Breaking News

Cari Perhatian! Waspada Ini Gejala Sindrom Munchausen pada Anak

Ilustrasi pelaku sindrom Munchausen yang selalu berpura-pura sakit. Foto: net

WELFARE.id-Berpura-pura sakit merupakan hal yang kerap dilakukan guna menghindari sesuatu oleh anak-anak. Cara ini pun sering digunakan anak sebagai alasan tidak masuk sekolah. 

Namun, kalau hal ini terlalu sering, ibu wajib waspada. Sebab, ada dua kemungkinan, bisa jadi anak memang benar sakit atau kemungkinan lainnya adalah sindrom Munchausen. 

Sindrom Munchausen termasuk sebagai salah satu gangguan kesehatan mental. Kondisi ini juga dikenal sebagai sindrom pura-pura sakit. Sebab, salah satu ciri pengidapnya adalah memalsukan sebuah gejala atau keluhan penyakit. 

Dengan kata lain, pengidap sindrom ini akan berpura-pura sakit untuk mendapat simpati dan rasa kasihan dari orang lain. Biasanya orang dengan sindrom ini akan mengeluhkan sakit yang berbeda dan berubah-ubah. 

Mereka pun tak segan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan sekadar untuk menunjukkan bahwa ia memang sakit. 

Kadang-kadang, seorang pasien akan meyakinkan dokter bahwa mereka memerlukan prosedur pembedahan yang tidak perlu. Namun, biasanya ’penyakit’ itu akan kambuh pada waktu tertentu saja.

Pada tingkat yang lebih parah, pengidap sindrom ini bahkan dapat dengan sengaja melakukan hal yang dapat memicu gejala penyakit. Mereka mungkin menelan zat atau menyuntikkan diri dengan bahan kimia atau zat lain, atau melukai diri agar sakit. 

Sebab, sebenarnya, orang tersebut tahu dan sadar bahwa ia tidak mengalami sakit apa pun. Hingga saat ini, penyebab pasti dari sindrom Munchausen tidak diketahui. 

Namun, para peneliti percaya faktor psikologis berperan dalam perkembangan sindrom ini. Beberapa teori menunjukkan bahwa riwayat pelecehan atau penelantaran sebagai seorang anak, atau riwayat penyakit yang sering membutuhkan rawat inap, mungkin menjadi faktor yang terkait dengan perkembangan sindrom ini. 

Pemicu lain mungkin mengalami kematian orang yang dicintai di usia muda dan pengabaian oleh keluarga. 

Para peneliti juga mempelajari kemungkinan hubungan dengan gangguan kepribadian, yang umum terjadi pada individu-individu ini. Di sisi lain, penelitian juga tidak menunjukkan hubungan antara sindrom Munchausen dan genetika.

Ini beberapa faktor risiko yang dapat memicu sindrom Munchausen pada anak: 

1. Mengalami Trauma
Kondisi ini bisa terjadi akibat pengalaman yang menyebabkan trauma di masa kecil. Seperti misalnya pengabaian oleh orang tua, hingga perilaku lain yang menyebabkan anak merasa tidak nyaman. 

Alhasil, anak menjadi sering berpura-pura sakit. Tujuannya agar dirinya mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau rasa peduli dari orang lain.

2. Idap Penyakit Serius saat Kecil
Rawat inap berkepanjangan saat masa kecil membuat anak merasa diperhatikan oleh orang tuanya. Ketika anak mulai beranjak remaja, mereka mencoba untuk mencapai perasaan serupa dengan berpura-pura sakit. (tim redaksi)


#kesehatan
#sindrommunchausen
#anak-anak
#butuhperhatian
#gangguanjiwa
#tarikperhatian
#pengabaiankeluarga
#cariperhatian

Tidak ada komentar