Breaking News

Cadangan Devisa Pakistan Tergerus Pembelian Energi, Pemerintah Atur Mal Tutup Lebih Cepat

Mal di Pakistan. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Krisis energi menghantui sejumlah negara, termasuk Pakistan. Pemerintah Pakistan telah memerintahkan semua mal dan pasar ditutup pada pukul 20.30 waktu setempat, sebagai bagian dari rencana baru konservasi energi.

Melansir Reuters, Kamis (5/1/2023), Menteri Pertahanan Khawaja Asif membenarkan, negaranya tengah berjibaku melakukan penghematan energi di berbagai sektor. Sebab, lanjutnya, cadangan devisa negara tersebut hanya dapat menutupi biaya satu bulan impor, yang sebagian besar digunakan untuk membeli energi dari luar negeri. 

Bantuan pinjaman yang diharapkan datang dari Dana Moneter Internasional juga telah ditunda. Menhan Khawaja Asif mengatakan kepada pers bahwa langkah yang telah disetujui kabinet itu bertujuan untuk menghemat keuangan negara sebesar 62 miliar rupee Pakistan (sekitar Rp4,3 triliun). 

Langkah-langkah lainnya termasuk menutup aula pernikahan pada pukul 22.00 setiap hari. Perwakilan pengusaha telah meminta jam buka yang lebih panjang, kata dia, tetapi pemerintah memutuskan bahwa penutupan lebih awal itu diperlukan. 

Asif juga mengatakan bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif telah memerintahkan semua lembaga pemerintah untuk mengurangi penggunaan listrik sebanyak 30 persen. "Kami langsung menolak rencana ini," kata Mohammad Ishaq, selaku presiden Kamar Dagang dan Industri Sarhad, sebuah asosiasi pedagang di kota barat laut Peshawar, kepada Reuters. 

Menurutnya, bisnis sudah menghadapi masalah keamanan dan kekurangan energi, akan menolak upaya untuk menegakkannya. "Kebijakan ini akan membunuh saya dan bisnis, yang dimulai setelah jam 8 malam ketika anak-anak datang ke toko saya bersama orang tua mereka," kata Muhammad Raza, seorang pemilik toko mainan di kota timur Lahore. 

Pasar di kota-kota besar Pakistan secara tradisional tetap buka hingga larut malam, dalam banyak kasus hingga pukul 23.00, karena pembeli biasanya keluar di malam hari. Di Karachi, pusat komersial Pakistan, presiden Asosiasi Pedagang Pakistan, Mohammad Ajmal Baloch, juga mengatakan pedagang lokal enggan mempersingkat jam buka. 

Pebisnis khawatir pembatasan hemat energi baru akan semakin memperlambat ekonomi, yang telah terbebani setelah banjir bersejarah pada Agustus 2022, melonjaknya biaya energi dan kenaikan suku bunga bank sentral untuk menjinakkan inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Apalagi, Bank sentral telah memangkas separuh proyeksi pertumbuhannya menjadi 2 persen untuk tahun keuangan 2023. 

Pakistan juga tengah berjuang untuk mengatasi kekhawatiran gagal bayar, dengan pembiayaan Dana Moneter Internasional senilai USD1,1 miliar masih menunggu persetujuan. (tim redaksi)

#hematenergi
#pakistan
#jamoperasimaldipangkas
#penghematanenergi
#kekhawatirangagalbayar
#cadangandevisamenipis
#IMF

Tidak ada komentar