tempat selepan yang cukup jauh dari rumahnya, untuk dapat mengoperasikan alat pembuat sangkar burung. 

Pria berusia 37 tahun itu merupakan penyandang disabilitas akibat kecelakaan kerja pada 2010 silam. Kini, dengan adanya bantuan listrik gratis tersebut, Pambudi lebih semangat berproduksi sangkar burung meski di atas kursi roda.

”Awalnya, saya modal nekat untuk usaha sangkar burung. Hasil dari penjualan saya belikan alat untuk menunjang produksi, tapi akhirnya kendalanya pada di listrik. Karena saat itu listrik masih numpang di rumah kerabat, dan untuk kompresor harus nyambung ke tempat selepan,” ungkapnya.

Baru tahun lalu, akhirnya Pambudi menerima bantuan pemasangan listrik gratis dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah. Dari situ, ia tidak lagi harus mencari sumber listrik untuk penhgembangan usahanya itu.
“Ya, 2022 dapat bantuan listrik gratis dari Pak Ganjar Pranowo. 

Alhamdulillah itu bisa membantu saya memproduksi sangkar burung, ditambah juga bisa bikin pipa rokok. Ya, Alhamdulillah mempermudah usaha daripada tidak pakai listrik (sendiri). Ini sangat bermanfaat untuk usaha saya,” ucapnya gembira.

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko menuturkan, pemasangan listrik gratis merupakan salah satu program yang untuk menunjang kebijakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam pengentasan kemiskinan. ”Satu program dari ESDM yang diperuntukkan pengentasan kemiskinan, tapi sekaligus memberikan akses keadilan,” ungkapnya.

Sejak dilaksanakan 2014-2020, sudah 40.173 ribu rumah tersambung listrik. Pemasangan terbanyak di Banyumas 3.200 unit, Wonogiri 2.450 unit, Cilacap 2.371 unit, Pati 2.137 unit, dan Blora 1.816 unit.

Infrastruktur lain yang tengah digenjot Jateng di era kepemimpinan Ganjar Pranowo adalah membangun ekosistem hijau dan ramah lingkungan. Satu di antaranya, adalah kendaraan listrik. 

Ganjar mendorong industri-industri segera melakukan riset dan pengembangan mobil listrik. Saat ini yang sedang dibahas adalah penggunaan bus listrik untuk transportasi umum di Jateng. 

”Yang kita mau dorong itu mobil. Termasuk di Dinas Perhubungan kita itu bus. Kita sudah penjajakan dengan beberapa penyedia bus listrik. Sehingga harapan kita bus-bus kota itu mungkin semuanya Trans Jateng juga bisa diganti listrik,” rincinya.

Di sisi lain, Ganjar juga ikut memikirkan bagaimana agar persiapan transformasi ini dilakukan secara menyeluruh. Terutama terkait pengelolaan limbah baterainya. 

”Nah kita harapkan bagaimana cara me-recycle yang aman, yang tidak membuat limbah B3 dan seterusnya, ternyata sudah dipikirkan semua, dan sekarang sistemnya sedang dikembangkan. Nanti ada semacam tempat untuk research and development berkaitan dengan baterainya,” beber pria yang masuk daftar survei calon presiden 2024 itu.

Ia mengaku mendukung penuh berbagai upaya untuk membangun ekosistem hijau. Termasuk juga, terus menggenjot Desa Mandiri Energi. 

Sejauh ini, ada 2.353 desa mandiri energi di Jateng. Bahkan, gara-gara ini juga, Jateng menjadi percontohan nasional. 

Bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 2022 di Jateng mencapai 13,38% menuju target 21,32% pada 2025. EBT yang tengah dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga surya, hidro, panas bumi, dan sampah. Sedangkan energi nonlistrik merujuk penggunaan biodiesel, biogas, biomasa, dan gas rawa. 

Manfaat desa mandiri energi apa? Biaya kelistrikan menjadi lebih murah, diversifikasi ekonomi, pengembangan industri baru, munculnya lapangan kerja hijau, perbaikan kualitas udara, tanah, dan air, serta penurunan biaya kesehatan. (tim redaksi)

#ganjarpranowo
#gubernurjawatengah
#gubernurjateng
#pengentasankemiskinan
#infrastruktur
#pembangunaninfrastrukturjalan
#pembangunanbandara
#desamandirienergi
#indonesia

Tidak ada komentar