Breaking News

Belajar dari Penculikan Malika, Edukasi Anak Bagaimana Harus Bersikap terhadap "Orang Asing"

Penculikan anak. Foto: Ilustrasi/ Net

WELFARE.id-Kasus penculikan anak di Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Malika, menjadikan pelajaran berharga. Tak hanya untuk kedua orang tuanya, tapi juga untuk para orang tua semuanya.

Anak harus mendapatkan edukasi bagaimana menghadapi situasi bertemu dengan orang yang tak dikenal. Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, memberikan sejumlah tips kepada para orang tua agar anak-anak terhindar dari tindak kejahatan penculikan anak.

"Ajari anak sejak dini untuk merespons situasi yang membahayakan. Misalnya harus berteriak minta tolong kepada orang lain ketika ada orang yang tidak dia kenal memaksanya untuk ikut," jelasnya kepada wartawan, Rabu (4/1/2023).

Lalu, lanjutnya, mengajari anak untuk waspada kepada orang yang baru dikenal dengan cara memberi tahu sang anak tidak boleh mudah percaya kepada orang baru yang dilihat. "Orang tua juga harus mengajarkan kepada si anak untuk bisa menolak pemberian dari orang asing. Ini sangat penting terutama ketika tidak ada orang tua di sampingnya,” imbaunya.

Cara penyampaian orang tua juga harus simpel, disesuaikan dengan usia anak. Gunakan bahasa yang sederhana, sehingga anak memahami.

"Pastikan anak di samping orang tua. Tekankan pada anak untuk selalu berada di samping orang tua jika bepergian di tempat yang ramai,” imbuhnya.


Jika anak masih usia SD dan orang tua tidak dapat mengantar jemput, sambungnya, maka sebaiknya memiliki kode atau password dengan anak yang harus diucapkan oleh si penjemput. "Jika passwordnya tepat, maka itu adalah benar penjemput yang dipesan orang tuanya. Misalnya password nama hewan yang tiap hari diganti,” tuturnya.

Psikolog Rose Mini Agoes Salim menambahkan, orang tua harus mengajari anak untuk membiasakan diri meminta izin atau memberitahu orang tua sebelum melakukan sesuatu, termasuk bila hendak pergi bersama seseorang. 

"Kita bilang (ke anak) kalau melakukan apa-apa harus minta izin dulu, kalau mau pergi minta izin ke orang tua. Izin mau kemana, mau melakukan apa, sama siapa, bahkan mau memasukkan sesuatu ke dalam mulut atau apa tidak boleh semaunya, harus izin ke orang tua," kata Rose Mini di Jakarta.

Hal itu menjadi langkah mencegah terjadinya penculikan anak maupun kejahatan terhadap anak. Menurut Rose Mini, edukasi ini dapat ditanamkan kepada anak sejak usia dini sehingga mereka mengetahui aturan jika hendak melakukan sesuatu, harus memberitahukan kepada orang tua lebih dulu.

Ketua Program Studi Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu juga menyarankan orang tua untuk mengajarkan anak kemampuan bersosialisasi. Untuk mengembangkan kesehatan mental, fisik, dan emosionalnya.

Namun, orangtua juga tetap tak boleh lengah. Pengawasan harus terus dilakukan karena fase awal masa kanak-kanak antara usia 2-6 tahun.

Menurut Maryam B Gainau dalam buku ‘Psikologi Anak’, usia 2-6 tahun merupakan fase rentan. "Mulai rentan terjadi bahaya fisik (penyakit atau kecelakaan) maupun bahaya psikologis (pengaruh sosial dari lingkungan sekitar),” tulisnya dalam buku itu.

Anak pada usia tersebut cenderung lebih berani dan senang mencoba hal-hal baru. Mulai belajar melakukan hubungan sosial dan bergaul dengan orang-orang di luar lingkungan rumah. 

Mereka belajar menyesuaikan diri dan bekerja sama dalam kegiatan bermain. Mengulang-ulang suatu kegiatan, tindakan, atau ucapan.

Begitu pula pada fase akhir kanak-kanak dalam rentang usia 6-12 tahun. Maryam menyebut itu sebagai fase tidak rapi, masa menyulitkan, atau masa bertengkar. (tim redaksi)

#penculikananak
#cegahpenculikananak
#edukasianak
#tipsanakterhindardaripenculikan
#polaasuh
#orangtua
#rentangusiaanak
#psikologianak

Tidak ada komentar