Breaking News

Berhubungan Seks Usia Dini, Berisiko Hamil dan Kena Kanker Serviks hingga Berpotensi Lahirkan Bayi Prematur

Hamil di usia dini. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Usia ideal menikah, menurut versi BKKBN adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 untuk laki-laki. Menikah diusia tersebut diklaim mampu mengurangi sekaligus mencegah pernikahan dini yang berdampak buruk pada kesehatan mental pasangan suami istri.

Pertama, di bawah usia 21 tahun, dinilai psikologis belum stabil dan masih labil. Sehingga memengaruhi pola pengasuhan anak dikemudian hari.

Kedua, kematangan usia dan mental bisa berdampak pada gizi serta kesehatan anak. Pernikahan dini bisa menempatkan remaja putri dalam risiko kesehatan atas kehamilan dini.

Adanya risiko kanker leher rahim atau kanker serviks pada remaja di bawah 20 tahun yang melakukan hubungan seksual. Dari sisi kesehatan, pakar seks dr Boyke Dian Nugraha mengatakan, kehamilan di usia belia dipastikan penuh risiko. 

Dengan kondisi organ yang belum matang dan sempurna, melahirkan dengan proses normal akan sulit. "Proses persalinan normal akan sulit. Jadi harus di-caesar karena panggul sempit, belum berkembang dengan sempurna," ungkapnya, dikutip Sabtu (14/1/2023).

Selain kondisi fisik yang belum mumpuni untuk melahirkan, hamil di usia dini juga dapat menimbulkan beragam risiko baik pada ibu maupun janinnya. "Banyak risikonya, anaknya kemungkinan prematur. Ibu juga bisa mengalami gangguan mules, tekanan darah tinggi, dan kejang (eklamsi)," imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menyarankan adanya pendampingan psikologis bagi ibu dan anak. Sebab jika tidak ditangani, pertumbuhan ibu yang masih belia dan anak juga akan terganggu.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menekankan, pernikahan dini tentunya akan berdampak terhadap kesiapan remaja, baik secara mental maupun fisik. "Organ reproduksi mungkin sudah siap. Tapi secara mental untuk kehamilan remaja SMP dan SMA belum siap," yakinnya.

Persalinan pada ibu di bawah usia 20 tahun memiliki kontribusi dalam tingginya angka kematian neonatal, bayi, dan balita. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan, bahwa angka kematian neonatal, postneonatal, bayi dan balita pada ibu yang berusia kurang dari 20 tahun lebih tinggi dibandingkan pada ibu usia 20-39 tahun.

Pernikahan usia muda berisiko karena belum cukupnya kesiapan dari aspek kesehatan, mental emosional, pendidikan, sosial ekonomi, dan reproduksi. Pendewasaan usia juga berkaitan dengan pengendalian kelahiran karena lamanya masa subur perempuan terkait dengan banyaknya anak yang akan dilahirkan.

Hal ini diakibatkan oleh pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai. Hasil SDKI 2012 menunjukan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi belum memadai yang dapat dilihat dengan hanya 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki usia 15-19 tahun mengetahui bahwa perempuan dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual. (tim redaksi)

#pernikahandini
#pernikahanusiaanak
#berisikokankerserviks
#berisikoanakprematur
#psikologisbelumsiap
#organreproduksibelummatang
#risikokehamilandini

Tidak ada komentar